Mohon tunggu...
Dwi Tyas Pambudi
Dwi Tyas Pambudi Mohon Tunggu... ASN-Magister Lingkungan yang peduli terhadap permasalahan SDA dan lingkungan

-

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Perubahan Iklim: Ancaman Nyata Ketahanan Pangan Indonesia

16 April 2021   11:26 Diperbarui: 20 April 2021   08:17 158 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perubahan Iklim: Ancaman Nyata Ketahanan Pangan Indonesia
Ilustrasi Lahan Sawah Foto: Pixabay.com

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyatakan bahwa "salah satu ancaman paling serius terhadap keberlanjutan ketahanan pangan adalah perubahan iklim."

Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Tanpa pangan keberlangsungan hidup manusia akan terganggu. Akibat pertambahan penduduk kebutuhan pangan setiap tahun mengalami peningkatan. Artinya semakin banyak jumlah penduduk, semakin banyak pangan yang harus disediakan oleh negara untuk rakyatnya.

Mayoritas penduduk Indonesia mengkonsumsi beras. Menurut BPS Angka konsumsi beras nasional pada tahun 2017 adalah 111 kilogram per kapita per tahun. Apabila dihitung dengan total jumlah penduduk Indonesia saat ini total konsumsi beras kurang lebih 30 juta ton per tahun.

Pemenuhan kebutuhan beras secara nasional yaitu melalui produksi dalam negeri dan impor. Produksi beras dalam negeri yang dihasilkan oleh petani berkisar 32 juta ton dengan luas sawah 7,46 juta hektar.

Produksi tersebut terpenuhi apabila tanpa gangguan hama dan penyakit serta faktor lain. Namun banyak faktor yang mempengaruhi produksi padi salah satunya adalah pengaruh perubahan iklim. Penurunan produksi padi akibat perubahan iklim mengganggu pasokan beras nasional dan ketahanan pangan.

Perubahan iklim berkaitan dengan kenaikan suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh peningkatan emisi karbon dioksida dan gas-gas lain yang tergolong dalam Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Gas Rumah Kaca yang menyelimuti bumi mengakibatkan panas terperangkap sehingga meningkatkan suhu bumi menjadi lebih panas.

Pada saat ini peningkatan GRK di atmosfer tidak lagi terjadi secara alami namun lebih besar diakibatkan oleh aktivitas manusia (Anthropogenic).

Menurut United Nation Framework Convention On Climate Change atau UNFCCC, Perubahan iklim didefinisikan sebagai bentuk perubahan terhadap iklim yang ada baik disebabkan secara langsung maupun tidak langsung dari tindakan manusia yang memicu perubahan komposisi atmosfer global yang juga berpengaruh pada tingkat variabilitas iklim pada kurun waktu tertentu.

Dalam Protokol Kyoto gas-gas yang diklasifikaikan sebagai GRK penyebab perubahan iklim adalah Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitirit Oksida (N20), Hidrofluorokarbon (HFC), Perflourokarbon (PFC), dan Sulfat Heksaflourida (SF6).

Sebagai negara agraris, sektor pertanian menyerap jumlah pekerja 33,4 juta penduduk. Jumlah penduduk yang bekerja menjadi terganggu apabila perubahan iklim memengaruhi sektor ini. Karena pertanian sangat bertumpu pada siklus air dan perubahan cuaca untuk menjaga produktivitasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN