Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Dosen - Dosen - Pencinta Dunia Literasi

Kecintaannya pada dunia literasi membawanya suntuk berkiprah di bidang penulisan artikel dan buku. Baginya, hidup yang berguna adalah hidup dengan berbagi kebaikan, antara lain, melalui karya tulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar Pentingnya Kejujuran dari Tempat Cucian Mobil dan Kisah Sang Raja

2 Agustus 2020   10:09 Diperbarui: 2 Agustus 2020   10:35 387
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: imageshack.com

Sudah sebulan terakhir kendaraan saya kotor. Mencucinya di rumah saja belumlah cukup. Ada bagian-bagian yang tak terjangkau, misalnya bagian bawah dan bagian dalam karena ketiadaan peralatan yang memadai. Nah, saya pun membawa kendaraan ke tempat cucian mobil.

Burung Kenari yang Cantik

Beruntung pelanggan masih belum banyak yang datang sehingga begitu sampai kendaraan langsung diarahkan ke tempat cuci. Saya pun duduk menunggu beberapa saat. Seperti biasa, jika tidak terlalu repot, si pemilik usaha pencucian ini --sebut saja namanya Pak Chiek, akan menyapa saya sejenak sebelum memimpin "pasukan"-nya untuk bekerja keras melayani pelanggan.

Karena baru saya saja pelanggan yang hadir, maka dia memiliki waktu untuk ngobrol. Kami pun berbicara ngalor-ngidul, dimulai dari kesukaannya memelihara burung kenari yang suaranya merdu dan tampilannya yang cantik. Maklum saja ia memelihara beberapa ekor burung tersebut dan terdengar sedang bersenandung, entah apa judul lagunya.

Tak hanya tentang burung, kami pun berbincang tentang pelanggannya dan tentang  karyawan yang dipekerjakan di tempat pencucian mobilnya.

"Pak, kok tumben sepi ya?" kata saya memulai.

"Sejak ada Covid-19, sedikit orang datang, Pak," jawabnya. "Bahkan merosot cukup tajam. Seperti hari inilah. Tetap  ada, satu-satu, tapi tak seramai dulu."

"Terus, bagaimana dengan karyawan Bapak, apakah ada yang dirumahkan?" saya tanya lagi.

"Kalau diberhentikan, saya merasa kasihan Pak, mereka kerja apa nantinya, apalagi dalam ekonomi yang sangat sulit seperti ini," jelasnya yang saya respon dengan anggukan.

Yang Terpenting Mereka Jujur

Rupanya Pak Chiek tak sampai hati memberhentikan karyawan yang berjumlah 14 orang itu. Ia memilih bertahan dalam kondisi sulit ini. Bahkan, dia merasa senang karena karyawannya betah dan rajin bekerja. Lagi pula, ia merasa mereka baik-baik saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun