Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko GURU

Seorang Guru, Suka Menulis.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Terobosan Anies Baswedan di Tengah Hiruk Pikuk Politik Nasional

14 Oktober 2018   13:47 Diperbarui: 17 Oktober 2018   13:05 21337 11 6
Terobosan Anies Baswedan di Tengah Hiruk Pikuk Politik Nasional
Janji rumah DP 0 % berbentuk Rusun Anies Baswedan (netralnews.com)

Anies Baswedan mulai mewujudkan satu persatu janjinya ketika kampanye. Salah satunya adalah dengan mewujudkan mimpi warga Jakarta yang ingin mendapatkan rumah hunian dengan DP 0 persen. Tetapi yang terbayangkan sebuah rumah yang pantas dimiliki adalah rumah susun. Anda jangan membayangkan rumah yang dijanjikan adalah unit rumah satu lantai, cluster, atau perumahan-perumahan dengan lahan tanah yang cukup. 

Di Jakarta sangat sulit menemukan lokasi perumahan yang sesuai dengan mimpi Anda. Kalaupun ada tentu susah terjangkau oleh kantong kelas menengah ke bawah yang pendapatannya di bawah 7 juta.

Yang realistis adalah rumah susun. Hunian bagi keluarga-keluarga yang ingin tetap tinggal di Jakarta dengan cicilan relatif murah sekitar 2,1 juta sampai 2,6 dengan angsuran selama 20 tahun. Rusun yang diberi nama "Samawa" oleh Anies Baswedan saat ini sedang dalam tahap pembangunan 4 lantai dari 20 lantai yang direncanakan. 

Samawa menurut Anies Baswedan berarti Solusi Rumah Warga. Dengan memiliki rumah ini diharapkan warga lebih tenang karena bisa memiliki rumah sendiri meskipun dalam bentuk rusun. Status rumah susun untuk warga perkotaan adalah hak guna bangunan dengan masa kepemilikan 30 tahun. 

Miniatur Rusun Kelapa Village Jakarta Timur seperti yang dijanjikan Anies DP 0 persen (poskotanews.com)
Miniatur Rusun Kelapa Village Jakarta Timur seperti yang dijanjikan Anies DP 0 persen (poskotanews.com)
Bagi warga yang masih mengontrak dan kesulitan mendapatkan rumah di sekitar Jakarta tentu sebuah berita baik. Dengan hunian tetap mereka bekerja "Jadi bukan sekadar House tetapi rumah dalam artian home", begitu yang dikatakan Anies (Kompas, Sabtu 13 Oktober 2018 hal, 27)

Persoalan Dasar Kota Rumah Tinggal

Persoalan kota- besar seperti Jakarta adalah masalah rumah. Jika ingin mempunyai rumah layak huni dan terjangkau tidak mungkin bisa memilih dan mendapatkannya di wilayah Jakarta. Mereka tentu akan menyasar di daerah-daerah penyangga seperti di Bekasi, Bogor, Tangerang. Jakarta sudah jenuh. Yang diperlukan untuk solusi memiliki rumah adalah dengan memiliki unit rumah susun. 

Saat ini rumah susun yang siap huni berada di sekitar Cengkareng, di Pondok Kelapa. Sedangkan program yang dijanjikan Anies untuk memenuhi janji politiknya berada di sekitar Jakarta Timur tepatnya di Kelapa Village Jakarta Timur. Di samping di Kelapa Dua Village, Pemda melalui Perusahaan Daerah Pembangunan Sarana Jaya Yoory C Pinontoan (Direktur Utama) akan mewujudkan sekitar 4 menara terdiri dari 780 unit siap huni (Kompas, 13 Oktober 2018 dan Koran Tempo, edisi Sabtu - Minggu 13 -14 Oktober 2018)

Anies dan Desakan Janji Politik

Setiap gubernur mempunyai target terutama karena janji politik selama kampanye menjelang pemilihan Kepala daerah. Ada yang banyak pesimis dengan janji-janji politisi. Masyarakat terbelah dengan perseteruan dukung mendukung pasangan calon (paslon). Anies terpilih menjadi gubernur di tengah intrik, dinamika politik yang cukup menghantam iklim demokrasi yang seharusnya mengedepankan toleransi, tidak menonjolkan isu-isu agama.

Sebelum Era Anies Baswedan, Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) telah membangun Jakarta dengan terobosan Baru. Ketegasan Ahok dan sikapnya yang tedeng aling-aling telah memberi harapan baru Jakarta masa depan. Namun akibat kebijakannya yang tidak mau kompromi itu Basuki mengalami banyak hambatan, terutama pergesekannya dengan wakil rakyat daerah Jakarta, Demo 212 dan demo-demo serupa yang menggerus elektabilitas Ahok hingga akhirnya terpeleset dalam kasus "penistaan agama".

Suka tidak suka Jakarta telah memilih. Kini era Anies Baswedanlah yang menjadi tumpuan harapan rakyat. Banyak yang pesimis dengan terobosan Anies Baswedan dalam membangun Jakarta. Namun setiap Gubernur pasti mempunyai pendekatan tersendiri untuk memimpin daerahnya. Ahok dengan gaya eksekutor dan kini Anies dengan pendekatan "kemanusiaan" dan konsep-konsep akademis yang dilakukan oleh penggagas Indonesia mengajar dan mantan Rektor Universitas Paramadina.

Siapapun gubernurnya jika mempunyai tujuan memperbaiki kinerja birokrasi, mempermudah urusan terutama untuk kepentingan masyarakat. Pengamatan, penilaian tentu akan selalu dicatat masyarakat dalam rentang waktu pemerintahannya.

Gubernur Bukan hanya Konseptor tetapi juga Eksekutor

Anies Baswedan harus bisa membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sebagai konseptor, penggagas, tetapi juga eksekutor. Yang terpenting adalah berani melawan para koruptor, baik yang berasal dari pejabat karier, maupun teman-temannya yang dulu menjadi menjadi tim sukses. Ini yang masih ditunggu oleh masyakat Jakarta. 

Bisakah Anies melawan hasrat kawan-kawannya sendiri yang ingin ikut andil dalam pemerintahannya setelah secara militan membantunya mengalahkan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat serta para pendukungnya yang masih terus menyangsikan keseriusan Anies dalam mengubah wajah Jakarta . Tumpuan harapan di pundak Anies untuk menyelesaikan karut marut Jakarta. 

Masyarakat bermimpi Masa depan Jakarta sejajar dengan kota-kota metropolitan lainnya di belahan dunia terutama kota-kota di negara maju seperti New York, London, Seoul, Tokyo, Berlin, Amsterdam, Roma, Singapura dan sebagainya. Kalau bisa tentu akan mudah melangkah menuju kursi RI 1 dengan catatan menggunakan taktik politik elegan. Tidak mengedepankan isu primordial semacam isu agama, ras maupun suku.

Alangkah lebih bagusnya juga jika meneruskan kebijakan pemimpin sebelumnya yang positif, tidak hanya sekedar mengganti dan memangkas kebijakan pemimpin sebelumnya hanya karena dendam politik. Jika setiap ganti rezim selalu merubah kebijakannya dan mengabaikan kontribusi pemerintahan sebelumnya tentu tidak mudah sebuh kota, sebuah daerah berkembang. Konsep pembangunan harusnya terencana selama puluhan tahun. Bukan hanya karena pergantian pimpinan akhirnya terjadi chaos, stagnan dan seperti mengulang rencana pembangunan dari dasar.

Sebagai metropolitan kejenuhan, kemacetan, keruwetan harus diurai pelan- pelan. Hambatan politik harus ditebas. Ibaratnya Jakarta adalah pintu utama untuk melihat Indonesia secara keseluruhan. Jika Jakarta hanya riuh oleh intrik politik, bagaimana mungkin bisa mengubah Jakarta menjadi metropolitan yang modern tetapi tetap beradab. 

Tugas Anies Baswedan untuk mengubah dan membangun Jakarta sebagai kota ramah lingkungan beradab, toleran dan tidak semrawut. Layak ditunggu realisasinya. Salam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2