Mohon tunggu...
Edi Ramawijaya Putra
Edi Ramawijaya Putra Mohon Tunggu... Dosen

Pendidik, Penulis, Trainer dan Pembicara Dengan Latar Belakang Linguistik Terapan Bahasa Inggris (TESOL) Bidang Kajian Sosiolinguistics dan Language Pedagogy. Instagram: @edi_ramawijayaputra

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Buddha dalam Lingkaran Multilingualism

27 Mei 2021   10:59 Diperbarui: 27 Mei 2021   11:10 139 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Buddha dalam Lingkaran Multilingualism
Sumber: dokumen pribadi

Selama 45 tahun membabarkan ajaran-Nya Buddha bertemu, berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai manusia yang berasal dari berbagai komunitas, suku, adat kerajaan dan afiliasi berbahasa. Oleh karena itu, sangat tidak beralasan jika mengatakan Buddha adalah seorang monolingualist (berkemampuan berbicara hanya satu bahasa saja). Terlebih tidak ada satupun sumber dalam kanon Pali yang menyebutkan dengan eksplisit bahwa Buddha hanya berbicara menggunakan satu bahasa saja.
.
.
Di luar konteks Buddha sebagai seorang tantidhara (penerus tradisi Samasambuddha sebelumnya) yang memiliki kemampuan berbahasa/berkomunikasi dengan bahasa apapun (mla-bhs) termasuk non-manusia (dewa, peta, asura, binatang), Buddha dengan tubuh temporalnya juga memiliki ortography dan kapasitas linguistik yang sama dengan manusia biasa pada umumnya. Kapasitas inilah yang membuat Buddha dapat berbicara dengan manusia biasa dari suku, ras, intelektual, latar belakang, kerajaan dan kasta apapun saat itu.
.
.
Secara historis, Buddha membesut ajaran-Nya melalui metode tradisi lisan bukan tulisan, oleh karena itu perspektif harus diarahkan pada konteks bahasa lisan bukan bahasa tertulis. Kompilasi ajaran Buddha dalam bentuk tulis terjadi setelah Buddha tutup usia dengan pendekatan transkripsi oleh siswa-siswanya ke dalam kodifikasi bahasa yang dipakai saat itu. Perbedaan interpretasi tentang perkembangan Buddhisme Awal ini sering menyebabkan kanalisasi, sikap intoleran, diskriminasi, sekterianisme bahkan perpecahan intern umat beragama Buddha. Apakah sikap seperti ini yang diharapkan dari berlatih praktek Dhamma? Tentu TIDAK.
.
.
Kondisi Latar Bahasa:

Pangeran Siddharta sendiri terlahir dalam suku sakya, ibu berasal dari suku koliya, besar dan hidup di tengah tradisi Brahmin yang ketat dan telah fasih menggunakan bahasa Prakrit (vedic) serta pengaruh supremasi imperium Kerajaan Magadha yang menjadikan bahasa Magadhi sebagai lingua franca di Jambudvipa saat itu. Fakta ini menguatkan tesis bahwa Buddha adalah seorang multilingualist (berkemampuan berbicara lebih dari satu bahasa) atau bahkan polyglot (berkemapuan berbicara banyak bahasa).
.
.
Buddha sendiri juga sangat menjunjung tinggi pluralisme berbahasa dengan menginstruksikan pembabaran Dhamma (Buddhavacana) menggunakan sak nirutti atau dialek lokal setempat. Keputusan ini diambil oleh Buddha karena adanya upaya eksklusif oleh monastik yang berasal dari kasta Brahmana untuk membabarkan Dhamma hanya dalam Chndasa (sebuah metrik vokal yang digunakan dalam membaca vedic). Ada potensi sektarian jika Buddhavacana digubah dalam tata persajakan vokal yang berasal dari tradisi membaca Veda tersebut.
.
.
Chndasa atau Chandaso sendiri tidak merujuk ke Bahasa Sanskrit (sanskerta yang kita kenal dalam literatur Buddhisme sekarang). Dilihat dari sisi rumpun bahasa (language families) secara phonetic, morfologis dan sintaksis bahasa sanskerta yang dipakai dalam agama Buddha berasal dari evolusi lisan yang ditranskripsi dan ditransliterasi secara hibrida. 

Pendapat ini dikuatkan secara diakronis, bahwa sanskrit dalam literatur Tripitaka tidak sama dengan bahasa-bahasa yang berkembang pada era Old Indo-Aryan yang merupakan bahasa liturgi Brhamanisme yang merupakan akar dari Hinduisme. Sankrit dalam literatur Buddha juga tidak termasuk dalam klusterisasi Middle Indo-Aryan (abad ke-3 hingga ke-8 SM) seperti Ardhamagadhi pada masa keemasan Asoka, Prakrit di Selatan, ataupun Shauraseni dan Mahasrashtri di Utara. Secara spesifik, Sanskrit philologist seperti Adhyy, atau lebih dikenal dengan sebutan Panini menyebutnya sebagai 'sanskrit hybrid'.
.
.
Sak nirutti juga tidak bisa diartikan secara langsung menjadi bahasa Magadha (Magadh-bhs) yang belakangan diklaim menjadi induk bahasa Pal. Alasanya adalah sistem kastanisasi di India saat yang ketat membuat stratifikasi dalam Bahasa Magadha. Oleh karena itu Sak nirutti tidak merujuk pada formulasi bahasa tunggal melainkan penggunaan baik pada moda lisan pada kelas kesatria dan intelektual, pedagang, dan kaum marginal (seperti sudra). 

Selain itu, secara geografis, supremasi Magadha banyak dikelilingi oleh kerajaan tetangga seperti Anga di Timur, Cedi, Ksi, Koasala , Kapilavastu di Barat, Vessali di Utara, dan Kaliga di Selatan. Kondisi ini sangat memungkinkan pertukaran kode (code-switching) atau pembaruan kode (code-mixing) berbahasa terutama bagi masyarakat yang hidup di area perbatasan antar kerajaan tersebut.
.
.
Sebagai seorang yang menentang kastanisasi, Buddha pasti lebih memilih cara rasional, kontekstual dan praktis untuk mengajar tanpa tergantung kepada patronisasi bahasa tertentu. Selain antisipasi akan berdampak pada suprioritas-inferioritas sekte/kasta tertentu juga sangat natural bahwa seseroang akan lebih paham dan mengerti tentang sesuatu yang diajarkan jika didengar dalam bahasa atau dialek yang dipahaminya. Ini Logis. Buddha lantas tidak memberikan 'label' terhadap Buddhavacana ke dalam Bahasa tertentu seperti proposal menggunakan Candasso.
.
.
Jika mengacu ke pendekatan Mulabhasa maka tesis bahwa Pali sebagai formula murni satu-satunya sumber ajaran Buddha menjadi tidak relevan. Paling tidak terminologi 'Pali' sangat dominan dikenal setelah publikasi terjemahan kitab-kitab komentar oleh Achariya Buddhaghosa. Lagi, jika Pali dikaitkan dengan Bahasa Lisan Buddha dalam konteks Magadhi-bhs saat itu yang kemudian ditranskripsi dalam penyusunan kitab suci menjadi sangat lemah dalam kajian fakta sosiolinguistik-diakronik. Lantas apakah masih relevan jika klaim 'paling murni' dihembuskan melihat perspektif ini? MARI RENUNGKAN.
.
.
Melihat kondisi geolinguistik dan sosiolinguistik pada era Buddha yang sangat multilingual tentu sangat tidak beralasan anggapan bahwa Buddha sangat "anti" dengan plurilingualism dalam menyampaikan dan membahas Dhamma, baik yang dilakukan oleh misionari dari sejak dulu hingga saat ini. Tipitaka juga disusun dalam tradisi monastik gradual (konsili-konsili) setelah 6 bulan (Konsili Pertama), bahkan ratusan tahun sejak Buddha mangkat (parninibbana) dengan metode transmisi lisan. Terlebih lagi, Bhikku Ananda dan Bhikku Upali yang mengulang sutta dan vinaya juga tidak pernah menyebutkan bahasa lisan yang Buddha pakai dalam mengajar.
.
.
Apa Impliaksinya:

Sejak era Buddhist Diaspora dari India ke berbagai penjuru dan belahan dunia Buddhisme selalu dapat diterima dan dipraktekkan dengan baik. Terbukti tumbuh suburnya pusat meditasi , pusat studi, pusat kajian, pusat praktek yang meski dalam balutan organisasi, afiliasi atau instituti tertentu tetap dalam esensi menuju pembebasan akhir Nibba. 

Buddhisme juga melandasi gerakan sosial yang adaptif dan kontekstual terhadap persoalan nyata manusia seperti ketimpangan sosial, keterbelakangan ekonomi, konflik horizontal dan berbagai permasalahan multidimensional sehari-hari. Ini adalah implementasi Agama Buddha yang tidak hanya bermanifestasi sebagai way of thiniking saja tapi juga way of life. Kesadaran berlatih ketidakmelekatan dengan praktek dan sangat masif dalam kerangka engaged buddhism.
.
.
Ironi kadang, kebanggan terhadap perkembangan Agama Buddha tersebut terdistorsi oleh oknum atau sekelompok pribadi atau institusi yang mengklaim diri sebagai "yang paling murni". Institusionalisasi keagamaan dewasa ini yang berkembang tentu berbeda dengan ekstraksi ajaran profan nan luhur dari Sang Buddha. Institusi keagamaan bisa saja muncul menjadi ratusan bahkan ribuan atau jutaan institusi tapi 'rasa' dari berpraktek Dhamma tidak akan pernah medua.
Di era superdiversity dan multiliterasi sekarang ini ajaran Buddha tidak bisa disampaikan dengan metode monolitihic (semisal satu Bahasa saja).
.
.
Di Eropa dan Amerika misalnya, ajaran Buddha mampu menginspirasi banyak orang untuk berpraktek meditasi Buddhis dan mepratekkan hidup berkesadaran (mindfulness) dengan media Bahasa Inggris. Saya pribadi melihat perkembanan Agama Buddha khususnya di Asia sangat pesat. Di beberapa negara yang saya sempat kunjungi seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Singapura, Laos dan Indonesia berkembang maju karena pemerolahan lokal (termasuk bahasa setempat) yang menyatu dalam penghayatan Buddhisme itu sendiri. Di dalam suatu negara yang multkuturpun, Agama Buddha beradaptasi dan tumbuh dalam berbagai kearifan lokal tanpa kehilangan esensi dan nilainya.
.
.
Di Indonesia, Agama Buddha juga berakulturasi secara harmonis dengan keadaan lokal setempat. Kita melihat di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan dan tradisi Tionghoa Indonesia umat berbondong-bondong menggunakan atribut adat-istiadat lokal atau ornamen budayanya dalam melaksanakan peribadatan Agama Buddha. Tidak jarang, Dhammadesana juga ditransliterasi ke dalam bahasa-bahasa daerah agar memudahkan pendengar menyerap dan memahami apa yang disampaikan oleh para duta Dharma tersebut.
.
.
Beragama berbeda dengan berkitabsuci, berkitabsuci berarti kita mengkultuskan kitab (benda mati) namun beragama adalah mengkontekstualisasikan kitab ke dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu sebagai umat beragama (Buddha) mari melihat bukan pada tampilan luar tapi pada kemampuan bertransformasi secara spiritual menjadi lebih baik dan bijaksana.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.
Yuan yiqie congsheng li ku de le.
Sarva Mangalam.
May all beings are happy.
Tashi Delek.
Mel Bao Rahayu.

(Penulis adalah umat Budha Indonesia lulusan Progam Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Unika Atma Jaya Jakarta)

VIDEO PILIHAN