Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Mengelola Marah Saat Tertekan

20 Februari 2022   06:21 Diperbarui: 21 Februari 2022   12:55 1197 13 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi marah kepada pasangan. Sumber: Thinkstock via Kompas.com

Herman benar-benar berang, marah dan kecewa. Ia tidak bisa mengendalikan diri dan memukul pintu di depannya. Berteriak keras sangat kesal karena setiap mendengar suara Sinta rekan kerjanya di zoom, Istri Herman selalu menyinggung tentang potensi perselingkuhan dirinya dan Sinta.

Istri tahu Sinta orangnya luwes, tahu apa yang dimaui Herman, dan menurut informasi Herman sering bekerja sama dan pergi keluar untuk urusan kerja. Istri Herman  orang yang mempunyai gensi tinggi, ia gengsi menegur Herman, ia gengsi menunjukkan bahwa ia cemburu, sangat cemburu pada Sinta.

Herman sendiri merasa ia biasa saja, hubungannya dengan Sinta adalah hubungan profesional. Karena tuntutan pekerjaan maka ia harus selalu bertemu Sinta. Istri Herman termasuk orang yang keras kepala, suka ngomel, suka menyindir-nyindir tentang masalah selingkuh. Herman sendiri bingung setiap kali ada masalah dalam rumah tangganya selalu dikaitkan dengan potensi perselingkuhan antara dirinya dan dan Sinta. Ia merasa lurus-lurus saja karena Herman berjanji bahwa setelah diikat pernikahan ia berjanji akan setia pada pasangannya.

Dalam perjalanan pernikahan, kerikil, onak duri komunikasi ia dan istrinya menjadi bumbu yang mengharuskan ia sabar-sabar dan tidak meladeni dengan emosi. Ia berusaha mengendalikan diri meskipun sebagai manusia ada batas-batas kesabaran yang susah ditahan, terkadang meledak,  ia perlu melampiaskan dengan memukul benda-benda sekitar seperti membanting pintu, memukul tembok dan meremas bantal.

Saat emosi Istri Herman benar-benar susah dikendalikan, bahkan pernah mencoba bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke tembok, pernah juga mencoba minum obat-obatan sebanyak-banyaknya. Sungguh ia khawatir, pada satu titik Herman kadang frustasi bagaimana menghadapi istrinya yang mempunyai emosi yang susah dikendalikan. Pada saat kalut ia hanya bisa memasrahkan diri dengan keajaiban doa. Dalam bathinnya ia berdoa mohon petunjuk agar ia tidak membalas dengan kekerasan, meskipun ia harus menerima, tamparan, gigitan, hingga bengkak mukanya oleh lemparan benda-benda saat istrinya sedang dalam puncak emosi.

Herman sendiri termasuk orang yang sabar, namun  seringkali ia tidak bisa mengendalikan emosi setiap kali ia selalu diarahkan dengan sindiran kata-kata dari istrinya yang punya imajinasi sendiri ketika ia menggambarkan Herman sedang berselingkuh dan mencoba membangun opini bahwa Herman benar-benar selingkuh.Herman keukeuh bahwa ia hanya berteman, hanya rekan kerja tidak lebih. Tapi istrinya sering gelap mata dan kata-katanya bisa menjebol tembok kesabarannya yang ia bangun.

Ledakan emosi itu seperti bom. Frustasi bagaimana bisa menghadapi istrinya yang keras kepala dan dalam puncak emosi selalu bilang minta cerai. Untungnya selama bertahun-tahun saat emosi istrinya mulai reda ia bisa meluluhkan hati istrinya dan membuat relasi kehidupan suami istrinya kembali normal. 

Berkali-kali Herman bisa meyakinkan istrinya dan melewati masa sulit hubungan komunikasi dengan kesabaran yang ditunjukkan meskipun dalam konflik rumah tangga itu ia sering menjadi korban mendapat tamparan, pukulan, gigitan, dan lemparan benda yang membuat pelipis berdarah, bengkak,dan kadang ada luka cakaran yang sengaja ia samarkan bila ditanya mengapa tanganmu, mengapa mukamu bonyok?

Relasi hubungan istri memang tidak selalu mulus, ada saja masalah yang berujung pada pertengkaran. Dari konflik itu kadang tidak selamanya suami istri bertahan. Ketika setiap pasangan mempunyai ego yang tinggi banyak alasan perceraian yang akhirnya harus diketok palu. 

Ada gengsi yang membuat mereka rasanya tidak bisa kembali menyatukan hati, mending mengikuti kata hatinya dan menuruti ego yang ada dalam diri pasangan suami istri. Yang menjadi korban adalah anak-anak mereka. 

Hidup dalam keluarga broken home mempengaruhi psikologi mereka. Terbelah dalam dunia yang sama-sama keras dan saling menyalahkan. Anak-anak bingung melihat pertengkaran demi pertengkaran hingga akhirnya orang tuanya memutuskan berpisah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan