Sosbud

Hujan Pertama di Bulan Agustus, Pengkhianatan Kehendak Rakyat

10 Agustus 2018   21:27 Diperbarui: 10 Agustus 2018   21:46 200 0 0
Hujan Pertama di Bulan Agustus, Pengkhianatan Kehendak Rakyat
0manga.com

Hari ini tepat tanggal 10 Agustus 2018. Hari dimana yang katanya tabuh pesta pora demokrasi dikumandangkan. Kegembiraan tersebut disiarkan hampir di semua stasiun tv. Mulai dari stasiun tv milik pemerintah hingga yang swasta, dari stasiun tv besar hingga stasiun tv daerah yang hanya satu bilik kamar.

Hari ini nasib negara dipertaruhkan dalam dua mandate yang diberikan kepada dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden. Semua khalayak akan mencatat momen-momen ini, tidak tertinggal bahkan malaikat mungkin juga mencatat semua kata-kata manis yang diucapkan tokoh-tokoh politik bangsa ini.

Di balik gegap gempita tersebut, yang paling berarti bagi saya adalah turunnya hujan pertama di bulan Agustus ini. Ya, tepat 10 Agustus dimana derap gegap gempita pesta demokrasi itu bergema keseantaro negeri. Hujan menyapa lembut tanah kering yang mulai rekah karena panas terik sedari beberapa waktu lalu.

Air dalam konsep liturgi keagamaan dan sains merupakan sumber kehidupan. Begitu juga dengan hujan yang mengirimkan jutaan kubik air membasahi bumi. Tapi hujan terkadang tidak selamanya menjadi simbol kehidupan. Bisa jadi ia menyampaikan tanda keangkaraan murka dari Sang Pencipta.

Dalam literatur umat islam, ada sebuah kisah hujan dan banjir bandang yang memusnahkan kaum Nabi Nuh. Bahkan Nuh yang saat itu sebagai mandate Tuhan di muka bumi sekalipun, tidak bisa menyelamatkan anak dan keluarganya dari keangkaraan murka tersebut. Hujan di 10 Agustus ini membuat saya larut dalam sebuah perenungan panjang.

Dalam alam demokrasi, ada sebuah istilah yang cukup popular "vox populi vox dei" (suara rakyat suara tuhan). Dalam konteks kontestasi politik Indonesia saat ini, suara itu cukup menggema sebelum akhirnya ditumbangkan oleh akrobat politik yang dimainkan.

Di pihak petahana, dukungan publik terhadap sosok Mahfud MD begitu kuat. Selain jejak rekam yang bersih, keberpihakannya kepada KPK membuat rakyat mengidolakan sosok ini untuk mendampingi Joko Widodo. Seakan paham dengan kehendak rakyat, Joko Widodo pun memerintahkan Mahfud untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan.

Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini pun dengan segera mengajukan surat tidak terlilit hutang ke pengadilan negeri sebagai syarat yang di tetapkan KPU. Beberapa orang pun telah diperintahkan untuk menjemput Mahfud serta mempersiapkan segala sesuatu keperluan kecil lainnya, seperti pakaian yang akan dikenakan dan lain sebagainya.

Dengan iringan kumandang adzan dan doa, Mahfud pun meninggalkan lokasi acara yang telah ditetapkan. Di sisi lain, di lokasi acara pertarungan kekuasaan memuncak. Kehendak rakyat yang begitu kuat dengan Mahfud menjadi wakil Joko Widodo ditentang sejumlah partai koalisi. Banyak analisa dan ketakutan politik yang di bangun dalam percakapan tersebut. Hingga pada konklusi akhir, nama orang tua sepuh yang memegang otoritas keagamaan pun ditetapkan menjadi pendamping Joko Widodo.

Ma'ruf Amin yang pernah mengeluarkan fatwa yang pada akhirnya membenamkan nama Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menjadi pilihan koalisi Joko Widodo. Ini tentu menghancurkan basis dukungan loyalis 25% Joko Widodo. Tidak ada lagi suara rakyat yang bisa dititipkan di kubu petahana setelah tipu-tipu kehendak rakyat.

Menengok kesebelah, begitu juga adanya. Kubu Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno ketimbang kehendak rakyat. Diketahui sebelumnya, kemenangan Gerindra dan koalisi di Pilgub DKI tak lepas dari kehendak rakyat yang begitu besar. Kehendak itu dititipkan kepada ulama yang teroganisir dalam GNPF dan PA 212.

Dalam perjalanannya, rakyat yang menitipkan suaranya tersebut melalui ulama mengeluarkan sebuah ijtima' (rekomendasi). Nama Ustadz Abdul Somad dan Salim Segaf Al-Jufri muncul menjadi bahan pertimbangan Prabowo. Dua nama tersebut menjadi euforia tersendiri bagi umat islam di nusantara. Seakan mendapatkan oase di tengah padang gurun. Terlihat dari meriahnya memeĀ kedua tokoh ini di media sosial.

Di sisi lain, dalam analisa survei juga ada nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dikehendaki rakyat menjadi wakil presiden mendampingi Prabowo. Selain faktor keturunan, sosok milenial yang melekat padanya dianggap mampu mendongkrak elektabilitas. Seperti itu kurang lebih terjemahan analisa survei tentang kehendak rakyat.

Sebelas dua belas dengan Joko Widodo, Prabowo nyata mengingkari kehendak rakyat, mengingkari suara rakyat yang katanya suara tuhan dalam alam demokrasi. Kekecewaan rakyat yang begitu besar pada Joko Widodo dan Prabowo turut menggerakkan tagar #2019Golput.

Hujan pertama di bulan Agustus, ini seperti pertanda alam yang mengisyarakat langit sedang berduka. Langit beriba hati dengan munajat orang-orang suci yang menengadahkan tangannya disaat harapannya dicabik-cabik oleh kepentingan penguasa demi seonggok kekuasaan. Semoga ada kebaikan dalam setiap kejadian.

Salam.

Jawa Barat, 10 Agustus 2018