Mohon tunggu...
Dwi Aprilytanti Handayani
Dwi Aprilytanti Handayani Mohon Tunggu... Kompasianer Jawa Timur

Ibu rumah tangga anak 2, penulis konten freelance, blogger, merintis usaha kecil-kecilan, hobi menulis dan membaca Bisa dihubungi untuk kerjasama di bidang kepenulisan di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

"Bangun... Bangun... Sahur Sahur Sahur..."

1 Mei 2021   07:02 Diperbarui: 1 Mei 2021   07:06 379 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Bangun... Bangun... Sahur Sahur Sahur..."
Speaker biasa nih, bukan toa masjid, Dokpri

Sahur merupakan bagian dari ibadah puasa. Berbuka dan makan sahur adalah satu kesatuan yang dibutuhkan agar puasa lebih afdol. Berbuka dan makan sahur diatur dalam syariat Islam, sebab Islam tidak memperbolehkan puasa terus menerus tanpa berbuka.  Sahur tidak wajib dalam berpuasa, tidak makan sahur pun puasanya tetap sah. Tetapi waktu sahur adalah waktu yang penuh berkah. Sahur membedakan puasanya orang muslim dengan umat lainnya. Waktu sahur adalah waktu mustajabah untuk berdoa. Oleh karena itu sahur sangat dianjurkan. Terlebih lagi mengakhirkan waktu sahur termasuk dalam sunnah berpuasa dan sangat diutamakan.

Dari salah seorang sahabat Nabi SAW, dia berkata. Aku pernah masuk menemui Nabi SAW saat beliau sedang menyantap makan sahur, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya sahur adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian. Maka janganlah kalian meninggalkannya.” (HR An Nasa’i dan HR Ahmad).

Beberapa negara memiliki tradisi khusus saat sahur. Umat muslim di Turki misalnya, memiliki tradisi menabuh davulcu (drum khas Turki) untuk membangunkan muslimin di saat santap sahur. Di daerah India yang dihuni mayoritas muslim, sebuah komunitas khusus memiliki tradisi membangunkan umat muslim dengan mengetuk satu persatu pintu menggunakan tongkat kayu sambil membacakan puji-pujian kepada Allah. 

 Tak berbeda dengan umat-umat muslim di luar negeri, Indonesia juga memiliki tradisi sahur tersendiri. Musik patrol, salah satu tradisi sahur di masa kecil yang masih lekat dalam kenangan. Sekelompok anak-anak lelaki pra remaja dan seusia siswa SMP biasanya akan berkeliling kampung sambil membawa kentongan, panci, kecrekan, tong bekas, botol kaca dan berbagai benda yang bisa menimbulkan bunyi dan nada lainnya. Adik lelaki saya salah satu anggota grup patrol setiap Ramadan, bersama teman-temannya jam 2.30 dini hari ia sudah bersiap berkeliling kampung sambil meneriakkan "sahur.. sahur (ditingkahi bunyi ting ting ting, prok prok prok suara alat musik ditabuh)  sahur..sahur" begitu terus hingga sekitar jam 3 pulang ke rumah untuk santap sahur. 

Kegiatan patrol sahur dilakukan para remaja dengan sukarela, musik yang dibawakan juga ramah di telinga. Seingat saya tidak ada yang keberatan dengan aktivitas mereka. Bagusnya lagi, di sore hari anak-anak ini berlatih membunyikan alat-alat musik tersebut, sehingga meski ala kadarnya bisa menghasilkan harmoni yang indah. Tidak ada tabuh yang menimbulkan gaduh.

Eh ada satu tradisi unik lagi di kampungku saat tiba waktu sahur di bulan Ramadan, yaitu menyapa warga melalui toa mushola. Adalah bapak pengurus mushola sebutlah si Fulan yang rajin membangunkan warga dengan menyebut satu persatu nama kepala keluarga yang dikenalnya "Pak Yanto, pak Yadi, pak Hari...bangun..bangun...waktunya santap sahur" tak terbatas pada lingkup satu Rukun Tetangga, rasanya Pak Fulan juga menyapa bapak-bapak lain di RT sebelah, yang rumahnya terjangkau suara toa. Mendiang ayah saya juga tak luput dari sapaan beliau. Geli rasanya mengingat tradisi unik itu, seperti sedang menunggu namanya disapa di udara oleh penyiar radio. Untung ga pakai acara kirim salam segala.

Namun beberapa tahun kemudian tradisi "menyapa di udara" tak lagi diadakan. Sebab salah seorang warga kampung yang non muslim merasa keberatan, ia mengeluh lagi enak-enaknya tidur dini hari mendengar orang memanggil nama-nama tetangga satu persatu. Kebetulan rumahnya juga tidak jauh dari musholla. Meski mayoritas, kami yang muslim tidak merasa jengah dengan keberatan yang diajukan beliau. Atas dasar toleransi terhadap sesama, Bapak Fulan tak lagi menyapa di udara. Cukuplah musik patrol menjadi penanda waktu sahur saat Ramadan tiba.

Namun kini tradisi musik patrol di kampung halamanku tak lagi ada. Alarm ponsel yang bisa diputar ulang dalam jeda beberapa menit dianggap sudah cukup untuk membangunkan agar tak ketinggalan bersantap sahur, kuat berpuasa hingga waktunya berbuka. Apalagi di perumahan tempat tinggalku saat ini. Tak ada musik patrol atau suara dari toa masjid yang membangunkan orang tidur untuk santap sahur. Tapi lamat-lamat dari menara masjid desa sebelah terkadang saya masih mendengar sapaan "sahur...sahur...bangun..bangun" pada jam 3 pagi. Mengingatkan pada memori tradisi sahur di masa kecil yang menghangatkan hati.

VIDEO PILIHAN