Mohon tunggu...
Via
Via Mohon Tunggu... Via

Tertarik dengan isu MCH

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Being Trapped in a Bowl

6 Maret 2021   13:10 Diperbarui: 6 Maret 2021   13:24 15 1 0 Mohon Tunggu...

Dua tahun terakhir, saya memutuskan untuk kembali ke rumah ( entah untuk sementara atau seterusnya belum saya putuskan) untuk mencari suasana baru. Suasana hidup di dunia dan masyarakat nyata, di mana saya harus mem'bargain' kepentingan saya dengan kepentingan orang-orang di sekitar dan membuka kesempatan saya untuk menjalani kehidupan di mana saya harus berkonsultasi sebelum melakukan sesuatu. 

Bukan apa-apa, setelah hampir 15 tahun merantau ke mana-mana, ini mungkin bagian yang hilang dari diri saya. Merantau dan tinggal di ruang segi empat alias kamar kos, membuat saya harus berpikir sendiri, memutuskan sesuatu sendiri, susah sendiri, senang sendiri, dan saya rasa tingkat kemandirian saya sangat tinggi. Itu tergambar dari beberapa hal. 

Saya jarang minta tolong kepada orang lain. Bukan karena sungkan, tetapi jika itu masih bisa saya lakukan, akan saya lakukan. Yang kedua adalah tidak perlu waktu yang lama buat saya memutuskan sesuatu dan saya pun hampir tidak pernah meminta pertimbangan orang-orang dalam memutuskan sesuatu, mulai dari hal yang kecil, saya mau ke mana hari itu, makan apa, membeli baju yang mana, termasuk juga akan bekerja di mana dan akan resign saat kapan. 

Yang paling terasa adalah saya hanya memiliki beberapa teman dekat, teman kosan dan satu atau dua teman bercerita. Adalah aneh buat saya jika saat menghadiri suatu acara, harus berkumpul di suatu tempat dan berangkat bersama-sama lalu ke lokasi acara. Kenapa tidak langsung ke lokasi acara?. 

Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Ada, sedikit banyak tulisan ini adalah curhatan saya yang dalam dua tahun terakhir ini kembali dari tanah perantauan ke rumah dan tinggal bersama orang tua. 

Berat rasanya di awal-awal, saat harus berbagi ruangan, tidak bisa bebas bangun pagi seenaknya, atau tidur malam seenaknya. Kemudian, tidak bisa menghalangi kunjungan-kunjungan keluarga besar dan segala perbincangannya yang bagi saya mengganggu dan terkadang aneh dan buat saya mengandung terlalu banyak drama seperti menonton sinetron. 

Sebagai contoh, ada sepupu saya yang diterima bekerja di kabupaten lain, kemudian dirinya tidak diizinkan oleh ayahnya karena sebagai anak perempuan satu-satunya, ayahnya tidak bisa jauh dari dirinya. Kemudian, yang berstatus ASN lebih tinggi dan " dikeramatkan" derajatnya dari pada yang berstatus karyawan swasta. Kemudian pertanyaan-pertanyaan kapan menikah yang diajukan oleh para tante yang jelas-jelas rumah tangganya bermasalah. Belum lagi ketika berjalan kaki dari rumah ke kantor yang dianggap tidak biasa karena di lingkungan tempat saya tinggal, ke kiospun mesti naik motor. "Lihat bagaimana kepemilikan moda transportasi telah membuat kelas-kelas".  Saya rindu berada di tempat dengan "transportasi alami" jalan kaki adalah hal yang lumrah. Sesuatu yang jujur saya belum mengerti. Adalah seorang sepupu yang cerdas dan fokus menurutku, dia belajar dengan rajin dan tekun, tetapi dianggap aneh. 

Dan "kepiting dalam mangkok" adalah mentalitas penghambat kemajuan seseorang di sini, mungkin. Sedikit ruang untuk menjadi berbeda, ketika satu ingin beranjak keluar dalam mangkok "aka" menjadi berbeda, yang lain akan berusaha menarik kembali ke dalam. 

Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kebersamaan bersama keluarga adalah hal yang juga perlu, dan dapat menjadi support system. hanya terus terang mungkin kebutuhan support saya berbeda dan mungkin tidak dapat didapatkan di lingkungan yang seperti ini.  Atau mungkin saya perlu menjalani waktu lebih lama untuk paham, ada sisi lainnya yang positif yang berubah dengan berada di lingkungan seperti ini. 

VIDEO PILIHAN