Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Sosok Tjiptadinata Effendi yang Inspiratif dan Mimpi Saya yang Masih Berserak

7 Januari 2021   14:44 Diperbarui: 7 Januari 2021   14:54 96 14 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sosok Tjiptadinata Effendi yang Inspiratif dan Mimpi Saya yang Masih Berserak
buku koleksi pribadi

Saya kadang merinding jika mendengar kata beranilah bermimpi. Dare to Dream kata orang Inggris, saya memang sering menemukan kata - kata itu, saya coba membuka - buka koleksi buku yang tidak beraturan, Ingat pernah membacanya. Tapi rasanya penulis pernah bertemu di mana.Oh ya ketika ajang Kompasianival tanggal 12 - 13 Desember di Mall Gandaria City dekat Pondok Indah saya sempat ketemu dengan Pak Tjiptadinata beserta istrinya Bu Roselina Effendi, secara senioritas saya boleh berbangga dong karena saya lebih dahulu bergabung di Kompasiana, sedangkan pak Tjiptadinata baru sekitar 2012 kalau tidak salah, tapi selama kurun waktu bergabungnya sampai awal tahun 2021 ini pencapaian, konsistensi, semangat, dan prestasi menulis tidak bisa dibandingkan.

Pak Tjipta begitu saya memanggil sudah menulis lebih dari 5256 (saya melihat saat menulis artikel ini) artikel di Kompasiana. Dan dalam mencapaian poinnya sudah lebih dari 258.000 point. Beliau berhak menyandang sematan maestro, sedangkan saya di kelas penjelajah saja masih empot- empotan. Seharusnya saya sudah maestro kalau semangat konsistensinya sama dengan Pak Tjipta, tapi karena dalam kurun waktu 2010 sampai 2021 pernah sempat pasif selama beberapa tahun maka ya sudahlah, saya mesti realistis bahwa dalam setiap bidang selalu ada orang yang menonjol, konsisten terdepan dan selalu menjadi lebih baik dari orang lain.

Padahal Umur Pak Tjiptadinata itu usianya lebih tua dari ibu saya dan sedikit lebih muda dari ayah saya almarhum. Tapi di umur menjelang 80 tahun (dua tahun lagi. Pak Tjipta lahir di Padang, 21 Mei 1943) ia masih terus menulis dan konsisten one day one artikel ( minimal ). Pantas selama lebih 8 tahun ia sudah melenggang, artikelnya yang selalu memberi motivasi, semangat, dan mengingatkan tentang pengalaman manusia sudah melaju jauh, mungkin yang bisa mendekati hanya Pak Rustian Alanshori dan mungkin nanti Mas Irwan Rinaldi Sikumbang, dan Mbak Ari Budiyanti yang bisa sangat aktif  melaju menulis artikel.

Saya jelas akan tertatih - tatih mengejarnya, bisa pingsan bila memaksa diri. Ya sudah, bagi saya yang saya ingat dari motivasi Pak Tjipta adalah kerendahhatiannya untuk selalu belajar dari artikel - artikel para penulis yang lebih muda. Ia selalu memberi komentar yang membuat siapapun pasti akan tersanjung. Terimakasih untuk artikelnya yang menginspirasi, salam hangat Mas Joko. Jleb. Sungguh dalam dan membuat saya selalu semangat untuk menulis, meskipun ketika kumat malasnya bisa hampir sebulan saya tidak menulis.

Saya istilahkan dalam sepak bola semangatnya untuk terus bermimpi sekelas dengan Cristiano Ronaldo, hanya Pak Tjipta itu lebih dikenal dengan ikon atau sosok rendah hati, sedangkan karena ambisinya yang besar CR7 sering disematkan sebagai sosok yang arogan, congkak atau sombong, padahal dari berbagai artikel lain di luar permainan CR7 adalah sosok yang dermawan dan ramah terhadap fans dan orang yang kekurangan.

Pak Tjipta, adalah penulis yang betul - betul konsisten, ia terus menulis dan terus menulis, setiap hari ada saja ide menulis dan selalu memberikan contoh nyata bagaimana bisa menggerakkan mimpi menjadi kenyataan. Saya punya buku dari Pak Tjiptadinata Effendi judulnya adalah The Power of Dream atau Kekuatan Impian, terbitan Elex Media Komputido. Dari Kavernya muncul sebuah jembatan kayu. Sepenangkapan saya jembatan itu hanya mengantarkan seseorang untuk maju dan menatap danau atau pantai  sampai ke tengah.

kenang- kenangan foto ketika di booth Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina pada Kompasianival di Gandari City (Kompasiana/Ign. Joko Dwiatmoko)
kenang- kenangan foto ketika di booth Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina pada Kompasianival di Gandari City (Kompasiana/Ign. Joko Dwiatmoko)
Kaver itu menurut saya adalah semacam pertanyaan. Sejauh mana kekuatan impian mampu menjangkau seberang, melompat ke pulau di seberangnya?. Dengan impian hal yang di dunia nyata terbatas pasti akan kesampaian dengan kekuatan impian. Orang boleh bermimpi, tapi jangan hanya menikmati tidurnya yang perlu didorong adalah semangatnya untuk bekerja keras, berinovasi, berpikir, dan melakukan tindakan nyata agar mimpi itu bisa terwujud.

Apapun jika mau bekerja keras, mau berinovasi pasti akan bisa meraihnya. Dari impian muncul semangat, tidak gampang putus asa, tidak gampang menyerah. manusia akan belajar, bekerja dan mendorong dirinya sampai batas maksimal untuk bisa meraih mimpi tersebut.

Nah itulah yang bisa saya simpulkan dari buku bacaan karya Pak Tjiptadinata Effendi. Makanya sosok Pak Effendi itu menjadi contoh betapa tidak ada kata tua untuk mau berusaha, mau terus berkarya. Kalau Pak Tjiptadinata yang sudah melewati usia 75 tahun saja masih konsisten menulis setiap hari, apalagi yang masih muda, tentunya harus dan wajib mempunyai mimpi besar untuk terus berjuang, melewati rintangan, kemalasan, ketidakkonsistenan hingga akhirnya terkumpul karya fenomenal yang akan dikenal orang.

 Dibalik semangat berkaryanya tentu ada orang yang sangat berjasa untuk selalu menghidupkan semangat dalam keseharian, Dia adalah Roselina Effendi, Istri yang selalu mendampingi saat terpuruk, hidup dalam lingkaran kemiskinan, seia sekata dan bisa merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke 56.

 Salut dengan perjuangan Pak Tjiptadinata Effendi, malu rasanya awak jika tidak bisa mengejar semangat membara dari Pak Tjiptadinata Effendi. Dengan khidmad dan hormat saya berguru pada semangat dan konsistensi Pak Tjiptadinata Effendi dan pendamping, istri, pasangan hidup paling setia Bu Rose yang rajin datang di lapak tulisan saya di Kompasiana. Salam Berkah Dalem kata orang Jawa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x