Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... PNS, Dosen, Penulis

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Menulis Jurnal Ilmiah, Perlukah Dikhawatirkan?

27 Mei 2012   00:14 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:44 1731 6 21 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis Jurnal Ilmiah, Perlukah Dikhawatirkan?
13380836092088617278

[caption id="attachment_190735" align="aligncenter" width="378" caption="ilustrasi/admin(shutterstock.com)"][/caption]

Jurnal ilmiah bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 sudah merupakan harga mati untuk kelulusan setelah Agustus 2012. Artinya, karena ini merupakan keharusan untuk dilaksanakan, maka dengan upaya apapun mesti dilaksanakan. Apalagi surat edaran yang merupakan keharusan itu keluar dari Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang, mau tak mau, harus ditaati.

Kalau begitu, bagaimana para mahasiswa bisa melaksanakannya? Sulit? So pasti. Tapi, mengapa tidak dicoba saja? Konon, suatu pekerjaan lebih berat kalau hanya dipikirkan daripada dikerjakan. Betul tidak, ya? “Agar dicoba saja dulu. Jangan hanya dibayangkan, biar tidak lelah berpikir,” ujar Prof. Dr. Made Kembar Sri Budhi, ekonom Universitas Udayana, pada suatu kesempatan bertatap muka dengan mahasiswa S3 Ilmu Ekonomi setempat.

Memperhatikan Tujuh Hal

Berikut ini adalah 7 (tujuh) hal yang bisa dipertimbangkan oleh perguruan tinggi, para mahasiswa, dan dosen dalam rangka memenuihi kewajiban menyusun karya ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah lokal, nasional, dan internasional.

Pertama, perguruan tinggi membuat Dewan Redaksi atau apapun namanya yang bertugas menyeleksi karya ilmiah para mahasiswa. Dewan Redaksi seyogianya terdiri dari dosen atau pihak yang terpilih yang sudah berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal nasional dan/atau jurnal internasional. Sebuah karya tulis ilmiah, untuk bisa dipublikasi secara nasional dan internasional, harus melewati seleksi Dewan ini. Artinya, Dewan Redaksi inilah yang bertugas memeriksa kelayakan suatu karya tulis untuk dipublikasikan di jurnal nantinya. Kalau menurut Dewan Redaksi, suatu karya ilmiah belum layak, maka karya itu dikembalikan kepada mahasiswa untuk direvisi sampai akhirnya memenuhi syarat untuk dipublikasikan.

Kedua, perguruan tinggi melakukan pelatihan penulisan jurnal ilmiah. Pelatihan ini sangat urgen di tengah masih banyaknya kesulitan para mahasiswa, bahkan dosen, dalam menyusun karya ilmiah secara baik dan benar. Pelatihan penyusunan karya ilmiah ini diharapkan menjadi wahana belajar untuk menghasilkan karya yang memenuhi syarat. Di dalam pelatihan itulah ditransfer mengenai tata cara penulisan karya ilmiah dengan segala persyaratan untuk pemuatannya di sebuah jurnal.

Ketiga, menjalin hubungan dengan perguruan tinggi di luar negeri yang memiliki jurnal ilmiah, khususnya e-journal, untuk memenuhi unsur “internasional” khususnya bagi mahasiswa S3. Jalinan kerjasama antarperguruan tinggi ini akan bermanfaat bagi kelancaran penayangan karya secara online di website jurnal internasional yang dimiliki PT luar negeri tersebut. Mungkin bisa dijalin hubungan dengan beberapa universitas di negara terdekat, misalnya dengan univeritas di Australia, Singapura, Malaysia, Philipina, dan lainnya.

Keempat, pihak pimpinan program di perguruan tinggi perlu menguatkan kepercayaan diri mahasiswa melalui pemberian motivasi untuk menulis karya ilmiah. Mahasiswa hendaknya diyakinkan bahwa segala sesuatunya akan berjalan lancar tanpa harus khawatir berlebihan, seraya mendorong mahasiswa untuk menulis. Pelatihan penulisan jurnal ilmiah yang dilakukan secara intensif sebagaimana disebutkan pada point kedua, akan memperkuat kemampuan dan keyakinan diri mahasiswa.

Kelima, memberikan kuliah metodelogi penelitian pada semester awal. Dengan begitu, diharapkan akan lebih awal mahasiswa memahami bagaimana melaksanakan riset dan penulisan laporan ilmiah secara baik dan benar. Sambil menjalani perkuliahan, para mahasiswa bisa menyusun karya tulis ilmiah wajib ini secara bertahap dan terprogram dengan baik. Kalau diberikan menjelang lulus atau di semester akhir seperti banyak terjadi kini, dikhawatirkan tak akan lagi ada waktu untuk menulis jurnal ilmiah, karena mahasiswa akan fokus ke penulisan tugas akhir, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.

Keenam, memperkenalkan alamat website atau situs-situs yang banyak mengangkat hasil penelitian atau jurnal-jurnal ilmiah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini penting bagi mahasiswa dalam memahami bagaimana format dan isi jurnal yang baik dan layak dipublikasikan. Di samping itu, tulisan-tulisan yang tersedia di situ bisa dimanfaatkan sebagai referensi untuk penulisan. Topik bahasan pilihan mahasiswa yang memerlukan variabel latent (konstruk) dan variabel manifest (indikator) suatu bidang kajian bisa diamati di dalam jurnal-jurnal itu.

Terkait dengan hal ini, perlu dibiasakan berselancar di internet untuk mendapatkan hasil-hasil penelitian terbaru di bidang studi yang digeluti. “Tidak sulit mencari rujukan. Sudah banyak di situs jurnal internasional. Tak usah ditakutkan. Lagi pula halamannya tak banyak, sekitar 8 – 12 halaman dengan 1,5 spasi,” ujar dosen yang juga ahli riset, Prof. Dr. Made Suyana Utama, menguatkan hati para mahasiswa.

Ketujuh, terapkan prinsip ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Jangan terlalu idealis untuk mendapatkan teori yang sama sekali baru. Berangkatlah dari teori yang sudah ada. Berangkatlah dari penelitian-penelitian yang termuat di dalam berbagai jurnal, dan temukan unsur kebaruan dari situ kendati tak seratus persen. Walaupun sedikit tak mengapa, asalkan sudah melengkapi khasanah ilmu pengetahuan.

Yuk, kerjakan saja dengan berpegangan pada filosofi learning by doing atau learning by process. Walaupun sejatinya kita tak bisa memastikan, apakah ribuan bahkan jutaan jurnal yang lahir nantinya ada yang membacanya atau tidak.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x