Mohon tunggu...
Edit Oktavia Manuama
Edit Oktavia Manuama Mohon Tunggu... Via

Tertarik dengan isu MCH

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Mama Demina Uaga

14 Februari 2020   20:41 Diperbarui: 15 Februari 2020   08:49 38 0 1 Mohon Tunggu...

Tulisan ini dibuat untuk mengenang kembali masa-masa saya bekerja bersama Wahana Visi Indonesia untuk program kesehatan ibu dan anak bernama MNCHN atau yang dalam bahasa lokal HUMI ELEGE HANO DOGOSAK. Ada banyak cerita yang mungkin bisa dibagikan tetapi kali ini saya ingin memulai dari dia, sosok sederhana, mama kader kesayangan saya, Mama Demina Uaga.

Mama Demina tinggal di desa Onggabaga, sebuah desa kecil di Kabupaten Jayawijaya, wilayah pegunungan tengah Papua. Seperti desa-desa lainnya di pegunungan Tengah, desa ini sangat indah dengan bentang alam perbukitan dan lembah dengan rumput hijau dan langitnya yang biru. Di pagi hari, kita bisa melihat awan berarak di bawah kita. Pemukiman warga pun sangat rapi. Setiap klan memiliki osili ( kompleks rumah dengan 1 honai adat dan beberapa honai kecil yang mengelilinginya, dan 1 dapur ( yang berbentuk segiempat). Setiap osili dikelilingi dengan pagar yang dibuat dari papan kayu. 

Mama Demina sebenarnya adalah penduduk desa Koragi, desa tetangga yang ditempuh dengan jalan kaki selama 45 menit dari Onggabaga untuk orang yang tidak terbiasa berjalan jauh seperti saya. Mama Demina, pindah ke desa Onggabaga karena suaminya adalah orang desa Onggabaga.     

Mama Demina adalah salah satu kader yang dilatih untuk melayani pengobatan untuk balita sakit. Kekurangan tenaga kesehatan di hampir semua wilayah di pegunungan tengah Papua membuat Pemerintah setempat melatih kader-kader di masyarakat terpilih untuk melakukan pengobatan terbatas kepada masyarakat. 

Mama Demina melayani balita sakit dan kadang orang dewasa ( karena sebelumnya beliau telah dilatih oleh misionaris) di desa Onggabaga dan Koragi dan beberapa desa lainnya. 

Mama Demina, bukan kader biasa, suatu waktu di sekitar tahun 2012, saat kehabisan stok obat, mama Demina menjual sayur dari kebunnya, untuk membeli obat di salah satu apotik di Wamena, untuk memenuhi kebutuhan obat untuk pengobatan balita sakit. 

Persoalan rantai suplai obat memang salah satu masalah besar di Wamena ketika itu, sehingga obat-obat di Puskesmas sempat kosong padahal permintaan obat ( antibiotik) untuk pengobatan masyarakat terutama untuk balita lumayan tinggi. Perlu diingat bahwa pneumonia, adalah penyebab kematian balita terbesar di dunia, dan Pegunungan Tengah terutama.

Udara yang dingin membuat masyarakat perlu menyalakan api di malam hari. Dengan bentuk rumah bulat dan ventilasi yang tidak adekuat, ISPA terkhusus pada BALITA adalah persoalan umum yang sering ditemui. 

ISPA yang dibiarkan berlama-lama ditambah lagi dengan susahnya akses ke air bersih, menjadi cikal bakal infeksi bakteri menjalar hingga ke saluran pernapasan yang lebih di bawah sehingga menjadi pneumonia. Cirinya adalah batuk pilek, panas, dengan napas cepat, dan kadang jika sudah parah, terlihat kesulitan bernapas dengan tanda tarikan dinding dada ke dalam. Beberapa kali mama Demina dan kader lainnya merujuk bayi dan balita yang mengalami napas cepat dan kesulitan bernapas ke Puskesmas. 

Saya meninggalkan Papua di tahun 2015, semoga Mama Demina sehat2 saja dan kondisi di sana sudah berubah. Semoga sudah ada bidan desa, dokter di Puskesmas, Kepala Puskesmas dengan kepemimpinan yang lebih baik, rantai suplai obat sudah lebih baik, dan perbaikan infrastruktur Puskesmas  dan Poskesdes Onggabaga, Koragi, Iriliga dan desa-desa lainnya.

^__^

Kupang, 15 Februari 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x