Mohon tunggu...
Dwi Tyas Pambudi
Dwi Tyas Pambudi Mohon Tunggu... ASN-Magister Lingkungan yang peduli terhadap permasalahan SDA dan lingkungan

-

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Perubahan Iklim: Meningkatnya Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

16 April 2021   19:08 Diperbarui: 20 April 2021   08:15 190 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perubahan Iklim: Meningkatnya Bencana Hidrometeorologi di Indonesia
Ilustrasi Bencana Alam Banjir Foto: Pixabay.com

Bencana alam terus meningkat baik di dunia maupun di Indonesia. Tidak saja intensitasnya namun luasnya cakupan dampak bencana menyeluruh hampir di setiap provinsi. Tidak saja kerugian materi namun juga jiwa. Seperti yang disampaikan Sir David King Ilmuwan terkemuka Bangsa Inggris bahwa "Isu perubahan iklim lebih mengkhawatirkan dari pada isu terorisme."

Pada bulan Januari-Februari 2021, Indonesia mengalami begitu banyak bencana. Data yang dihimpun oleh BNPB telah terjadi 355 bencana. Dari seluruh bencana tersebut didominasi oleh bencana banjir sebanyak 217 kejadian, puting beliung sebanyak 63 kejadian, tanah longsor 58 kejadian, gempa bumi dan gelombang pasang dan abrasi sebanyak 7 kejadian, serta karhutla sebanyak 3 kejadian. Dari data tersebut 99 persen merupakan bencana hidrometeorologi.

Bencana tersebut membuat kerugian materi, memaksa 1.740.269 jiwa untuk mengungsi ke tempat yang aman dan sebanyak 215 jiwa meninggal dunia dan 7 menghilang belum ditemukan, serta 12.055 jiwa mengalami luka-luka baik berat maupun ringan.

Terjadi kenaikan rata-rata muka air laut global diperkirakan berkisar antara 22 cm sampai 34 cm pada 1990 hingga 2080 sehingga meningkatkan bencana banjir rob di kawasan pesisir. Kenaikan permukaan air laut memperburuk kondisi wilayah pesisir, menyebabkan banjir di dataran rendah wilayah pesisir, erosi pantai berpasir, dan kerusakan struktur wilayah pesisir (Snoussi et. al, 2008). Nelayan paling terdampak mengingat pekerjaan dan tempat tinggalnya berdekatan dengan laut.

Dalam konteks Indonesia kenaikan muka air laut setinggi satu meter akan mengakibatkan masalah besar pada masyarakat yang ada di pesisir. Abrasi pantai dan mundurnya garis pantai beberapa kilo meter menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal. Di kutip dari Jawapos, pada tahun 2020 di Probolinggo selama tahun 2020 telah terjadi 4 kali banjir rob. Banjir tersebut merusak sejumlah rumah. Banjir tersebut terjadi di sekitar pesisir menggenangi 7 dusun dan menggenangi pemukiman warga setinggi 15 cm.

Penyebab bencana

Dalam pidatonya di pertemuan tingkat tinggi negara-negara anggota UNFCCC ke 21 di Paris, Prancis, Presiden Joko Widodo menyampaikan kerentanan Indonesia terhadap perubahan iklim dengan statusnya sebagai negara dengan banyak pulau kecil dan 60% penduduk tinggal di wilayah pesisir. Dengan panjang garis pantai mencapai 80.000 kilo meter sebagian besar penduduk melakukan aktifitas sosial dan tinggal di kawasan pesisir tersebut.

Menurut lembaga riset keuangan Amerika Serikat, Negara Indonesia dianggap rawan terhadap pengaruh perubahan iklim. Tahun 2014 lembaga riset tersebut melakukan kajian kerentanan terhadap negara di seluruh dunia akibat dampak dari perubahan iklim. Kajian tersebut menempatkan Indonesia pada posisi negara yang sangat rentan. Diukur dari tiga parameter yaitu: berapa banyak masyarakat yang tinggal di pesisir dan kerentanannya, berapa besar ketergantungan pada sektor pertanian, dan seberapa siap sistem negara ini menghadapi perubahan iklim.

Beberapa peneliti melakukan kajian di sejumlah wilayah Indonesia menemukan gejala perubahan iklim semakin dirasakan, terutama musim kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau, terjadi semakin panjang, sementara pada musim penghujan, berlangsung dengan intensitas yang lebih tinggi, waktunya lebih singkat serta bergesernya sistem iklim dari waktu biasanya. Siklus cuaca ini menyusahkan petani untuk menandai sistem kalender musim yang dipakai mereka secara turun temurun.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan, menemukan keterkaitan peningkatan cuaca ekstrim dari tahun ke tahun merupakan akibat dari perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan akibat akumulasi gas-gas pencemar di atmosfer terutama akibat dari aktivitas manusia (anthrpogenic). Aktivitas tersebut seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, industri, penggunaan lahan yang eksploitatif telah berkontribusi mengakumulasi Gas Rumah Kaca (GRK) Karbon Dioksida (CO2), Methane, (CH4), Nitrous and Oxide, (N2O), Hydro Fluorocarbons (HFCs), Per Fluorocarbons (PFCs), dan Sulfur Hexafluoride (SF6) diatmosfer.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN