Mohon tunggu...
Dwi Aprilytanti Handayani
Dwi Aprilytanti Handayani Mohon Tunggu... Kompasianer Jawa Timur

Ibu rumah tangga anak 2, penulis konten freelance, blogger, merintis usaha kecil-kecilan, hobi menulis dan membaca Bisa dihubungi untuk kerjasama di bidang kepenulisan di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Kusabar Menantimu Wahai Sang Imam

19 April 2021   14:01 Diperbarui: 19 April 2021   14:02 295 13 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kusabar Menantimu Wahai Sang Imam
Kubah Masjid, Dokpri

Ramadan tahun ini masih dibayangi pandemi, tetapi suasananya sedikit lebih ceria dibandingkan tahun lalu. Sejak sholat tarawih berjamaah diperbolehkan kembali, kini masjid kembali ramai, tidak seperti tahun kemarin yang sunyi. Malam itu sembari mendengarkan ceramah usai sholat Isya' saya mengamati suasana di beranda masjid. Anak-anak kecil berlari dan bercanda, para remaja hadir berkelompok dengan teman-temannya.

Pandangan saya beralih ke sosok di sebelah saya, rupanya ia salah seorang siswi sekolah setingkat SMA. Wajah-wajah tertutup masker kok masih bisa mengenali kalau ia masih SMA? Sebab kesibukannya menulis di sebuah buku menarik perhatian saya. Saya amati lebih dekat, lalu saya tangkap dengan kamera ternyata buku yang sedang ia buka adalah buku catatan kegiatan selama bulan Ramadan. Buku untuk siswa kelas X

Saya tersenyum, ingatan terlempar ke masa kecil di masa lalu. Lalu kehangatan perlahan menjalar menyeruak memenuhi ruang-ruang hati mengharu biru dan juga lucu. "Ternyata buku wajib untuk mencatat aktivitas Ramadan masih ada di zaman sekarang" pikir saya. Kirain itu tugas zaman baheula aja.

Buku Kegiatan Ramadan, Dokpri
Buku Kegiatan Ramadan, Dokpri

Pak Masrur, guru agama saya semasa duduk di Sekolah Dasar selalu mengingatkan agar anak-anak didiknya tidak pernah lupa mencatat kegiatan selama bulan Ramadan. Beliau juga mewajibkan kami mencatat kegiatan sholat lima waktu serta sholat Jumat. Tugas yang bagi saya sangat menyebalkan "Kan jadi ketahuan kalau sholat lima waktuku sering bolong waktu subuh dan dhuhur, waktu enak-enaknya tidur" sungut saya saat itu. Mengapa saya harus sebal dengan buku catatan kegiatan itu ya? Sekarang baru sadar, buku itu adalah latihan bagi kita sebagai pengingat bahwa kita selalu diawasi oleh dua malaikat pencatat amalan. Malaikat Rakib di sisi kanan mencatat amal baik. Atid di sisi kiri mencatat amal buruk. Fyuh

Berbeda dengan kegiatan mencatat sholat lima waktu, saya sangat semangat menjalankan tugas melengkapi catatan sholat tarawih di bulan Ramadan. Setiap menjelang Isya' berjalan beriringan bersama teman-teman menuju Masjid Al Ishlah, masjid terdekat dengan rumah. Tarawih dengan witir total 23 rakaat tidak terasa melelahkan jika suasananya menyenangkan. Sebelum witir sang imam menitipkan nasihat-nasihat penuh hikmah melalui ceramah. Usai sholat perjuangan belum selesai, karena masih harus bersabar menunggu barisan jamaah berkurang agar kami, siswa siswi SD ini bisa maju ke tempat imam, memintanya dengan ikhlas membubuhkan tanda tangan di kolom "imam tarawih dan isi ceramah"

Lucunya, saat sholat berjamaah kami kompakan memilih sholat di barisan belakang di teras masjid. Bisa bersantai sejenak sambil menikmati air minum dalam botol yang dibawa sebagai bekal. "Imamnya pak X, duh pasti lama banget nih nanti, suaranya juga pelan banget, nggak terdengar sampai belakang" Dengus seorang teman yang berhasil mendapat info bocoran tentang siapa yang jadi imam "Kalau begitu kita nanti tarawih 8 rokaat saja, tapi tetap nunggu sampai sholat selesai sampai dapat tanda tangan"

Jadilah jika imam dan khotib tarawih adalah pak X, kami sepakat menyudahi tarawih hingga 8 rokaat. Lucu juga, kami sholat di masjid yang berada di lingkungan masyarakat NU, tetapi  jika durasi sholat dipandang terlalu lama rokaat tarawihnya pilih ikut Muhammadiyah. Udah deh kalau akhirnya kami memilih break tarawih dan ngobrol seru di shaf paling belakang, pelototan emak-emak usai salam sholat pastilah kami dapat. Maka sekarang jika di masjid Al Ukhuwwah di perumahan kami sering saya dapati anak-anak kecil yang saat sholat rameee dan ribut melulu, saya jadi khawatir jangan-jangan inilah karma masa kecil dahulu.

Serunya masjid dalam dunia anak-anak, Dokpri
Serunya masjid dalam dunia anak-anak, Dokpri

Ah, mengenang suasana Ramadan masa kecil selalu terasa menyenangkan. Saat-saat menjelang berbuka puasa, kami sekeluarga duduk di teras rumah. Menunggu bunyi "seruling berbuka" dari menara masjid raya di kota. Disusul suara bedug dan adzan Maghrib dari Masjid Al Ishlah. Saya masih terheran-heran sampai sekarang, seruling berbuka dari pusat kota itu bisa terdengar hingga radius sekian kilo meter di area rumah. Mengingatkan tentang sangkakala Isrofil yang pasti lebih membahana. Lalu kenangan-kenangan masa kecil itu hadir kembali, membuat saya menyeka air mata. Teringat Mama dan Papa yang telah berpulang menemui Rabbnya....Al Fatihah.

VIDEO PILIHAN