Mohon tunggu...
R Andika Putra Dwijayanto
R Andika Putra Dwijayanto Mohon Tunggu... .

Peneliti Fisika dan Teknologi Keselamatan Reaktor

Selanjutnya

Tutup

Teknologi

Bagaimana Seandainya Investasi Energi Terbarukan Dialihkan ke Energi Nuklir?

6 September 2019   11:11 Diperbarui: 6 September 2019   11:49 179 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto, S.T. (Peneliti Teknologi Keselamatan Reaktor)

Ditengah isu perubahan iklim yang makin menguat dan polusi udara yang makin parah, usaha-usaha peralihan dari energi fosil ke energi bersih terus dilakukan. Dari moda energi bersih yang ada, energi terbarukan mendapat sorotan paling besar. Panel surya dan turbin angin dianggap menjadi Messiah bagi planet bumi.

Jerman dengan percaya diri menjalankan program Energiewende, yang mana mereka berniat menggantungkan diri hanya pada energi terbarukan dibarengi dengan meninggalkan energi nuklir sama sekali pada tahun 2022 [1]. Tidak ketinggalan, Mark Z. Jacobson, professor Teknik Sipil dari Stanford University, membuat peta jalan (roadmap) untuk menuju Amerika Serikat dengan 100% energi terbarukan [2]. Proposal Jacobson malah lebih nekad; tidak mau mengandalkan energy storage dan lebih banyak mengandalkan variabilitas angin di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Seberapa layak konsep tersebut? Entahlah. Konsep Jacobson sendiri sudah dipersoalkan oleh Prof. Barry Brook dkk [3]. Energiewende pun pelaksanaannya cenderung bermasalah. Walau biaya yang dikeluarkan mencapai USD 580 milyar, nyatanya Jerman dipastikan gagal mencapai target reduksi emisi tahun 2020 [4].

Sejak tahun 2000 hingga 2016, sektor energi terbarukan mendapatkan investasi dengan nilai mencapai USD 4 trilyun, dengan perincian USD 3 trilyun untuk sektor pembangkitan dan USD 1 trilyun untuk upgrade jaringan listrik [5]. Hal terakhir dibutuhkan karena sifat energi terbarukan yang intermittent mengharuskan adanya perubahan dalam jaringan listrik, supaya tidak jebol. Bagaimana hasilnya?

Tahun 2016, energi terbarukan menghasilkan listrik sebesar 1844.6 TWh. Angka ini sudah termasuk biomassa, yang strictly speaking tidak pas dikategorikan dalam energi bersih. Sementara, pembangkitan listrik di dunia mencapai 24.930,2 TWh [6]. Artinya, energi terbarukan memiliki bauran 7,4% dari pembangkitan listrik global. Dengan nilai investasi total USD 4 trilyun, berarti tiap milyar USD yang dikeluarkan sejak tahun 2000 berkontribusi terhadap kenaikan 0,00185% bauran listrik dunia.

Dengan bauran energi terbarukan masih kurang dari 10% bauran listrik dunia, nilai investasi sebesar itu terasa tidak terlalu worth it.

Bagaimana jika, seandainya, nilai investasi tersebut dialihkan pada nuklir?

Walau selama ini telah sukses menyediakan energi rendah karbon yang tersedia tiap saat, persepsi tentang nuklir masih belum terlalu bersahabat. Masih banyak yang menganggap nuklir itu tidak selamat dan limbahnya berbahaya, walau fakta mengatakan sebaliknya [7,8]. Selain itu, mitos yang berkembang juga bahwa energi nuklir itu mahal, walau faktanya tidak selalu demikian [9].

Kembali ke pertanyaan, bagaimana jika USD 4 trilyun itu dialihkan ke nuklir?

Estimasi biaya pembangunan PLTN bervariasi, dari yang rendah hingga tinggi. Di sini, coba dihitung dalam dua skenario. Pertama, skenario Amerika Serikat. US Energy Information Administration (EIA) mengestimasikan bahwa overnight cost PLTN berkisar USD 5.224/kW [10]. Kedua, skenario Korea Selatan. Proyek PLTN Shin Kori Unit 3 dan 4 memakan biaya total hingga USD 6,46 milyar untuk daya 2.700 MW, sehingga overnight cost dari PLTN ini berkisar USD 2.400/kW [11].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x