Kandidat

Terlalu Prematur, Sandiaga Uno Disebut Lebih Populer dibandingkan Ma'ruf Amin

12 Oktober 2018   05:43 Diperbarui: 12 Oktober 2018   06:00 547 1 2
Terlalu Prematur,  Sandiaga Uno Disebut Lebih Populer dibandingkan Ma'ruf Amin
ilustrasi ll dokpri

Belakangan ini sebagian orang meyakini bahwa cawapres Sandiaga Uno merupakan sosok yang lebih dikenal dan populer di masyarakat dibandingkan lawannya, KH. Ma'ruf Amin. Meski demikian, itu bukan jawaban final, mengingat masa kampanye masih panjang.

Cawapres Sandiaga Uno dikatakan lebih unggul dibandingkan Ma'ruf Amin, sebab mantan Ketua MUI itu belum melakukan safari politik ke daerah-daerah. Sehingga sangat wajar bila Sandiaga saat ini lebih dikenal masyarakat.

Apalagi, mantan Wagub DKI Jakarta itu telah memulai safari ke daerah-daerah saat masa kampanye belum dimulai. Artinya, dia sudah curi start untuk berkampanye dengan turun ke masyarakat, dimana tindakan itu sebenarnya tidak menaati aturan resmi KPU.

Meski demikian, menurut survei Indikator Politik Indonesia, jarak popularitas Sandiaga dan Ma'ruf Amin sangat tipis, sekitar 3 persen saja. Selisih itu kemungkinan besar akan disalip oleh KH. Ma'ruf Amin ketika sudah mulai terjun ke lapangan.

Apabila Rais 'Aam PBNU itu semakin sering melakukan safari politik, maka dipastikan akan meningkatkan popularitasnya. Tim kampanye Jokowi-Ma'ruf saat ini sudah menyusun agenda untuk turun ke masyarakat, dan hal itu akan mampu mengungguli elektabilitas Sandiaga Uno di hari pemilihan.

Dalam beberapa kesempatan mengunjungi masyarakat di berbagai daeerah, Sandiaga Uno kerap melakukan kampanye dengan cara yang sedikit 'norak'. Ia memulai pencitraan dengan memanfaatkan isu ekonomi dan memberikan janji palsu tentang perbaikan ekonomi.

Sebenarnya bila diamati, banyak pernyataan Sandiaga Uno soal perekonomian yang meleset dari kenyataan di lapangan. Misalnya, dia menyebutkan tempe saat ini setipis atm, belanja 100 ribu rupiah hanya dapat beberapa barang kebutuhan pokok, dan lain sebagainya.

Pernyataan itu, akhirnya banyak dibantah sendiri oleh masyarakat. Ibu-ibu telah membantah bahwa tempe saat ini setipis atm. Faktanya ketika berkunjung ke Pasar Tradisional Tanjung Jember, Jawa Timur, dia justru mendapati tempe berukuran besar.

Selain itu, kampanye Sandiaga juga kerap menginggung-nyinggung soal isu SARA.  Kehadiran Sandiaga Uno dalam acara Tabligh Akbar di Monas adalh salah satu usahanya menarik simpati umat Islam dan mulai memainkan isu SARA,

Ketika itu, Gatot Nurmantyo disebut sebagai Jenderal Umat Islam. Pemanggilan istilah tersebut jelas sangat politis karena tidak ada istilah tersebut. Sedangkan Sandiaga Uno yang tak pernah belajar agama Islam secara formal tiba-tiba dipanggil Ustadz.

Masa kampanye harus diwaspadai masyarakat dengan tanda banyaknya informasi yang dipelintir. Kita harus mampu berpikir secara jernih dan obyektif agar tidak mudah tergiring dalam pengalihan wacana.