Mohon tunggu...
Dwi Aprilytanti Handayani
Dwi Aprilytanti Handayani Mohon Tunggu... Kompasianer Jawa Timur

Ibu rumah tangga anak 2, penulis konten freelance, blogger, merintis usaha kecil-kecilan, hobi menulis dan membaca Bisa dihubungi untuk kerjasama di bidang kepenulisan di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Jatuh Bangun Aku Mengejarmu Wahai #SamberTHRKompasiana

8 Mei 2021   10:26 Diperbarui: 8 Mei 2021   10:31 396 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jatuh Bangun Aku Mengejarmu Wahai #SamberTHRKompasiana
Jemariku menari, Samber THR, Dokpri

"Nulis satu artikel sehari selama sebulan, dapat berapa cuan?" tanya suamiku waktu kupintai restu sebelum mengikuti kompetisi #SamberTHRKompasiana 

"Lha, kalau menang lombanya Pa, makanya doain menang" Paksu hanya tersenyum. Ya mudah-mudahan senyuman itu sebagai perlambang restu yang diberikan. Sehingga yang saya kerjakan ini pun bernilai ibadah di bulan Ramadan.

Kompasiana memang luar biasa. Memotivasi untuk membuktikan sebuah konsistensi berbalut kompetisi. Menulis selama sebulan bukanlah sebuah permainan. Butuh tekad kuat, manajemen waktu, stamina tangguh dan mood yang tidak serampangan. Saya sudah membuktikannya sendiri. Tahun lalu mencoba ikut Samber THR, berhubung waktu itu masih sibuk sebagai penulis lepas yang terikat kontrak dengan suatu website, maka saya tak punya cukup waktu untuk mengejar DL Samber THR. Atau pilihan kedua, saya merelakan waktu untuk tidak beribadah sunnah di bulan Ramadan demi bisa menulis sekaligus tiga artikel, dua artikel untuk tempat kerja dan satu untuk Kompasiana. Duh, nggak deh, sayang banget meninggalkan waktu berharga di bulan Ramadan demi sebuah kompetisi. Bagaimanapun insan penuh dosa ini masih berharap mendapat ampunan dengan memperbanyak ibadah dan istighfar di bulan suci. 

Apa artinya berkompetisi di sini hanya mengejar duniawi? Tergantung niatnya juga sih. Jujur, saya juga butuh hadiah kompetisi sebagai penghasilan. Apalagi kondisi finansial akhir-akhir ini makin sunyi akibat pandemi. Tetapi jika niat semula HANYA mengejar hadiah, pasti hanya akan mendapat lelah yang sia-sia belaka. Maka saya berupaya meluruskan niat. Saya menulis sebagai bentuk rasa syukur, masih dikaruniai nikmat kesehatan dan waktu lapang, yang mencoba untuk tidak saya sia-siakan. Apalagi sejak website yang mempekerjakan saya mati suri, waktu lapang saya terasa lebih menjadi-jadi.. Jadilah saya pekerja lepas sejati.

InsyaAllah, saya yakin mendapat kebaikan dari kompetisi Samber THR ini. Kita bisa belajar banyak hal, terutama tentang makna istiqomah dan konsistensi. Anggap saja kompetisi menulis 30 hari ini bagai perjuangan kita berpuasa di bulan Ramadan. Berapa banyak yang kemudian jatuh berguguran. Dapat lelah, dahaga dan laparnya doang karena kualitas puasanya rusak oleh emosi tak terkendali, lisan tak terkunci atau hati yang dihinggapi iri hati dan benci. Bedanya, dalam kompetisi Samber THR, gugurnya karena terlewat DL oleh berbagai sebab dan hambatan.

Dari kompetisi ini saya juga belajar untuk lebih profesional. Sebagai konten kreator kita dituntut menyajikan konten berkualitas dan multitalenta. Pada mystery challenge kita dituntut memacu adrenalin, menguras ide untuk mencoba sesuatu yang bahkan belum pernah dilakukan sebelumnya. Seperti VLog, Fyuuh, saya termasuk kaum nggak pede untuk nge- Vlog ria. Tapi nekaad demi Kompasiana, meski hasilnya sederhana. Demi Samber THR pula saya buat satu folder khusus untuk menyimpan draft tulisan serta foto penunjang. Folder bernama "Ahaa Samber THR" adalah saksi bisu saya bersungguh-sungguh mengikuti kompetisi ini.

Kumpulan draft dan foto untuk Samber THR di folder Ahaa Samber THR, Dokpri
Kumpulan draft dan foto untuk Samber THR di folder Ahaa Samber THR, Dokpri

Samber THR juga mengajarkan saya mengatur waktu dengan bijak. Meski jobless bukan berarti benar-benar pengangguran. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci manual nggak pakai mesin, bersih-bersih, setrika. Dan sesekali saya juga menggoreng bawang pesanan. Sesekali datang pula pekerjaan endorse yang butuh waktu untuk menyiapkan materi, foto dan caption. Duh MasyaAllah seperti sedang berlari maraton, membagi waktu dengan bijak, antara bekerja dan beribadah di bulan Ramadan. 

Masalah moody? Samber THR menyentilku agar mampu mengelola emosi dengan baik. Seperti momen ketika menulis artikel My New Healthy Lifestyle, suasana hati sedang tak tentu arah karena harus melawan rasa sedih dan kehilangan teramat sangat atas meninggalnya sepupu yang usianya hanya terpaut sebulan dengan saya. Apalagi penyebab meninggalnya adalah virus corona. Sungguh tema yang sulit bagi saya saat itu, menulis tentang kiat sehat di era new normal sedangkan kerabat dekat baru saja meninggal sebagai salah satu korban pandemi.

Intinya saya benar-benar jatuh bangun mengejar Samber THR Kompasiana. Jatuh bangun tenaganya, Jatuh bangun emosi juga. Agar tak melewatkan waktu barang sehari saja. Alhamdulillah hingga hari ke-25 masih bisa menyajikan konten terbaik sebatas kemampuan saya. Begitu berartinya perjuangan Jatuh Bangun Mengejar Samber THR ini hingga saya merasa perlu mengabadikannya dalam thread twitter tersendiri.