Mohon tunggu...
Dwi Aprilytanti Handayani
Dwi Aprilytanti Handayani Mohon Tunggu... Administrasi - Kompasianer Jawa Timur

Alumni Danone Digital Academy 2021. Ibu rumah tangga anak 2, penulis konten freelance, blogger, merintis usaha kecil-kecilan, hobi menulis dan membaca Bisa dihubungi untuk kerjasama di bidang kepenulisan di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tradisi Pilihan

Hikmah Lailatul Qadr (Rasanya) Tak Akan Sampai pada Tiga Golongan Ini

22 April 2022   22:16 Diperbarui: 22 April 2022   22:22 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menjemput Lailatul Qadr Dokpri

Ramadan telah memasuki sepuluh hari terakhir. Rasanya ingin memeluknya erat mengingat kualitas puasa Ramadanku masih tersendat-sendat. Di sepuluh hari terakhir Ramadan, umat muslim diingatkan kembali tentang kemuliaan Lailatul Qadr, malam yang setara dengan seribu bulan, sehingga jika seseorang beribadah di malam itu ia akan mendapat ganjaran ibadah selama seribu bulan.

Guru mengaji saya menjelaskan beberapa versi tafsir ulama berkaitan dengan Lailatul Qadr. Ada ulama yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr adalah malam sepanjang bulan Ramadan. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr adalah seluruh malam di 10 hari terakhir. Dan  pendapat yang paling banyak diyakini adalah Lailatul Qadr berada di malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Maka di sepuluh hari terakhir terutama di malam-malam ganjil, seolah menjadi tradisi, masjid dipenuhi jamaah yang memakmurkan masjid dengan tujuan berburu hikmah Lailatul Qadr. Serunya lagi masing-masing jamaah atau kelompok orang biasanya akan mengklaim telah menemukan Lailatul Qadr dalam perburuannya. Hal ini didasarkan pada keyakinan sesuai tanda-tanda Lailatul Qadr seperti tafsir para ulama. Yaitu malam yang tenang dan sejuk, seolah seisi bumi sedang tunduk. Pagi harinya matahari bersinar tidak redup tidak panas, cahayanya cenderung putih teduh tidak menyilaukan.

Saya sendiri hingga saat ini tak berani mengklaim telah menemukan Lailatul Qadr setidaknya sekali dalam hidup saya. Sebab siapalah diri ini, belum pernah punya kesempatan beriktikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Kualitas ibadah rasanya juga biasa-biasa saja. Yang saya harapkan hanyalah ridho Allah semata, dan ampunan atas dosa-dosa.

Meski demikian saya yakin hikmah Lailatul Qadr bisa hadir kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun rasanya, hikmahnya tak akan sampai kepada tiga jenis orang ini:

  • Orang yang tidak punya udzur namun enggan berpuasa

Berpuasa Ramadan wajib hukumnya bagi muslim yang sehat, berakal, baligh dan mummayiz (mampu membedakan baik dan buruk) Jika ada orang yang tidak punya udzur, sehat dan memenuhi syarat berpuasa tetapi tidak mau berpuasa maka ia terhitung telah melakukan dosa. Bagaimana bisa seseorang yang berpuasa Ramadan saja ogah, kok mendapatkan ganjaran Lailatul Qadr yang penuh hikmah?

  • Orang yang berpuasa bukan karena Allah

Syarat diterimanya ibadah adalah diniatkan karena Allah dan sesuai tuntutan Rasulullah. Mari kita renungkan, jika seseorang menunaikan ibadah puasa Ramadan bukan karena Allah tapi karena sungkan pada mertua atau teman kira-kira apakah ia akan menemukan hikmah Lailatul Qadr yang penuh kedamaian?

  • Orang yang menjadikan Lailatul Qadr sebagai target belaka

Tak ada larangan berburu Lailatul Qadr. Tapi membidik Lailatul Qadr sebagai target belaka kok rasanya Ramadan menjadi sia-sia. Berhati-hatilah dengan target meraih keutamaan Lailatul Qadr. Jangan sampai terlena, karena yakin sudah mendapat ganjaran beribadah seribu bulan, kemudian selepas Ramadan ibadahnya ogah-ogahan. Jadi hikmah Lailatul Qadr mana yang didapatkan?

Namun, semua kembali kepada kuasa Allah semata. Bisa saja ketiga golongan orang yang kita perkirakan tak akan mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr ternyata Allah turunkan  hikmah kepadanya sebagai hidayah. Seperti saat kita mengira hikmah Lailatul Qadr hanya turun pada orang yang beriktikaf di masjid saja, namun orang yang berada dalam perjalanan namun bersungguh-sungguh memohon ampunan juga memiliki hak dan kans yang sama.

Sebab hidup adalah perjalanan, Ramadan saat memohon ampunan Dokpri
Sebab hidup adalah perjalanan, Ramadan saat memohon ampunan Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Tradisi Selengkapnya
Lihat Tradisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun