Mohon tunggu...
Dwi Nuryanto
Dwi Nuryanto Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Psikologi UGM

Pria kelahiran Sleman, 22 Mei 2000 ini akrab disapa Masnur. Sekarang sedang menempuh studi S1 di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Cita-citanya ingin membangun peradaban rabbani yang bernafaskan Qur`an dan bernaungkan ilmu pengetahuan dimulai dari yang paling kecil: pemuda dan keluarga. Masnur dapat dihubungi melalui Instagram @nuryantodwi22 dan WhatsApp 089510584587.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pemuda dan Kontribusinya dalam Sejarah

1 Desember 2022   20:42 Diperbarui: 1 Desember 2022   20:48 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 setelah melalui berbagai peristiwa panjang. Peristiwa dengan banyak pelajaran apabila digali lebih dalam lagi. Sejarah panjang itu tak lepas---bahkan tidak pernah lepas dari peran para pemuda pada setiap masa. Hal ini menjadikannya istimewa, terutama bagi pemuda-pemuda generasi setelahnya. Berbagai perlawanan, setiap pembaharuan, dan aksi-aksi berujung perubahan selalu melibatkan manusia-manusia dengan titel pemuda.

Indonesia ketika masih berupa sekumpulan kerajaan dari ujung barat Sumatera sampai paling timur Papua, para pengembara menyebutnya tanah Jawa. Negeri makmur itu dijajah negara-negara Eropa ratusan tahun lamanya. Dikeruk sumber daya alamnya, diperbudak manusianya, direbut tanah dan hasil buminya. Kebebasan pun hanyalah sebatas impian di siang bolong. Namun, meski demikian para pemuda tak henti-hentinya mengobarkan semangat juang melalui berbagai perlawanan untuk meraih kemerdekaan, setidaknya mempertahankan tanah kelahirannya untuk kemakmuran masyarakatnya sendiri.

Berbagai bentuk perlawanan pada mulanya mewujud peperangan dan gerilya, tetapi lambat laun para pemuda sadar pentingnya melawan dengan diplomasi dan intelektualitas. Organisasi-organisasi pun didirikan. Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Borneo, komunitas Arab, dan banyak organisasi pergerakan lain bermunculan. Hingga pada satu kesempatan tercetuslah Sumpah Pemuda yang bait-baitnya masih bergema hingga saat ini.

Tak hanya itu, KH Ahmad Dahlan memberdayakan para pemuda di sekitar kauman untuk melek terhadap kondisi masyarakatnya, lahirlah Muhammadiyah dengan fokus gerakan di bidang sosial dan pendidikan. Di tempat lain, KH Hasyim Asy`ari mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai perwujudan kebangkitan intelektual bangsa Indonesia, terutama kaum muslimin pada saat itu. Beliau juga memfatwakan Resolusi Jihad pada Oktober 1945. Fatwa itu berhasil menggerakkan para santri di Surabaya dan sekitarnya untuk melawan agresi militer Belanda.

Pada detik-detik krusial kemerdekaan dilihat pula besarnya peran para pemuda. Mereka menculik Soekarno-Hatta, memaksa agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa menunggu Jepang.  Meskipun hal demikian terkesan menantang orang-orang tua, tetapi ketergesa-gesaan itu patut diapresiasi. Karenanya, Indonesia bisa merdeka tanpa hadiah dan intervensi negara lain. Benar-benar merdeka dengan usaha sendiri. Pun setelah masa-masa kemerdekaan itu pemuda juga tak pernah tinggal diam.

Para pemuda pada dasarnya memiliki kepekaan hebat, tenaga ekstra untuk melihat lebih luas, kemampuan berpikir lebih jauh, dan keterbukaan terhadap hal-hal baru. Kekuatan-kekuatan ini menjadikan mereka memiliki keresahan dan kegelisahan, kemudian menuntunnya untuk mengadakan perubahan. Banyak hal luar biasa dapat dilakukan, bahkan dalam skala nasional bisa mengadakan reformasi pemerintahan. 

Kehebatan para pemuda atas sumbangsihnya mengadakan perubahan di dalam sejarah dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiah dengan penjelasan Psikologi Sosial. Potensi besar pemuda didukung fleksibilitas dan mobilitas tinggi, dipicu problematika yang tengah terjadi di masyarakat, membuat nalar pemuda melejit sehingga memunculkan keresahan, kegelisahan, kegundahan di dalam dirinya. 

Keresahan itu kemudian menggerakan kekuatan terbesar dirinya untuk menciptakan perubahan besar pada masyarakat. Kekuatan yang didorong oleh keinginan memperbaiki keadaan dari penindasan, penjajahan, keterkekangan menuju kebebasan dan kemerdekaan agar menjadi bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. 

Perubahan oleh pemuda tak jarang sangat berbeda dengan standar normalitas masyarakat, tetapi tetap berdasar niat dan tujuan yang baik. Seperti penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok menjelang kemerdekaan, hal itu merupakan ide out of the box, tak terpikirkan oleh para generasi tua. Namun, nyatanya membuat dua proklamator segera menyusun rencana proklamasi kemerdekaan hingga hasil dari kenekatan itu bisa dinikmati semua orang masa kini.

Menyimak sejarah kontribusi pemuda yang telah berlalu, seharusnya membuat para pemuda zaman ini mampu mengambil pelajaran darinya. Pemuda kini yang akrab disapa Gen-Z bisa lebih cermat mengamati lingkungan sekitar, mengasah kepekaannya dalam mengenali permasalahan rakyat, kemudian mempertajam pikirannya untuk menemukan solusi. Tak lupa pula menggaungkan narasi-narasi perubahan agar banyak hati terpanggil, lalu terkumpul pasukan yang siap menyingsingkan lengan baju, mempercepat langkah mencipta perubahan.

*Sudah diterbitkan oleh Dinas Perpustakan dan Arsip Daerah dalam seri Antologi: Kita Dalam Barisan Alinea (2022).

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun