Dwinanda Ardhi
Dwinanda Ardhi pegawai negeri

Lahir di Jepara, 18 Juli 1988 | Mantan Pemimpin Redaksi Media Center Sekolah Tinggi Akuntansi Negara | twitter account: @dwinandaardhi I kunjungi www.dwinandaardhi.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Indonesia Mengajar, Indonesia Mengejar

23 Juni 2011   22:57 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:14 917 4 0

[caption id="attachment_118628" align="aligncenter" width="640" caption="Ilustrasi/Admin (Shutterstock)"][/caption]

Program Indonesia Mengajar dipandang banyak kalangan sebagai inisiatif cemerlang dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Apresiasi rasanya patut diberikan kepada Bapak Anies Baswedan sebagai penggagas program ini. Beliau tampaknya sadar benar bahwa ujung tombak kemajuan pendidikan adalah guru. Namun, kiprah pahlawan tanpa tanda jasa itu di negeri kita memang masih terbentur pada dua hal utama: kuantitas dan kualitas. Gagasan mengirimkan anak-anak muda terbaik untuk mengajar hingga ke pelosok negeri patut diacungi jempol. Meskipun takkan menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan secara seketika, setidaknya Gerakan Indonesia Mengajar beserta Para Pengajar Mudanya telah menunjukkan sumbangsih nyata dalam upaya mengejar ketertinggalan pendidikan kita dibandingkan dengan negara-negara lain. Yang utama bagi masyarakat di daerah terpencil, kehadiran Pengajar Muda “menyalakan” semangat meraih mimpi dan masa depan anak-anak beserta orang tua dan guru-guru mereka. Sementara bagi Pengajar Muda itu sendiri, setahun pengabdian akan menuntun mereka menjadi generasi global, tetapi dengan “hati” yang senantiasa berada di akar rumput.

Enam bulan sudah Adi tinggal di desa Indong. Kesadaran bahwa tugas sebagai Pengajar Muda tidak akan “sesederhana” menjadi guru SD langsung disadarinya saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Selain kekurangan guru, Adi menemukan bahwa desa di sebuah pulau terpencil dalam wilayah Kabupaten Halmahera Selatan itu minim buku dan sumber-sumber literasi lainnya. Inisiatif untuk mendirikan taman bacaan di rumah tempat tinggalnya pun lahir.

Dua buah kardus berisi buku yang dibawa Adi dari Jakarta menjadi mata air pengetahuan baru bagi anak-anak desa Indong. “Begitu saya buka kardus langsung heboh desa ini. Anak-anak kayak pada enggak pernah ketemu buku,” kata pemuda tersebut. Sejak saat itu, rumah tempat tinggal Adi selalu ramai didatangi anak-anak yang ingin meminjam bahan bacaan. Menurut Adi sendiri, sekolah anak-anak itu sebenarnya bukan tak memiliki pasokan buku sama sekali. Ia mengatakan,”Buku-buku itu ada, cuma masih di dalam plastik. Takut dirusak anak-anak, jadi enggak pernah dikeluarkan. Mereka cuma bawa buku tulis dan pulpen ke sekolah.”

Sebagai tindak lanjut pendirian taman baca itu, Adi membuat lemari pemyimpanan dan terus mencoba menambah kuantitas buku yang ada di sana. Ia memulainya dengan mengajak lingkungan terdekat seperti teman-teman dan keluarga di Jakarta untuk mengirimkan donasi bahan bacaan. Menurut Adi, sampai dengan saat ini sudah ada 8 kardus yang sudah sampai di kota. Ya, pengiriman atau pengambilan barang memang tidak bisa dilakukan di desa Indong. Terkait dengan 8 kardus di atas, Adi mesti keluar pulau dan mengambilnya langsung di kota terdekat.

Gagasan mendirikan taman bacaan yang dilakukan Adi di kemudian hari ternyata sejalan dengan “Gerakan Indonesia Menyala”—sebuah program pemberdayaan perpustakaan di daerah terpencil yang digawangi Tim Indonesia Mengajar. Saat ini Gerakan Indonesia Menyala terus mengumpulkan buku donasi masyarakat untuk dapat disalurkan kepada anak-anak di sejumlah wilayah terpencil, terutama untuk daerah penempatan Para Pengajar Muda.

[caption id="attachment_115817" align="alignnone" width="492" caption="Lemari penyimpanan buku-buku taman bacaan sederhana di rumah tempat tinggal Mas Adi (foto: Rahman Adi Pradana)"][/caption]

[caption id="attachment_115818" align="alignnone" width="489" caption="Anak-anak tampak gembira di samping kardus berisi buku-buku yang selama ini menjadi "][/caption]

[caption id="attachment_115819" align="alignnone" width="487" caption="Buku-buku kiriman ini tentu akan sangat membantu anak-anak desa Indong membuka wawasan dan pengetahuan mereka (foto: Rahman Adi Pradana)"][/caption]

Pengajar Muda angkatan II

Bergeser sedikit dari topik di atas, penempatan Pengajar Muda angkatan II sudah dilakukan beberapa hari lalu. Sebagai salah satu bagian dari angkatan I, Adi meneruskan pesan Pak Anies Baswedan dan Abah Iwan Abdurrachman yang diterimanya selama mengikuti training kepada teman-teman yang baru mulai bertugas.”Mutu pendidikan kita terpuruk kondisinya. Tapi jangan hanya mengutuk tanpa melakukan sesuatu,” tutur Adi. Ia mengaku pada awalnya sempat jengah menyaksikan kondisi SD Indong yang masih berlantai tanah, atapnya bocor, dan dindingnya bolong. Apa yang bisa Adi lakukan? Ia menutup dinding yang bolong dengan poster anak-anak. Kala hujan turun, Adi mengungsikan anak-anak didiknya ke TK. Ia melakukan hal-hal semacam itu dengan enteng.”Selalu mencari sisi positif dari semua keadaan,” kata Adi lagi. Pesan lain Pak Anies yang juga ditanamkan Adi dalam hatinya adalah kesadaran bahwa mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.

Selain itu, Adi juga ingin mengajak kawan-kawan sesama Pengajar Muda untuk menyimpan dengan baik nasihat Abah Iwan. Ketika menganggap tugas sebagai kehormatan, bukan pengorbanan, segala tantangan menjelma menjadi kenikmatan. Adi meneruskan ceritanya. “Awalnya saya berpikir ‘Wah ini pasti saya dapat di daerah terujung’. Enggak ada sinyal dan listrik, saya mungkin harus banyak bertenggang rasa dan bersabar. Tapi ternyata enggak. Saya bisa nikmati banget. Di sini tiap malam bintang-bintangnya full, enggak tertutup awan. Terus, kalau lihat senja dan matahari terbit itu Subhanallah deh. Enggak ketemu di Jakarta yang kayak gitu,” beber pemuda yang berencana menghabiskan liburan sekolah ini berkeliling Pulau Maluku tersebut bersemangat.

Lebih dalam lagi, ia juga berharap rekan-rekan Pengajar Muda yang baru memulai “petualangan” di daerah penempatan masing-masing dapat menjadi teladan. Berdasarkan pengalamannya, Adi melihat bahwa sosok guru di daerah pelosok begitu dihormati. Ia pun menitipkan pesan,”Jadilah teladan itu buat anak-anak, guru-guru, dan orang tua.”

Pemandangan matahari terbit seperti ini bisa disaksikan setiap hari di desa Indong (foto: Rahman Adi Pradana)

[caption id="attachment_115889" align="alignnone" width="468" caption="Ini matahari terbenam di desa Indong yang bisa disaksikan Mas Adi setiap hari (foto: Rahman Adi Pradana) "][/caption]

Harapan

Setelah setengah tahun hidup dan berinteraksi dengan penduduk desa Indong dengan segala problema mereka, terutama di bidang pendidikan, Adi memiliki “tantangan” tersendiri untuk para pengambil kebijakan di pusat. Ia ingin melihat bagaimana mereka yang sering disebut golongan pejabat itu untuk merasakan mengajar SD di desa-desa terpencil yang minim fasilitas dalam kurun waktu tertentu.”Benar-benar merasakan bagaimana mencoloknya perbedaan sekolah yang ada di kota dan di desa mungkin akan mengubah total mindset mereka tentang pendidikan,” ucap Adi. “Tantangan” Adi ini sebenarnya merujuk juga pada kebijakan alokasi anggaran pendidikan 20% yang lebih diprioritaskan pada jenjang pendidikan tinggi dibandingkan dengan pendidikan dasar.”Mereka bisa melihat dan melakukan sesuatu untuk itu. Tidak hanya berpolitik dan berbirokrasi ria, tapi melihat kenyataan dan melakukan sesuatu benar-benar,” pungkas Adi.

[caption id="attachment_115823" align="alignnone" width="493" caption="Selamat menunaikan tugas mulia Mas Adi. Doa kami menyertai :) (foto: Rahman Adi Pradana)"][/caption]

Tulisan ini merupakan penutup dari rangkaian Kisah Pengajar Muda Desa Indong...

Catatan:

Bagi Kompasianers yang ingin mengenal lebih jauh tentang sosok Rahman Adi Pradana, barangkali bisa melalui media di bawah ini

Facebook: Rahman Adi Pradana

Twitter: @rahmanadi

Website Indonesia Mengajar: www.indonesiamengajar.org