Mohon tunggu...
editan to
editan to Mohon Tunggu... menulis sebagai kebiasaan

Indonesia jaya

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Benarkah Jusuf Kalla di Balik Penangkapan Menteri KKP, Adu Prabowo Vs Jokowi?

5 Desember 2020   19:14 Diperbarui: 5 Desember 2020   19:21 530 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Benarkah Jusuf Kalla di Balik Penangkapan Menteri KKP, Adu Prabowo Vs Jokowi?
Jusuf Kalla (Foto: Merdeka/Instagram @jusufkalla)

MEDIA hari ini riuh dengan rekaman calon Walikota Makassar Danny Pomanto yang akan beradu dengan keponakan Jusuf Kalla, Munafri Arifuddin (Appi). Bukan hanya Pilwalkot yang heboh tetapi pembicaraan Danny yang bocor dalam sebuah rekaman memancing beragam tafsiran.

Klaim Danny bahwa pembicaraan itu hanya sekadar obrolan pribadi. Ia pun merasa aneh ada yang merekam dan menyebarkannya. Tentu, analisisnya soal penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh KPK  tersebut, akan berdampak dalam Pilwalkot.

Tidak hanya itu, juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, sudah menyatakan omongan Danny mengandung fitnah. Tidak hanya merendahkan JK tetapi juga Anies Baswedan, dan KPK.

Artinya, persoalan itu bisa mengarah ke jalur hukum sebagai pencemaran nama baik dan penyebaran kabar bohong. Kemungkinannya, tidak hanya akan menyeret Danny tetapi juga perekam dan penyebar rekaman tersebut.

Sejauh ini, apa yang disampaikan Danny sekadar menganalisis. Ia tidak menyertakan tentang fakta yang ia miliki terhadap kesimpulan-kesimpulan dari analisisnya tersebut.  Apalagi,  adanya peran  JK  di balik penangkapan Edhy hanya karena penangkapan itu  dikomandoi Novel Baswedan. Meski semua tahu Novel dan Anies Baswedan adalah sepupu dari ayah mereka.

Pernyataan yang muncul dalam rekaman tersebut adalah dengan ditangkapnya Edhy maka akan berkembang dugaan Jokowi yang menyuruh operasi penangkapan sehingga menimbulkan kerenggangan antara Prabowo dan Jokowi.

Disebutkan dalam rekaman, penangkapan itu merupakan upaya pengalihan isu Rizieq Shihab. Dengan demikian kembali yang diuntungkan adalah JK. Prabowo akan mengalami penurunan dukungan sebagai calon presiden karena penangkapan Edhy tersebut.

Suara dalam rekaman itu juga menyebutkan jika sebelumnya JK yang dihantam kini sudah beralih Prabowo. Disebutkan kemudian JK dan Anies yang diuntungkan. Bahkan, disebutkan Chaplin untung dan jago dalam permainan ini.

Namun, dalam rekaman itu tidak disebutkan siapa Chaplin itu. Apakah Chaplin yang sama disampaikan Ferdinand Hutahean dan Rudy S Kamri?


Sebenarnya analisis yang diakui sebagai suara Donny tersebut sebagai hal biasa. Konspirasi berdasar ilmu otak-atik gathuk tersebut banyak menjadi pembicaraan di kedai kopi dan warung-warung.

Pasalnya, pamor Anies memang lagi jeblok pasca ulah Rizieq membuat kerumunan. Simpati kepada Anies yang tegas bahkan menjadi simbol perlawanan terhadap Pemerintah Pusat dalam upaya mengerem penularan Covid-19 sejak awal sudah antiklimaks.

Anies yang sowan ke Rizieq dan fenomena kerumunan membuat Anies dalam posisi minim pamor. Apalagi adanya rumor campur tangan chaplin dalam pemulangan Rizieq. Masyarakat pun menduga pasti akan ada serangan balik agar Anies kembali naik daun.

Hashim Djoyohadikusumo pun menganalisis kemungkinan adanya serangan politik terhadap Gerindra dan Prabowo dalam penangkapan Edhy Prabowo. Artinya, terlepas dari buruknya kebijakan ekspor benur, ada tangan politik yang ikut bermain. Tujuannya adalah menjatuhkan Prabowo.

Bisa jadi, Gerindra kemudian membuat premis-premis atas penangkapan orang dekat mantan Pangkostrad itu. Bisa jadi kubu pendukung Jokowi yang tidak suka masuknya Gerindra di Kabinet. Sebagai semula kubu lawan tak berkeringat dan berdarah-darah kemudian mendapat kursi nyaman membuat iri hati dan sakit hati.

Bisa juga berkembang asumsi bahwa penangkapan itu atas instruksi Istana untuk mulai menjatuhkan Gerindra. Bagaimanapun Jokowi adalah petugas partai yang mempunyai amanat untuk mengamankan calon PDIP dalam Pilpres 2024.

Setelah Anies dibuat tersungkur dalam penanganan kerumunan yang membuat elektabilitasnya kemungkinan terjun bebas, ancaman PDIP selanjutnya adalah Gerindra. Penangkapan Edhy merupakan upaya menggembosi partai yang pada Pemilu 2019 lalu mampu bertengger di posisi kedua dalam perolehan suara meski di posisi ketiga jumlah kursi DPR.

Namun, asumsi-asumsi di atas hanyalah omongan di warungan. Muncul dari orang yang hanya menerapkan ilmu otak atik gathuk. Artinya, tidak perlu digubris karena bukan berdasar fakta-fakta empiris. Walaupun bisa terjadi.

Dalam kehidupan kemasyarakatan apa yang dilontarkan Danny Pomanto adalah lumrah-lumrah saja. Justru yang membuat heboh jika omongan pribadi itu diangkat ke jalur hukum. Tentu hal itu akan menghambat demokrasi yang memberikan keleluasaan orang untuk melakukan analisis dan pendapat.

Justru yang membahayakan adalah orang yang menyebarkan rekaman tersebut. Jika itu terjadi dalam obrolan kemudian direkam dan disiarkan tanpa seizin yang bersangkutan tentu perekam dan penyebar itu yang layak dijemput polisi.

Jika Donny yang dipersoalkan. Orang kemudian takut bicara politik. Warga negara kemudian menjauhi kekritisan terhadap fenomena atau peristiwa politik. Tentunya pemerintah tidak menginginkan ketumpulan masyarakat.

Berikut transkrip dari rekaman suara mirip Danny Pomanto yang beredar di media sosial dan media online:

"Makanya kalau urusannya Edhy Prabowo ini, kalau Novel (Baswedan) yang tangkap, itu berarti JK (Jusuf Kalla). JK-Anies tuh. Maksudnya kontrolnya di JK. Artinya begini, dia sudah menyerang Prabowo. Yang kedua, nanti seolah-olah Pak Jokowi yang suruh, Prabowo dan Jokowi baku tabrak. Ini kan politik.

Kemudian mengalihkan (isu) Habib Rizieq. Ini mau digeser JK dan Habib Rizieq. JK yang main, karena JK yang paling diuntungkan dengan tertangkapnya Edhy Prabowo. Coba siapa yang paling diuntungkan. JK lagi dihantam, beralih ke Edhy Prabowo kan.

Kedua, Prabowo yang turun karena dianggap bahwa korupsi pale di sini, calon presiden to. Berarti Anies dan JK yang diuntungkan. Apalagi, mengkhianati Jokowi. jadi yang paling untung ini JK. Chaplin yang untung. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hafal apa yang dia mau main ini.

Apakah JK akan memenjarakan Danny, rival keponakannya dalam Pilwalkot Makassar, karena omongan di atas? Semoga tidak terjadi.

VIDEO PILIHAN