dudun parwanto
dudun parwanto penulis

Owner bianglala publishing, penuilis, komika sosial media dan motivator/ trainer penulisan, Bacaleg Dapil 2 Kabupaten Bogor.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Politik Realitas Melawan Hasil Survei

10 Agustus 2018   16:44 Diperbarui: 10 Agustus 2018   16:51 196 0 0
Politik Realitas Melawan Hasil Survei
Foto Pribadi

Kejutan, itulah satu kata yang menggambarkan nama cawapres yang dideklarasikan dari kubu Jokowi dan Prabowo. Siapa yang menyangka dua cawapres yang ditasbihkan di detik-detik akhir, ternyata bukanlah kandidat yang dijagokan banyak pihak baik parpol, rakyat bahkan lembaga survei sekalipun .

Bicara elektabilitas tak ada satu pun lembaga survei yang menempatkan Sandi dan Kyai Maruf di papan skor 10 besar. Maka bicara elektabilitas, jelas keduanya lebih rendah dibanding nama2 besar yang beredar santer di pasaran baik Mahmud MD, Cak Imin, maupun Airlangga di kubu Jokowi dan Salif Assegaf, UAS maupun AHY di kubu Prabowo.

Yang pasti, Prabowo dan Sandiaga dengan didukung 4 partai sudah mendaftar ke KPU, Demikian juga calon petahana Joko Widodo sudah menggandeng Kyai Maruf dengan dukungan 7 partai.

Tentu penempatan Kyai Maruf dan Sandiaga sudah dipertimbangkan betul2 oleh kedua pihak bersama partai pendukung. Kehadiran Maruf Amin, sebagai sesepuh NU dan ketua MUI ingin menghadirkan wajah Islam di kubu Jokowi yang selama ini sering diserang dengan anggapan jauh dari kalangan umat Islam. Kyai Maruf juga mengukuhkan sebagai guru yg lebih pantas dari pada santri2nya seperi Romy, Muhaimin dan Mahfud MD. Selain itu suara nahdilin diharapkan akan digaet oleh pasangan ini.

Demikian juga dengan Sandiaga Uno, diharapkan mampu menutupi kekurangan Prabowo. Apalagi Sandi adalah praktisi bisnis yang bisa membuat kebijakan ekonomi yang aplikatif seperti OKE OCE di Jakarta. Sandi juga dianggap sebagai keterwakilan anak muda karena 35% pemilih Indonesia adalah pemilih mileniel dibawah usia 35 tahun. Selain itu logistik Sandiaga cukup kuat karena sebagai satu diantara 100 pebinis kaya di indonesia.

Yang menarik adalah, ijtima ulama GNPF ternyata malah tidak dilaksanakan oleh Prabowo tapi dilakukan oleh Jokowi dengan menggaet kyai sepuh NU. Hal ini diharapkan Jokowi bisa melawan serangan politik identitas yang berbaju SARA yang sering dialamatkan kepadanya. Kyai Maruf akan tampil sebagai pembeda manakala politik identitas digunakan untuk memborbardir Jokowi seperti yang terjadi pada 2014 silam.

Prabowo yang dianggap lebih dekat dengan Islam, karena ada PKS dan PAN rupanya malah tidak memilih ulama sebagai waklnya. Bahkan menariknya yang dipilih malah orang dekat separtai yang punya cemistri dengannya. Jadi identitas kubu Islam dan kubu nasionalis akan terkubur di Pilpres 2019 nanti .

Pemilihan kedua Cawapres menunjukkan perlawanan terhadap elektabilitas yang sering menjadi dagangan lembaga survey. Kedua kubu seolah ingin mengangkangi lembaga survey yang selama ini merasa paling tahu kekuatan calon. Apakah ini akan menjadi gejala era ketika elektabilitas bukan sesuatu yang harus diikuti dan dipuja puja seluruh bangsa?

Yang perlu digarisbawahi Politik Realitas akan bermain lebih cantik dibanding politik identitas pada 2014 silam yang melahirkan bani bumi datar dan bani bumi bulat. Diharapkan suhu politik 2019 tidak sepanas tahun 2014 termasuk di media sosial mengingat dominasi politik realitas yang lebih menunjukkan karya dan program ketimbang terus menerus mengurai kelemahan melalui isu isu SARA.

Semoga situasi kampanye damai di 2019 ini terus terbina hingga Pilpres selesai dan yang kalah segera move on untuk bersama sama membangun bangsa. Terlalu murah harga bangsa ini yang terpecah hanya karena beda pilihan. Semua harus punya memiliki rasa persatuan agar segera berkarya nyata sesuai dengan bidangya masing2 untuk membangun bangsa sebagai bukti darma bakti pada ibu Pertiwi. Semoga.