Mohon tunggu...
Jan Bestari
Jan Bestari Mohon Tunggu... Lainnya - Merayakan setiap langkah perjalanan

Refleksi kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Catatan Perjalanan Sang Kapten (10.Dilema Seorang Nyai)

26 Januari 2022   17:35 Diperbarui: 26 Januari 2022   17:45 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi diolah sendiri dengan pictsart app

Sampai pada suatu waktu darahku terasa membeku saat membaca sebuah surat yang tercecer di lantai ruang tengah disuatu sore. Kecemburuanku kembali menyeruak bermula dari melihat sepucuk surat tersebut.

Sayangku Mayang...

Tetaplah menjadi orang yang selalu kurindukan. Engkau juga kuharapkan akan selalu merindukan kedatanganku. Tidak mudah untuk kita bertemu saat ini. Tugas-tugasku dikantor dagang Batavia memaksaku harus bertemu banyak orang dari pulau-pulau lain Hindia Belanda bahkan sampai larut malam.

Hal ini dikarenakan pekerjaan sebagai penterjemah kerajaan dan dokumen-dokumen penting terkait pemerintahan Inggris di Hindia Belanda. Selain itu aku juga semakin sering menghadiri jamuan-jamuan dari beberapa pertemuan-pertemuan pejabat lokal Hindia Belanda dan Inggris sebelum urusannya dibawa ke Tuan Raffles di Buitenzorg.

Kuharapkan engkau tetap bersama Tuan Stewart. Akhir-akhir ini beliau terlihat kelelahan karena masih mempersiapan rencana misi ke Borneo Barat. Aku sendiri tidak tahu akan diikutkan atau tidak. Tetapi melihat ketersediaan tim penterjemah yang ada saat ini sepertinya aku akan ada dalam misi itu. Aku akan sangat diperlukan saat di kerajaan Sambas Darussalam. Pasti akan diperlukan seseorang yang mahir berbahasa Melayu untuk mengadakan komunikasi ditempat tujuan nantinya.

Aku sangat berharap yang kita bisa bertemu sebelum kepergianku ke Borneo. Aku tahu ini waktu yang juga sulit buatmu. Tuan Stewart perlu pelayanan lebih baik lagi untuk memulihkan kondisinya sebelum hari keberangkatannya. Aku ingin menemuimu ditempat biasanya kita bertemu.

Batavia, Arthur yang selalu menyanjungmu

Sepucuk surat untuk Mayang dari Arthur telah memberikan informasi kepadaku untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi antara Mayang dan Arthur. Kedekatan mereka selama ini sebenarnya terlihat biasa saja, tanpa aku curiga sedikitpun ada asmara disana. Merekapun sepertinya hanya bekerja melaksanakan tugas sepenuh hati, untuk dapat melayani segala keperluanku dengan sebaik-baiknya.

Perempuan berlesung pipit, apa adanya, dan mengabdi tanpa batas telah membuatku serta mungkin Arthur untuk dapat memiliki Mayang seutuhnya. Arthur seorang calon perwira tinggi kerajaan Inggris dimasa depan, mitraku dalam melaksanakan beberapa tugas harianku di Batavia. Terutama terkait penterjemahan bahasa Melayu. Arthur juga kurencanakan akan masuk dalam tim untuk merealisasikan rencana-rencana pelayaranku dalam waktu dekat ini.

Keberadaan Mayang untuk bekerja dirumahku adalah juga hasil kepiawaian Arthur dalam berkomunikasi, baik dengan sesama warga Eropa yang ada di Batavia dan juga kefasihannya bertutur Melayu dengan warga pribumi secara langsung. Sehingga bulan pertama kedatanganku di Batavia dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala. Arthur memastikan aku dapat tinggal dirumah dengan nyaman bersama seorang pembantu rumah terpilih yang dapat ditemukannya. Aku tidak akan melupakan jasa-jasanya .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun