Mohon tunggu...
Dwi Klarasari
Dwi Klarasari Mohon Tunggu... Administrasi - Write from the heart, edit from the head ~ Stuart Aken

IG: @dwiklara_project | twitter: @dwiklarasari

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sai Anju Ma Au, Diari!

23 Februari 2021   16:27 Diperbarui: 23 Februari 2021   17:02 715
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar oleh StockSnap -- pixabay.com

Walaupun begitu, sependek ingatanku aku tidak pernah berselisih dengan tetangga. Kalau sok akrab, iya! Namun, bila tanpa sengaja aku berbuat salah, lewat artikel ini aku meminta maaf kepada mantan induk semang dan para tetangga yang pernah kubuat kecewa. Mereka yang sekarang masih eksis juga, deh!

Tunggu, Di! Aku ingat pernah membuat tetanggaku kesal! Waktu tinggal di rumah petak, tetangga sebelah sering komplain karena aku hobi bikin jus jambu biji. Pasalnya, si Uni itu ndak suka aroma jambu biji. Aneh aja, sih!

"Mbak Klaraaa.... aduuuh! Pasti beli jambu lagi ya?" keluhnya setiap kali aku membeli jambu atau sedang asyik bikin jus jambu. Heran juga, penciuman dia sangat tajam. Kurasa aroma buah jambu itu terbawa oleh sepoi angin yang bertiup kuat dari hamparan sawah di belakang "apartemen". Ingat kan Di, "apartemen" di pinggiran Jakarta yang masih asri.  

Biasanya aku tertawa seraya berseru menawarkan jus itu, "Jambu biji banyak mengandung vitamin C, tahu!"

Jangan curiga dulu Di, kami tidak berantem! Kebetulan tak lama setelah berkenalan kami langsung bersahabat. Jadi, apa yang dia katakan itu semacam komplain dalam bentuk canda, dan tanggapanku juga sekadar guyon. Begitu pun, demi kebahagiaan sahabat (sekaligus tetangga) aku kurangi jadwal mengonsumsi jambu biji. Sesekali saja kalau sedang teramat pengin.

Oya, aku juga pernah komplain pada tetangga perihal aktivitasnya memutar perangkat audio, "Please Mr. D, jangan terlalu kenceng dong, aku juga pengin dengar musik favoritku!"

Keluhan itu kusampaikan kepada Mr. D (nama panggilannya, mirip kamu ya Di?) dengan cara bercanda karena tetangga yang satu ini kebetulan juga sudah menjadi sahabatku. Kamu ingat kan Di, sejumlah penghuni dari 14 pintu rumah petak dua lantai rasa apartemen itu sudah bersahabat karib. Kami datang dari berbagai suku (bahkan negara) dan agama; sudah ataupun belum berkeluarga; punya ataupun belum memiliki anak; orang kantoran atau wiraswasta; dan sebagainya.

Masalahnya Di, tidak semua tetangga bisa saling komplain dalam irama canda tawa seperti pengalaman tersebut. Apalagi kalau relasinya tidak terlalu akrab atau saling sungkan, apalagi kalau terkait masalah yang bersifat personal.

Suatu kali pernah ada suami-istri bertengkar dengan saling melempar piring gelas, dll. Kami para tetangga tidak berani mendekat. Takut ikut kena timpuk! Setelah mereka kehabisan piring gelas barulah kami datang mendamaikan. Hahaha, bercanda Di!    

Kejadian seperti Mr. D pun pernah terulang dengan tetangga di tempat lain. Tetanggaku ini sering keasyikan memutar musik. Lagu-lagunya berganti-ganti dari beragam genre. Setiap orang memiliki hak untuk menikmati musik favoritnya. Aku pun suka mendengarkan musik. 

Kamu pasti sepakat perihal manfaat musik dalam aktivitas kepenulisan. Dalam salah satu artikelnya, Mas Khrisna Pabichara menyarankan untuk menulis sembari mendengar musik. Musik dapat memantik relaksasi hingga mudah berkonsentrasi, mengantar pikiran ke negeri khayal, ke padang imajinasi. Demikian sekelumit uraian sang penulis gaek ini dalam artikel Jika Otakmu Butek, Menulislah Sambil Mendengarkan Musik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun