Mohon tunggu...
Yoga Prasetyo
Yoga Prasetyo Mohon Tunggu...

Praktisi industri keuangan, khususnya keuangan mikro, asuransi mikro dan ekuiti mikro. Memiliki minat yang luas pada berbagai topik diskusi. Berkesempatan berbicara pada beberapa seminar dan forum di dalam dan luar negeri.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Generation Gap dan Ekonomi Anak Muda

4 Januari 2017   21:45 Diperbarui: 14 Januari 2018   20:58 0 0 0 Mohon Tunggu...
Generation Gap dan Ekonomi Anak Muda
Image: Chaitanya Dinesh Surpur, taken from forbesindia.com

"Orang lain mungkin menyebutnya ekonomi kreatif. Saya menyebutnya ekonomi anak muda. Sebuah era baru ekonomi, yang bagi orang tua seperti kita, semakin lama akan semakin berjarak untuk bisa dengan cepat memahaminya"

Beberapa hari lalu, anak bungsu saya menunjukkan sebuah video YouTube, entah apa judulnya, tapi isinya mengenai anak muda kelahiran 1991, namanya Muhammad Iman Usman. Awalnya saya tidak terlalu antusias dengan video itu, tetapi setelah memperhatikan lebih seksama, ternyata ada yang istimewa dengan tokohnya. Ya, Iman ini memang luar biasa. Saya yang tidak kenal siapa dia, mendadak ikut bangga melihat catatan reputasinya. Mulai dari kiprahnya sebagai pembicara di forum PBB pada usia 19 tahun sampai kemudian menjadi pendiri dan CEO ruangguru.com, berikut seabrek penghargaan dari dalam dan luar negeri yang cukup bergengsi. 

Ternyata, di antara skeptisme saya melihat begitu banyaknya anak usia belasan tahun yang tidak jelas kegiatannya, nongkrong dengan motor cicilan orang tuanya di depan ruko kosong dan kadang terlihat menginap sampai pagi, atau sekelompok anak muda yang tawuran, terlibat narkoba dan semua hal negatif yang membuat setiap orang tua memukul-mukul daun meja sambil bergumam "pararun-pararun..." yang kurang lebih artinya amit-amit; ternyata Indonesia masih memiliki anak-anak muda dengan talenta dan prestasi luar biasa.

Iman Usman, Joey Alexander, Elang Gumilang, Rio Haryanto, hanyalah beberapa nama yang bisa saya sebut seingat saja. Sudah pasti, talenta-talenta lain tak terhitung jumlahnya. Dalam hubungannya dengan pekerjaan yang saya geluti, keuangan dan asuransi mikro, secara pribadi saya mengenal Leonardo Kamilius dan Andi Taufan Garuda Putra. Keduanya adalah sosok social-entrepreneur muda yang cukup dikenal dan dihargai dalam dunia profesional mereka. Dari pengamatan sepintas, saya melihat ada satu kesamaan yang mereka miliki, yaitu sejak usia dini mereka sudah bisa mengidentifikasi dengan jelas apa passion mereka dan dari situlah mereka sengaja atau tidak sengaja menemukan purpose dalam dirinya. 

Bicara soal anak muda, saya agaknya sedikit melupakan apa yang saya miliki di rumah. Tiga anak saya sudah menginjak remaja. Mereka, seperti teman sebayanya, adalah anak-anak muda yang hidup dalam dunia di mana jarak antara New York (atau tempat manapun di dunia) dengan Cikupa (desa tempat saya tinggal), hanyalah sejauh tangan kita mengetik keyboard komputer atau menyentuh layar smartphone. Sesuatu yang mustahil saya bayangkan terjadi pada masa remaja saya. Ya, dunia mereka adalah dunia yang makin lama makin asing bagi orang tua seperti saya dan Anda. Persis seperti orang tua kita dulu yang merasa asing ketika kita susah disuruh belajar karena cekikikan membaca novel Lupus, atau serial Kho Ping Hoo, atau pulang malam karena main sepeda BMX dan nonton kontes breakdance. Dan masih banyak lagi. Tapi, itulah yang namanya generation gap. Setiap penggal waktu pada satu generasi adalah dunia yang total berbeda dari penggalan waktu generasi lainnya.

Kembali kepada anak-anak saya tadi, saya ingin bercerita sedikit mengenai si sulung. Tidak, dia tidak atau belum sehebat nama anak-anak muda yang saya sebut di awal tulisan ini. Tapi bagi saya, apa yang telah dia capai adalah segalanya. Terutama kalau ingat bahwa ketika seusia dia, apa yang saya capai masih jauh ke mana-mana dibandingkan dia.

Sedikit flashback, saya ingat ketika duduk di bangku SMP dia sering memakai komputer saya sampai larut malam dan beberapa kali sempat saya tegur. Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah masa-masa awal dia mulai menulis fiksi remaja pada sebuah media penerbitan online bernama Wattpad. Pernah suatu kali dia marah besar, menangis dan membuat saya masih merasa menyesal sampai hari ini. Pasalnya, sebuah plot cerita yang dia tulis puluhan halaman hilang begitu saja ketika komputer itu saya set ulang tanpa konfirmasi. Hebatnya, anak saya tidak patah semangat. Dia menulis cerita lain langsung pada cloud storage Wattpad, yang kemudian saya yakini itu adalah fiksi remaja Accidentally on Purpose (AOP). Sampai tulisan ini saya ketik, AOP sudah dibaca 21.3 juta orang, mendapatkan lebih dari 900 ribu komentar pada setiap halamannya dan menduduki rangking 7 dunia untuk kategori teen fiction. Selain AOP, anak saya yang menggunakan pseudonym Bree Stonefield juga menulis lima fiksi lain yang kesemuanya berbahasa Inggris. Sedihnya, sampai hari ini belum satu pun dari enam tulisan dia itu, saya berhasil membacanya sampai tuntas. Masalahnya sepele. Meskipun sehari-hari saya cukup akrab dengan korespondensi Bahasa Inggris di kantor, tapi membaca tulisan anak saya, mendadak saya seperti bego. Bolak-balik harus buka Google Translate dan masih tetap tidak paham juga.

Suatu ketika saya berkunjung ke sebuah toko buku ternama. Pada beberapa rak, saya lihat novel-novel remaja dipajang. Saya langsung terpikir untuk meminta anak saya menghubungi penerbit, atau kalau perlu saya sendiri yang mencarikan penerbit agar AOP bisa dicetak dalam bentuk buku. Bayangan saya, nantinya bisa dipajang di toko buku ternama itu karena saya lihat di sana ada belasan cerita remaja yang di sampulnya tertulis label promosi: "Telah dibaca 1 juta kali di Wattpad..." Hampir seperti refleks, saya gunakan telepon genggam untuk memotret sampul buku itu kemudian saya kirimkan kepada anak saya, dengan pesan: "Nih... yang baru dibaca 1 juta kali saja udah bisa diterbitkan di sini. Masak buku kamu ngga bisa!" Dia hanya menjawab singkat: "Buku Kaka itu Bahasa Inggris. Bukan underestimate. Tapi kalau udah diterbitkan, ke mana mau jual? siapa yang mau baca? berapa orang yang mau beli?" 

Oh, gitu! Saya kehabisan kata-kata untuk berdebat. Tapi kemudian saya sadari, ini adalah contoh yang sangat khas dari sebuah generation gap. Saya melihat dengan kacamata saya dan merasa benar dengan apa yang saya pikirkan, sementara anak saya punya pertimbangan sendiri terhadap apa yang dia rasakan dan apa yang menurut dia benar untuk dilakukan. Dia tahu market, dia tahu siapa pembacanya dan bagaimana memperlakukan mereka.

Benar saja. Hanya selang beberapa bulan sejak perdebatan itu, anak saya mem-forward sebuah email dari admin Wattpad. Isinya adalah, Wattpad memberikan penawaran untuk memasang iklan pada tulisan anak saya itu atau dengan kata lain melakukan monetisasi atas tulisan yang selama ini hanya merupakan hobi. Konsepnya kurang lebih samalah dengan pemasangan iklan pada video buatan Youtuber. Semakin banyak traffic akan semakin tinggi peluang untuk mendapatkan uang. Lalu, tanpa terlalu banyak pertimbangan karena memang bagi anak saya nothing to loose, dia menerima tawaran itu. Rupanya, skema monetisasi dengan model seperti ini cukup fair. Anak saya mendapat laporan jumlah hit dan juga uang yang sudah terkumpul. Hanya dalam dua bulan, saya mendengar dia berteriak girang di ujung telepon sana bahwa tulisannya itu sudah menghasilkan beberapa ratus dollar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x