Mohon tunggu...
dr. Sakti R. Brodjonegoro Sp.U
dr. Sakti R. Brodjonegoro Sp.U Mohon Tunggu... Dokter Spesialis Urologi Tim CoE KB MOP - RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta / Dosen FK KMK UGM

dr. Sakti Ronggowardhana Brodjonegoro, Sp.U merupakan dokter spesialis urologi yang saat ini praktik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Beliau juga merupakan dosen di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (FK KMK UGM). Beliau menamatkan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 2008, dan melanjutkan pendidikan dokter spesialis urologi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2015. Beliau saat ini bertugas sebagai penanggung jawab bidang pengabdian masyarakat Divisi Urologi, Departemen Ilmu Bedah FK KMK UGM. Selama 6 tahun kiprahnya sebagai urolog, beliau aktif dan tertarik pada bidang yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan infertilitas (kesuburan) laki-laki. Beliau juga turut aktif dalam memberikan edukasi tentang kesehatan masyarakat pada beberapa kesempatan. Tidak hanya itu, beliau juga aktif dalam penelitian yang berkaitan dengan bidang reproduksi, salah satunya yang berjudul “The Impact of Glucose Control Index on Erectile Hardness Score among Type 2 Diabetes Mellitus Patients” yang telah dipublikasikan di jurnal nasional, serta penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Saatnya Pria Berpartisipasi dalam KB dengan MOP

15 Maret 2021   15:22 Diperbarui: 15 Maret 2021   15:50 164 4 0 Mohon Tunggu...

Siapa yang tidak senang akan kehadiran buah hati? Ya, bagi sebagian orang hal tersebut merupakan hal yang sangat dinanti-nanti, bahkan hal tersebut sudah dirayakan sejak ketika proses kehamilan. Namun, bagaimana bila yang dialami adalah kehamilan yang tidak diinginkan? 

Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tahun 2020 menunjukkan angka kehamilan yang tidak dikehendaki di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu di kisaran 17.5%. Artinya, setiap 100 orang yang hamil 17 orang di antaranya merupakan kehamilan yang tidak direncanakan. 

Tentunya, hal tersebut tidak hanya mempengaruhi kondisi orang tua dari segi psikis atau ekonomi, namun juga dapat membawa masalah kesehatan bagi sang anak seperti stunting/gagal tumbuh. Oleh karena kehamilan yang tidak diinginkan dapat mempengaruhi kualitas hidup dan menjadi beban dalam sebuah keluarga, maka salah satu pencegahan dalam masalah ini adalah merencanakan keluarga yang dibantu dengan pemilihan kontrasepsi yang tepat.

Di Indonesia, kebanyakan program Keluarga Berencana (KB) masih berfokus pada perempuan, seperti pil, suntik, spiral, dan implant. Hal ini menyebabkan tingkat partisipasi laki-laki dalam keluarga berencana masih tergolong rendah. Padahal, laki-laki juga dapat turut berpartisipasi dalam program KB dengan menggunakan pilihan kontrasepsi kondom atau metode operasi pria (MOP) atau vasektomi. Sebanyak 3% laki-laki berpartisipasi dengan memilih metode kontrasepsi kondomm, dan hanya 0.3% yang berpartisipasi dengan MOP.

MOP atau vasektomi merupakan tindakan “memutus” saluran sperma. Saluran sperma akan diikat dan kemudian dipotong, sehingga menyebabkan saluran tersebut tersumbat dengan tujuan agar sel sperma tidak bisa keluar melalui cairan mani, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pembuahan. 

Namun, terkadang tindakan tersebut dianggap “mencabut benda” dari badan atau tindakan “dikebiri”, padahal hal tersebut tidak tepat. Vasektomi pertama dilakukan di tahun 1823 pada hewan. Vasektomi pada manusia  pertama kali dilakukan di London oleh R. Harrison. Awalnya, vasektomi dilakukan untuk tujuan mengecilkan (atrofi) prostat, bukan kontrasepsi. Baru saat Perang Dunia Kedua vasektomi akhirnya dianggap sebagai metode kontrasepsi.

Saat ini, dunia memperingati hari vasektomi sedunia setiap tanggal 20 November. Acara tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global akan vasektomi sebagai solusi yang berorientasi pada pria untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Hari vasektomi dunia pernah diselenggarakan oleh Indonesia pada tahun 2015, yang diselenggarakan di Provinsi Bali. Hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia mendukung dan berkontribusi aktif dalam peningkatan peran pria dalam ber-KB.

Tindakan MOP biasanya dilakukan oleh seorang spesialis urologi, dokter bedah atau dokter umum yang terlatih. Tindakan tersebut biasanya dilakukan menggunakan pembiusan lokal. 

Perlu pembaca ketahui bahwa saat ini tindakan vasektomi dapat dilakukan tanpa pisau. Inti dari prosedur vasektomi adalah saluran sperma dipotong dan diikat, sehingga menyebabkan saluran tersebut tersumbat dengan tujuan agar sel sperma tidak bisa bergerak keluar melalui cairan mani, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pembuahan. 

Vasektomi memerlukan biaya yang tergolong rendah, teknik yang sederhana, dan tingkat keberhasilan yang tinggi (mencapai 99,8%) diharapkan dapat menjadi lebih populer dibandingkan metode operasi wanita (MOW/ligasi tuba). Kerja sama dari berbagai pihak dan sosialisasi rutin tentu saja diperlukan untuk keberhasilan program ini.

Tindakan MOP termasuk dalam kontrasepsi mantap atau steril yang bersifat permanen. Oleh karena itu, tenaga medis perlu melakukan konseling yang baik kepada pasien mengenai kelebihan dan risiko yang dapat terjadi. Seperti apakah vasektomi menurunkan kepuasan dan performa seksual, dan sebagainya. Vasektomi bukanlah tindakan kebiri yang menurunkan kadar hormon testosterone (hormone laki-laki). Oleh sebab itu, gairah seksual dan kemampuan seksual tidak berkurang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x