Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Ikuti "Panggilan Jiwa" Anda untuk Hidup Lebih Bermakna

22 Mei 2020   11:09 Diperbarui: 23 Mei 2020   08:06 158 23 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ikuti "Panggilan Jiwa" Anda untuk Hidup Lebih Bermakna
Sumber gambar: pinterest.com/Marisela Serrades

Bagaimana mendefinisikan kebahagiaan dan adakah kebahagiaan sejati di dunia ini?

Apa itu panggilan jiwa? Bagaimana menemukan dan mengikuti panggilan jiwa untuk hidup yang bermakna?

Semua orang ingin hidupnya bahagia. Tidak ada yang ingin susah dan bersedih di sepanjang hidupnya. Semua berusaha dan berlomba-lomba mengejar kebahagiaan. Banyak diantaranya dengan memenuhi semua keinginan, dengan membeli pelbagai jenis barang, rumah mewah, mobil mewah, mengejar kekuasaan dan jabatan tinggi.

Kekayaan dan kekuasaan menjadi salah satu yang paling diincar karena alasan prestise  dan ada previlege di situ. Dengan itu, kita berharap bahagia akan datang dan berada dalam pelukan kita. Dan, kita tak mau melepaskannya, bahkan barang sedetik pun.

Akan tetapi kenyataannya, barang-barang mewah, kekuasaan, dan segala bentuk kekayaan itu sama sekali tidak membuat kita bahagia. Kita mungkin merasa bangga atau senang  tetapi hanya sesaat. Tidak lebih dari itu. Kemudian, kita kembali ke awal, merasa masih saja  kurang, merasa nelangsa, seraya berpikir dan  berusaha keras meraih  kebahagiaan sejati di dunia.

Empat Hal yang Tak Terhindarkan

Sejatinya tak ada yang disebut "kebahagiaan sejati" di dunia ini. Tidak ada! Mengapa? Karena, hidup kita di dunia pasti akan menjalani empat hal, yakni suka, duka, lara,  dan pati. Adakah di antara kita tak pernah merasa suka atau senang, kendati hanya sebentar? Saya kira semua pernah meresa senang karena sesuatu hal, pencapaian prestasi,  misalnya. Tetapi, apakah rasa senang itu kekal? Tidak sama sekali!

Usai senang, barangkali kita, mau tak mau, merasakan duka. Kesedihan karena  kehilangan, kecemasan karena persoalan hidup, kekhawatiran terhadap segala sesuatu, dan semacamnya membawa rasa duka. Apalagi kehilangan orang-orang yang kita cintai, tentu akan sangat menyedihkan. Kedukaan itu pun tak terhindarkan dalam hidup ini.

Suka dan duka datang silih berganti. Suatu saat kita merasa senang, gembira, di waktu lain kita merasa sedih karena sesuatu hal. Dalam perjalanan hidup, akan datang saatnya lara atau sakit. Bisa di awal, di pertengahan, atau di akhir kehidupan kita di dunia. Lara itu sangat manusiawi. Kita semua pernah sakit, bukan? Tidak hanya sehat melulu di sepanjang hdup. Ya, minimal kita diserang pilek, demam, dan sejenisnya. Ada juga yang ditimpa penyakit berat. Hidup dengan badan fisik ini tidak memungkinkan kita lepas dari rasa sakit, lara itu.

Selanjutnya kehidupan kita akan berakhir dengan pati atau kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Siapa pun yang pernah lahir pasti akan mati. Tak ada orang yang mampu menolaknya. Maut pasti akan datang, cepat atau lambat. Maut tak hanya datang kepada orang tua renta, kepada orang kecil pun bisa terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN