Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... PNS, Dosen, Penulis

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Masih Ada yang Belum Juga "Pede" Menulis? Ini Solusinya!

9 Juli 2020   19:45 Diperbarui: 10 Juli 2020   05:39 310 50 20 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masih Ada yang Belum Juga "Pede" Menulis? Ini Solusinya!
Sumber gambar: id.pinterest.com/|mrktrs.co

Jika kepada Anda disodorkan pertanyaan: sudahkah  Anda memiliki rasa percaya diri dalam menulis? 

Masihkah Anda ragu-ragu dengan hal-hal yang buruk akan terjadi terhadap tulisan Anda? 

Masihkah Anda takut mengunggah tulisan Anda atau mengirimkannya ke media mainstream?

Bukan Pekerjaan Mudah

Bagi sebagian orang, menulis bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan banyak persyaratan dan rumit maka pada akhirnya orang membatalkan niat menjadi penulis.

Ada sejumlah alasan mengapa orang menghapus niat menjadi penulis. Tiga diantaranya akan penulis paparkan di sini, sekaligus menghadirkan solusi dan penguatannya. Saya yakini hal ini menjadi bagian terpenting dalam dunia tulis-menulis dalam rangka membentuk rasa percaya diri yang teguh bagi siapa pun yang memiliki niat kuat menjadi penulis tetapi masih memendam keraguan di dalam hatinya.

Pada umumnya, rasa tak percaya diri ini banyak terjadi pada mereka yang memiliki keinginan menjadi penulis, tapi belum juga menulis. Kekurangpercayaan diri dalam menulis, kerap masih tumbuh pada para penulis pemula dengan beragam alasan sehingga ketika hendak menulis dan mempublikasi tulisan, mereka masih dihantui ketakutan yang tiada juntrungnya. 

Mari kita klasifikasikan apa saja penyebab rasa tak percaya diri itu, apa akibatnya, dan apa pula solusi untuk mengatasinya.

Tak Cukup Pengetahuan

Pertama, tak memiliki cukup pengetahuan. Pandangan ini merupakan stigma negatif yang menghantui sebagian calon penulis dan penulis pemula. Mereka memandang diri sebagai orang yang tidak atau belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi penulis. Ia melihat para penulis itu adalah barisan orang-orang hebat yang menguasai dengan sangat baik pengetahuan tertentu sehingga karya yang ditampilkan menjadi bernas dan mudah dicerna pembaca.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa stigma negatif seperti ini bisa memporak-porandakan niat luhur untuk menjadi penulis, seperti air bah yang meluluh-lantakkan benih tanaman petani? Hanya lantaran merasa tidak memiliki cukup pengetahuan, lalu memilih tidak menulis?! Mereka, para penulis yang sekarang sudah memiliki nama, bahkan nama besar lantaran karya-karyanya sama juga dengan kita pada awalnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN