Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Simbolisme "Cuci Tangan" Pontius Pilatus dan Jawaban Normatif tentang Kasus Terorisme

2 April 2021   22:34 Diperbarui: 2 April 2021   22:37 228 5 1 Mohon Tunggu...

Akhir -- akhir ini sering  mendapatkan informasi  bahwa para politisi baik yang berada dalam lingkar eksekutif maupun legislatif sengaja menghindar dari masalah agar tidak ikut disalahkan dalam suatu kejadian. Malah secara politis seperti melempar tanggungjawab ganti menuduh pihak lain sebagai biang masalah.

Ada pimpinan dari lembaga yang menghimpun para cerdik cendikia dalam ruang lingkup keagamaan, seperti tidak mengakui bahwa pelaku bom itu beragama. Malah melempar kata - kata yang membuat masyarakat bingung. Pelaku bom bunuh diri tidak terkait dengan agama? Lalu kenapa harus menyasar tempat ibadah, mengapa bukan kantor atau mal atau pasar. Kalau tidak ada kaitannya dengan agama mengapa mereka menggunakan atribut keagamaan.

Pernyataan politisi bahkan pimpinan agama cenderung cuci tangan,  sengaja menghindar dan tidak gentle. Kalau memang berkaitan dengan agama ya akui saja, itu sebuah pembelajaran ke depan untuk penganut agama bahwa tidak perlu sungkan mengakui saudara seimannya salah. Khan meskipun sama -- sama seagama belum tentu sepemikiran dalam memahami ajaran agama.

Bila terbiasa menghadapi pengajar yang mempunyai wawasan luas, rendah hati dan tidak pernah menjelek - jelekkan ormas lain atau agama lain. Para pengajar itu harus mempunyai sudut pandang luas, bukan mengembangkan fanatisme, ego pribadi, dan asal beda. Kalau selalu berdebat kusir tidak tahu kapan berakhirnya berarti ilmunya masih cetek karena mudah diombang - ambingkan situasi.

Kebiasaan cuci tangan, itu mungkin karena ada pembiaran, para elite terbiasa terselubung oleh hal - hal baik, ketika diseret dalam masalah yang bisa membuat reputasinya turun maka mereka tidak mau menghadapi resiko, dan melempar jauh permasalahan agar terkesan tidak ada keterlibatan.

Sebagian manusia bukan hanya politisi mempunyai kecenderungan cuci tangan jika dihadapkan pada masalah pelik. Ada ketakutan bila jujur ia akan terseret dalam kasus yang sebenarnya tidak melibatkan dirinya tetapi ketika ia mengetahui ada penyimpangan, bahkan tahu persis tapi ia mengaku tidak tahu menahu maka benar ia sengaja cuci tangan agar tidak terlibat lebih jauh.

Manusia kadang mempunyai sifat seperti bunglon, berganti rupa dan berganti prinsip ketika masuk dalam wilayah yang tidak sewarna dengan dirinya. Manusia cenderung mengatakan ya terhadap sebuah tekanan ideologi sehingga yang seharusnya dikatakan tidak malah mengatakan ya.

Banyak elite politik, tidak mau jujur bahwa sebenarnya apa yang dilakukan teman - temannya salah namun banyak yang cenderung sungkan dan membiarkan penyimpangan datang senyampang pelan -- pelan ia larut dalam permainan. Politik dan kekuasaan bisa saja mengubah mereka yang dulu galak dan kritis saat ikut pergerakan mahasiswa, lalu saat dalam lingkaran kekuasaan menjadi pendiam dan kadang malah larut dalam blunder politik, dan bancakan proyek dan melupakan kewajibannya sebagai  orang yang mempunyai tanggungjawab besar terhadap masyarakat yang telah memberi suara kepadanya.

Dalam pekan ini umat Katolik dan Kristen akan merayakan hari Pekan suci di mulai dari Minggu Palma yang sudah dimulai hari Minggu lalu yang diwarnai dengan tragedi bom bunuh diri di Katedral Makassar. Kamis ini adalah perayaan Kamis putih. Umat (katolik ) menyebutnya menyimak bacaan tentang kisah pengkhianatan salah seorang muridnya yaitu Yudas Iskariot yang menyerahkan dan menjual Yesus kepada prajurit. Yesus digelandang  menghadap Ponsius Pilatus. Ponsius Pilatus seorang gubernu atau prefek kelimat dari povinsi Yudea bagian dari kekaisaran Romawi menjabat sekitar tahun 28 -- 36 M. Ponsius Pilatus dihadapkan pada dilema ketika diharuskan mengadili Yesus Kristus. Ia merasa tidak melihat ada kesalahan dari Yesus, tapi didesak untuk mevonis hukuman mati. Lawan Pilatus adalah para para imam besar bangsa Yahudi yang mendesak untuk menghukum Salib Yesus.

Dalams injil Pilatus digambarkan tidak setuju dengan garangnya Imam Besar Yahudi. Karena tekanan ia akhirnya mempersilahkan Yesus dihukum mati, namun ia mencuci tangan tidak mau dikaitkan dengan eksekusi Yesus karena sebenarnya ia banyak berkonflik dengan para pembesar dan iman besar Yahudi. Penggambaran cuci tangan merupakan simbol bahwa ia menghindar dan cenderung tidak mau disalahkan oleh karena desakan massa oleh desakan orang banyak.

Kalau dikaitkan dengan pejabat, perwakilan kumpulan pemuka agama negeri ini yang menghindar bahwa akar terorisme itu tidak ada hubungannya dengan agama itu adalah bahasa normatif bahasa yang ditunjukkan untuk tidak mau terlibat tertuduh tumbuh suburnya terorisme berkedok agama. Itulah simbolisme cuci tangan ini penulis singgung. Beda dengan penyataan Alissa Wahid Putri Gus Dur yang cenderung mau introspeksi atas kelalaian agama dalam pola pengajaran para penceramahnya yang cenderung memprovokasi ( oknum - oknum yang masih dibiarkan berceramah secara bebas dengan ujaran kebencian, hoax an provokatif).

Umat Katolik dan Kristen pada umumnya di Indonesia khususnya sudah terbiasa dengan ancaman bom dan berkali -- kali menjadi sasaran bom, tapi berkali - kali tidak merespon dengan mengutuk atau melakukan perlawanan. Biarlah pengandilan Tuhan yang akan mengadili mereka yang telah dengan sengaja dengan dalih jihad membom tempat ibadah dan banyak melukai bahkan membunuh karena banyak korban pemboman tempat ibadah di lain tempat seperti Surabaya. Dan masih banyak tempat lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x