Mohon tunggu...
Dita Septi Aryani
Dita Septi Aryani Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis

Psikolog Klinis yang berpraktik di salah satu rumah sakit pemerintah provinsi jawa tengah

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Remaja, Bullying, dan Masa Depan

21 Juli 2021   13:35 Diperbarui: 21 Juli 2021   15:02 153 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Remaja, Bullying, dan Masa Depan
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Seorang wanita berusia lebih kurang 21 tahun kita panggil saja dengan nama Gadis, Ia datang dengan keluhan tidak bisa tidur, perasaan sedih mendalam sehingga ia terus-menerus menangis, merasa dirinya tidak berguna, merasa tidak layak untuk hidup, pernah melakukan percobaan bunuh diri, merasa kesepian, merasa sendiri dan putus asa. 

Gadis merasa bingung dengan yang ia rasakan, sehingga ia memutuskan untuk meminta pertolongan dari tenaga profesional. Adapula kasus dimana seorang pria berusia 21 tahun kita panggil dengan nama Fajar ia datang dengan keluhan; merasa tidak mampu berkomunikasi dengan lingkungan, ia merasa tidak percaya diri untuk sekadar mengobrol, ataupun menyapa baik teman kuliah/dosen.

Ia menjadi tidak fokus dan kehilangan topik jika harus berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Kondisi ini sangat mengganggu proses perkuliahan. Bahkan Fajar menceritakan, jika ia tidak mampu melihat lawan bicaranya. Kondisi ini menjadikan hambatan pada proses perkuliahan. 

Efek dari ketidakmampuan ia melihat dosen, membuat ia tidak mampu berkonsentrasi di kampus dan megalami penurunan nilai. Singkat cerita keduanya menceritakan jika selama menjalani pendidikan di SMA ia sering dibully oleh temannya. Sejak saat itu, keduanya menjadi sangat sensitif dengan kegagalan, penolakan dan merasa jika ia merupakan penyebab segala permasalahan.

Berdasarkan kedua kasus di atas, bisa disimpulkan bahwa bullying/perundungan memiliki dampak negatif yang panjang bagi korban (terutama) maupun pelakunya. Bagi korban bullying mungkin akan membentuk citra diri yang buruk pada dirinya serta perasaan trauma. 

Kondisi ini akan terus terjadi, hingga akan mempengaruhi fase kehidupan di masa dewasanya. Bagi pelaku bullying, dampak negatif akan berpengaruh pada citra dirinya yang menjadi lebih arogan tidak memiliki empati, atau perasaan bersalah yang mendalam (jika ia menyadari kesalahannya). Kedua kasus yang diceritakan adalah sebagian dari kasus bullying yang ada di lingkungan sosial kita, masih banyak lagi bentuk bullying/perundungan yang ada.

Bullying/perundungan adalah salah satu bentuk kekerasan. Dari asal katanya,  bullying berasal dari kata bully yang artinya menggertak/mengganggu pihak yang dianggap lemah. Saat ini kata bullying sering merujuk pada perilaku agresif/penindasan pihak yang dianggap kuat/dominan terhadap seseorang/kelompok yang lemah. Sehingga dalam kasus bullying ada 2 yang terlibat, yaitu; pelaku dan korban.

Menurut Coloroso (Zakiyah, dkk, 2017) menyebutkan bahwa bullying/perundungan terbagi menjadi beberapa bentuk :

Bullying fisik: merupakan jenis bullying yang mudah untuk diidentifikasi, karena meninggalkan bekas pada diri korban. Pada bullying fisik, pelaku penindasan akan melakukan serangan secara fisik pada korbannya, hal ini bisa terjadi secara berulang dan terus-menerus. Jenis bullying ini yang sering mengakibatkan kematian pada korbannya. Bentuk bullying fisik seperti; memukul, menampar, menendang, mencekik, mencakar, menjambak, dll.

Bullying verbal: merupakan bentuk penindasan secara verbal seperti; memberikan julukan/nama yang tidak baik, memberikan celaan, kritik tajam, penghinaan, fitnah bahkan pernyataan yang bernuansa ajakan seksual. Jenis bullying ini sering tidak disadari oleh korbannya, karena korban merasa itu sebagai bentuk kedekatan/keakraban. Akan tetapi,  dampak bullying verbal ini mempengaruhi mental/psikologis korbannya.

Bullying relasional: jenis bullying yang paling sulit teridentifikasi, karena bentuknya pelemahan harga diri korban secara sistematis seperti;  pengucilan dari lingkungan sosial, pengabaian, penghindaran. Bullying jenis ini, disengaja untuk merusak citra seseorang di lingkungan sosialnya. Contohnya, dengan menyebarkan gosip / fitnah di lingkungan sekolah sehingga korban akan dikucilkan dan dihindari oleh teman sebayanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x