Dwinanda Ardhi
Dwinanda Ardhi pegawai negeri

Lahir di Jepara, 18 Juli 1988 | Mantan Pemimpin Redaksi Media Center Sekolah Tinggi Akuntansi Negara | twitter account: @dwinandaardhi I kunjungi www.dwinandaardhi.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya Pilihan

Metropolitan yang Dikalahkan Hujan

10 Februari 2015   05:40 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:31 43 0 2

Hari ini saya menjadi bagian dari ribuan warga yang menyaksikan betapa Jakarta begitu mudah dikalahkan hujan. Ketika air langit jatuh tak berhenti hampir semalam saja,  genangan muncul di mana-mana. Di salah satu jalan  besar tempat saya terjebak pagi ini, sampah-sampah mengambang di atas genangan. Bahkan saya melihat sebuah kasur kapuk yang terbawa arus. Jalanan ini terletak di sisi saluran, sehingga saya berasumsi dari situ lah kasur berasal.

Lalu lintas semrawut. Jalanan yang tak terendam dalam penuh sesak. Kendaraan berlawanan arus tumpah di jalan satu arah tanpa bisa bergerak. Tak ada jarak. Suara klakson bersahutan menambah kekacauan. Beberapa mobil dan sepeda motor mogok. Belum genap lima tahun saya tinggal di sini, tetapi tak pernah saya lihat Jakarta menang melawan banjir. Saat Ibu kota dikepung air seperti ini, paling mudah menyalahkan pemerintah. Meskipun saya tak yakin sampah dan kasur yang mengambang di jalanan  tadi adalah kesalahan pemerintah seutuhnya.

Inilah Jakarta: kota terbesar di nusantara, wajah republik di dunia internasional, acuan pembangunan kota-kota seantero negeri, yang langsung lumpuh dalam deraan hujan beberapa jam.

Sebagai rakyat jelata, barangkali saya tak cukup mampu membaca pikiran para penyelenggara negara yang wajahnya wara-wiri di layar kaca. Di tengah bencana tahunan ini, tiba-tiba saya kepikiran mereka dan bencana-bencana lain di beberapa kota. Para wakil rakyat yang makin banyak ditangkap KPK, penegak hukum yang tak mau mundur meskipun sudah jadi tersangka, atau kepala daerah yang hidup serba mewah. Apakah mereka menjadi penyelenggara negara demi kita, para rakyat jelata? Apakah mereka merasakan banjir dan bencana lain yang kita derita?  Apakah para politisi yang kerap berebut kekuasaan itu juga benar-benar mewakili kepentingan kita?

Kalau benar begitu, mengapa mereka tega menerima suap dan gratifikasi?  Mengapa sampai hati melakukan korupsi dari  uang  pajak kita yang mestinya bisa dipakai untuk memperbaiki sistem drainase, membangun rumah susun bagi warga yang tinggal di pemukiman kumuh di pinggir sungai, memaksimalkan program modifikasi cuaca, atau membikin waduk?

Saya bukan warga asli Jakarta, tetapi saya mencintai kota ini. Saya sedih menyaksikan wajah metropolitan yang selalu kalah oleh hujan.  Jangankan melihat Jakarta setara dengan kota-kota besar lain di dunia, mengatasi banjir dan macet pun  masih menjadi persoalan mendasar selama puluhan tahun.

Yang menjadi pertanyaan: ketika sesuatu yang salah terjadi berpuluh-puluh tahun, bukanlah artinya kita tak banyak berubah?  Bukankah artinya kita tak banyak belajar dari kesalahan?

Orang tua saya selalu mengajarkan bahwa dalam kondisi apapun, kita tak boleh kehilangan harapan. Harapan dan perubahan adalah kombinasi untuk mewujudkan Jakarta kita yang lebih baik. Saya berpikir bagaimana kita bersama-sama ambil bagian di dalamnya. Siapa pun pemimpin Jakarta hari ini, tantangan terberatnya adalah menghadapi kompleksitas persoalan wilayah yang berakumulasi dan tidak ditangani dengan baik selama puluhan tahun. Di Jakarta saat ini, perubahan mulai ada. Paling tidak soal upaya mewujudkan good governance. Tapi itu saja tak cukup, bukan?

Kita perlu juga sadar bahwa perubahan perlu waktu dan kesabaran melawan resistensi. Dan pemerintah Jakarta tak bisa melakukannya sendiri. Perubahan Jakarta adalah kita.

Jakarta telah memberikan banyak kepada kita. Sekarang Jakarta menaruh harapannya di pundak kita. Setiap langkah kecil  ada pengaruhnya. Mari buang sampah pada tempatnya. Jangan di kali. Bayar pajak dan awasi penggunaannya. Tingkatkan empati dan kepedulian antarkita. Dukung pemimpin yang baik dan lupakan para elit yang hanya memikirkan golongan dan kekuasaan.

Jalan mungkin masih panjang, tapi kita harus yakin bahwa upaya kita hari ini akan membuat metropolitan yang kita banggakan tak akan lagi dikalahkan hujan.