Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Mimpi Menjadi Wartawan dan Penulis

23 Januari 2021   12:48 Diperbarui: 23 Januari 2021   12:51 151 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mimpi Menjadi Wartawan dan Penulis
pernah menjadi wartawan tanpa kartu pers tapi bukan berarti abal- abal. Sumber batikimono.com/instagram micecartoon.co.id

Hai Diary, hai Mas Bro, Hei Sis, sudah bangun ya. Sudah lama sekali aku tidak membuka catatan harian dan menuliskannya di lembaran buku yang mulai sengak dan berdebu. Maaf aku membersihkan sampul buku dulu, aku agak alergi dengan debu jadi perlu memakai masker untuk membersihkan debu dan membuka catatan harian, terakhir beberapa minggu lalu saat aku curhat tentang menulis, Sebelumnya malah sudah bertahun - tahun tidak menulis di buku catatan. Maklum saja hari di mana ada kesedihan, keterpurukan jauh lebih berkurang. Dulu ketika aku masih jomlo lama, rajin benar menulis, sering kuisi dengan mimpi -- mimpi yang rasanya hanya dalam dunia khayalan. Aku sebut bahwa aku adalah seorang pemimpi.

Pengalaman Menjadi Wartawan Freelance

Duapuluh tahun lalu sekitar ketika aku masih tinggal di Magelang, sebelum Maretnya pindah ke Jakarta, aku adalah pengangguran, jomlo akut. Pekerjaan luntang lantung tidak jelas. Tapi aku mendapat posisi keren sebagai pemimpin redaksi majalah gereja. Majalah itu dikelola oleh anak muda yang sedang mencari jati diri. Aku sendiri meskipun menganggur masih aktif menjadi kontributor majalah di Jogja. Selain menjadi penyumbang tulisan aku juga menjadi pemasarnya di daerah Magelang. Aku kirimkan kepada mereka yang berlangganan sambil mencari berita. Tentang gereja, tentang sosok inspiratif, atau berita menarik lainnya yang layak ditulis.

Kebetulan aku punya foto manual, filmnya masih berbentuk klise. Berbekal pelatihan jurnalistik di kampus tahun 1997 dulu aku hunting berita layaknya wartawan. Dengan metode 5 W+1H. Yang menjadi andalan agar mereka percaya bahwa saya wartawan (tidak punya kartu pers) adalah kliping tulisanku dan majalah yang menayangkan tulisan - tulisanku. Waktu itu aku sering menulis sosok anak muda berprestasi dan dan kadang meliput gaya anak muda yang lagi gemar jalan ke Mal (Yogya), Juga sosok petani ulet atau aktifis gereja yang rendah hati namun pekerja keras.

Yang membanggakan adalah ketika liputanku dan hasil jepretanku menjadi topik utama majalah. Waktu itu aku memotret sebuah gereja di dekat alun - alun kota Magelang dan mewawancarai Pasturnya, aku tulis dengan gaya bertutur atau sebutlah story telling dan feature. Jepretanku akhirnya menjadi cover majalah itu.  Bahagiaku tidak terkira. Aku jadi bermimpi rasanya luar biasa jika seandainya menjadi wartawan. Pelan - pelan tulisanku banyak di muat di majalah itu.

Tapi karena kejomloan dan pengangguran akutku ( karena menulis waktu itu bukan sebuah pekerjaan, menurut orang tuaku) membuat mimpi menjadi wartawan terkendala. Aku jadi sok memakai rompi, memakai asesoris wartawan. Entah tahun berapa aku pernah berhasil mendekat dan memotret Megawati Soekarno. Gayaku persis seperti wartawan Kompas, wartawan foto yang memakai kamera canggih, sedangkan aku hanya memakai kamera semi digital yang sudah mulai agak ngadat.

Aku bergaya wartawan padahal tidak punya kartu pers. Namun aku punya majalah bersama teman meskipun majalahnya hanyalah majalah gereja. Ke mana - mana selalu memakai rompi dan kamera. Untuk bisa mendekat ke ring dua ( Megawati Wakil Presiden sedangkan Presidennya waktu itu Gusdur). Megawati sedang meninjau pos pengamatan Merapi. Dari sekitar 15 kilometer dari Babadan sudah ada penjagaan ketat dari pihak istana. Saya pede saja jalan dengan rompi sampai ke lokasi Pos Pengamatan Babadan yang berada di daerah Dukun, Magelang Jawa Tengah. Untungnya paspampres tidak menanyakan kartu pers. Saya iseng saja ngobrol dengan pengawal yang berada di dekat helikopter sehingga akhirnya bisa memotret sangat dekat Megawati yang memakai baju biru.

Megawati banyak diamnya, lebih sering mendengarkan keterangan dari kepala pos pengamatan Merapi. Suara geluduk dari sebelah selatan membuat saya sebetulnya agak takut juga. Babadan khan amat dekat dengan Merapi, bagaimana jika tiba -- tiba meletus, habis sudah awak. Di dekat saya ada wartawan Kompas yang kameranya canggih tersampir di pundaknya kamera profesional, dengan lensa yang panjang, dengan lensa wide dan lensa khusus untuk memotret sosok. Kamera lensa panjang tentu untuk memotret Merapi, sedangkan kamera  wide bisa saja memotret suasana sekitar pos pengamatan dan memotret sosok Megawati yang pendiam. Saya benar - benar merasa (sok wartawan), sebab tampangku dulu benar benar mirip wartawan, memakai rompi, kamera dan tas kamera, tape recorder. Itu sebenarnya modalku untuk menulis majalah di Jogja.

Kalau seandainya ketika masuk ke lokasi saya ditanyakan kartu persnya pastilah saya akan berada di kerumunan di luar area pos pengamatan. Kalau ingat kejadian itu aku benar benar takjub pada diri sendiri, kok bisa meliput orang nomor dua di negeri ini. Hahahaha.

tangkapan layar salah satu tulisanku di koran (dokpri)
tangkapan layar salah satu tulisanku di koran (dokpri)
Aku jadi bermimpi tinggi menjadi wartawan foto, atau wartawan koran. Namun tidak seberapa lama saya ada panggilan dari Jakarta. Menjadi guru sebuah sekolah swasta di Jakarta. Mengaku saja Penabur. Orang tuaku mendorongku untuk menerima panggilan karena itulah pekerjaan sebenarnya, daripada luntang lantung tidak jelas. Waktu itu pendapatanku dari menulis jelas hanya bisa sedikit metraktir bakso dan, beli rokok sebatang dua batang (saya pernah mencoba menjadi perokok tapi gagal).

Mimpi Jadi Kenyataan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x