Mohon tunggu...
Dwi Rahmadj Setya Budi
Dwi Rahmadj Setya Budi Mohon Tunggu... penenun asa

Pengagum kebebasan & demokrasi

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Indonesia Butuh Sosok AHY (Adhesive, Holistic & Yardsticks)

4 Juli 2019   06:30 Diperbarui: 4 Juli 2019   06:37 187 6 11 Mohon Tunggu...

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan menolak seluruh gugatan sengketa hasil Pilpres 2019 yang diajukan Prabowo-Sandi. Sejalan dengan itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga telah menetapkan Joko Widodo-Ma'ruf sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia terpilih melalui Rapat Pleno pada Minggu, 30 Juni 2019. 

Dengan demikian, bisa dikatakan kontestasi Pilpres 2019 telah selesai, hanya menunggu jadwal pelantikan atau pengucapan sumpah/janji presiden-wakil presiden terpilih pada Agustus-Oktober 2019 mendatang.

Akan tetapi, berakhirnya kontestasi Pilpres 2019 bukan serta-merta mengakhiri segala pertikaian yang telah dipupuk selama lima tahun ke belakang. Di lapisan bawah, gesekan antara pendukung paslon 01 dan paslon 02 masih terjadi. 

Tak heran, hingga hari ini masih ada suara yang mendorong Prabowo-Sandi untuk menolak rekonsiliasi dan bahkan ada daerah yang meminta pemisahan diri dari NKRI karena tidak terima Jokowi memenangi kompetisi.

Di sisi lain, spanduk bertuliskan 'Jokowi Presidenku' yang tersebar dibanyak daerah seolah membuat Jokowi hanya menjadi presiden bagi sekelompok orang. 

Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa dan negara karena dapat menimbulkan resistensi di lapisan masyarakat. Selain gesekan antar pendukung, yang perlu dicatat dan disikapi dengan bijak adalah munculnya polarisasi politik identitas yang semakin menguat.

Masalah ini harus segala diatasi. Pihak yang kalah harus siap menghadapi kenyataan, dan pihak yang menang harus merangkul yang kalah dengan kebijaksaan. 

Jika hal ini dibiarkan berlarut, maka potensi konflik akan menghambat proses demokrasi dan pembangunan yang hendak dilakukan ke depan. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, bangsa ini sungguh sangat membutuh sosok AHY (Adhesive, Holistic & Yardsticks).

Adhesive adalah perekat. Indonesia yang terkoyak, tercabik, dan tercerai berai karena perbedaan pandangan politik serta pilihan, perlu kembali direkatkan. Ibarat potongan puzzle, Indonesia yang hari ini tercerai berai tidak cukup hanya disatukan, tapi juga perlu direkatkan satu sama lainnya. 

Sosok pemimpin yang merekatkan inilah, tidak hanya utopis politis tapi juga dengan tindakan nyata, yang akan membawa bangsa ini kembali dalam bingkai kebhinekaan yang diinginkan para pendiri bangsa.

Kedua, sosok yang dibutuhkan negeri ini adalah sosok yang mampu berpikir dan bertindak secara holistic (holistik). Secara defenisi holisitik berarti sikap yang menyeluruh dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin mempengaruhi tingkah laku manusia atau suatu kejadian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN