Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Masa Pandemi, Seharusnya Guru Panen Ide Menulis

23 November 2020   15:49 Diperbarui: 7 Desember 2020   17:16 680 30 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masa Pandemi, Seharusnya Guru Panen Ide Menulis
Ilustrasi: Alek Kurniawan dalam Kompas.com

Pada masa Pandemi Covid-19 mengancam, Apa yang terpikirkan oleh guru? Seabreg tugas mengajar program daring, membuat soal lewat google form, menyusun PPt (Power Point untuk presentasi atau membuat media pembelajaran). Pastinya semua tugas administrasi guru dikerjakan di rumah, atau sebagian guru masih melakukan proses pengajaran di sekolah tapi tanpa siswa. Hanya menghadap laptop lalu membuka aplikasi google meet, atau zoom.

Masa Sih Tidak Ada Waktu Menulis?

Saya percaya tatap muka pelajaran tidak sebanyak ketika tatap muka langsung di kelas. Dan ketika tugas dan mengajar sudah sekolah lalu mau apa. Seabreg tugas sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga atau guru bagi anaknya sendiri?

Satu jam atau dua jam pasti ada waktu untuk menulis.Coba hanya sekitar 500 sampai 700 kata saja. Mau cerpen, puisi, artikel atau catatan harian masa nggak bisa sih. Tapi mungkin saja ada banyak guru yang jenuh dengan deretan kata. Sebab hampir setiap hari harus mengulang membaca buku teks.

Maka mereka mungkin tidak akan banyak melongok bacaan, apalagi yang berat berat, mending menonton drakor atau sinetron yang menenangkan jiwa, atau main WA  sekedar canda- candaan atau ngeshare tempat hangout, atau makanan baru.

Tapi pasti akan beda dengan guru yang sudah ketagihan menulis. Tidak mungkin melewatkan waktu sisa yang cukup banyak untuk menderetkan kata. 

Artinya ya menulis. Mereka guru dan kebetulan senang menulis tahu betul bahwa banyak kesempatan untuk menulis. Mulanya mungkin hanya kisaran 300-an kata, selanjutnya mencoba lebih banyak dan akhirnya bablas menulis dan menulis.

Di Kompasiana di blog khusus guru, di jurnal-jurnal pendidikan guru sudah banyak yang sadar bahwa menulis itu penting. Bukan saja mengasah otak tapi bisa jadi sebagai lompatan untuk menjadi nara sumber webinar, diundang untuk workshop penulisan, ikut lomba bertema pendidikan, bahkan bukan hanya pendidikan saja. 

Banyak yang mengikuti lomba menulis cerpen, menulis puisi, opini. Banyak guru terlibat aktif dalam kursus kursus penulisan. Mengikuti webinar motivasi menulis. Jagat semakin jembar untuk guru yang merasa bahwa "petakhilan sebagai penulis" itu tidak ada ruginya.

Ya masalah kuota itu relatiflah. Banyak dari mereka yang akhirnya keasyikan menulis hingga sering menang lomba. Jumlahnya lumayanlah hampir setara dengan sertifikasi. Dan kalau misalnya sering menang lomba tentunya artikelnya akan terwujud menjadi buku. Lompatan kesempatan untuk menjadi guru plus semakin lebar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x