Mohon tunggu...
Dwi Aprilytanti Handayani
Dwi Aprilytanti Handayani Mohon Tunggu... Kompasianer Jawa Timur

Ibu rumah tangga anak 2, penulis konten freelance, blogger, merintis usaha kecil-kecilan, hobi menulis dan membaca Bisa dihubungi untuk kerjasama di bidang kepenulisan di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

"On The Street" dan "Online" Gaya Berlebaran di Masa Pembatasan

14 Mei 2021   10:30 Diperbarui: 14 Mei 2021   10:31 364 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"On The Street" dan "Online" Gaya Berlebaran di Masa Pembatasan
Lebaran on the street, Dokpri

Tak terasa kita memasuki lebaran hari kedua, masihkah teman-teman intens bersilaturahim dari rumah ke rumah? Silaturahim di masa pandemi rasanya serba salah. Nggak berkunjung ke rumah tetangga atau keluarga yang berada dalam jarak dekat kok kurang berkesan, tapi berkunjung pun khawatir, jangan-jangan si virus corona turut berkeliaran dan ajang silaturahim malah jadi arena penularan.

Eh ya sekedar informasi saja, sebagian ahli bahasa menyarankan bahwa penulisan yang tepat adalah "silaturahim" bukan "silaturahmi" Silaturahim berasal dari serapan bahasa Arab : Shillah Ar Rahim, shillah bermakna keluarga atau kerabat. Rahim adalah kasih sayang. Sehingga silaturahim bermakna kekerabatan dalam kasih sayang. Namun penggunaan kata silaturahmi lebih familiar, maka tak ada yang mempermasalahkan kata silaturahim dan silaturahmi, sebab berdebat berpotensi memutuskan tali kekerabatan.

Menjaga silaturahim adalah salah satu hal yang diutamakan dalam syariat agama. Bahkan menyambung tali silaturahim yang pernah putus merupakan salah satu amalan utama.

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa:1).

Lalu bagaimana menjaga komunikasi dan kekerabatan di masa pandemi? Amankah berkunjung dari rumah ke rumah? Musim libur lebaran tahun ini pemerintah masih mengadakan larangan mudik dan pulang kampung. Sebagian besar masyarakat mematuhi anjuran dan larangan tersebut. Entah dengan alasan ingin mencegah penularan virus corona, atau enggan terjaring operasi ketupat dan harus memenuhi berbagai prosedur ribet yang dikenakan berdasarkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah. Ribet banget jika terjaring operasi ketupat di tengah pandemi sebab diwajibkan menjalani rapid test antigen di tempat, bahkan yang hasil testnya negatif pun tetap diwajibkan karantina selama lima hari di tempat yang disediakan.

Imbas dari larangan pemerintah tahun ini gang di perumahan tetap ramai. Sebagian besar dari kami adalah orang pendatang. Saat lebaran sebelum pandemi biasanya mudik beberapa hari, perumahan pun jadi sepi. Tahun ini hampir semua penghuni rumah tidak bisa pergi ke luar kota untuk menemui orang tuanya. Mereka memilih pulang kampung usai berakhirnya aturan larangan mudik. Mirip suasana tahun lalu, kami berlebaran di rumah saja, tetapi kami terlalu khawatir untuk berkunjung dari rumah ke rumah. Bedanya tahun ini situasi lebih landai dan kondusif, tak terlalu dihantui rasa takut bertemu tetangga sendiri. Maka silaturahim dengan tetangga menjadi tema lebaran kali ini. 

Usai sholat Idulfitri kami saling berkunjung, meski hanya menyapa di pintu pagar, tanpa masuk dan duduk untuk ngobrol dan menikmati hidangan lebaran. Ndilalah rombongan "sayap kiri gang" bertemu dengan "sayap kanan gang" entah siapa yang punya ide silaturahim di jalan ini akhirnya diabadikan dalam sebuah kenangan foto bersama. Maklum jarang-jarang saat lebaran kami bisa berkumpul dalam formasi nyaris lengkap dalam satu gang. Biarpun foto bersama juga tak tampak muka, karena mengenakan masker sebagai bentuk taat protokol kesehatan.

Usai silaturahim on the street beberapa di antara kami menerima panggilan video call melalui aplikasi whatsapp. Rupanya sanak saudara, orang tua mereka di kampung halaman mengajak silaturahim online. Sesampai di rumah ternyata saya juga mendapat panggilan whatsapp call dari adik, kakak dan sepupu di luar kota dan luar pulau. Seru-seru lucu, kalau ngobrol face to face berdua sih biasa aja, seperti ngobrol gitu. Nah kalau berkelompok enam orang, kadang bingung eh tadi siapa nih yang nanyain kabarku? Mas A atau mas B, atau malah bengong beberapa saat karena ngga tau mau ngobrolin apalagi hahaha.

Silaturahim Online, Dokpri
Silaturahim Online, Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x