Mohon tunggu...
Drajatwib
Drajatwib Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis amatiran

Menggores pena menuang gagasan mengungkapkan rasa. Setidaknya lebih baik daripada dipendam dalam benak, terurai lenyap dalam pusaran waktu.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Krisis Covid-19 di Indonesia, Sampai Kapan?

8 April 2020   12:45 Diperbarui: 8 April 2020   13:02 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bicara waktu, barangkali krisis Covid-19 ini akan menjadi krisis yang paling lama, setidaknya yang pernah saya alami. Mungkin juga bagi anda semua. Secara khusus di Indonesia, krisis ini baru dimulai pada awal Maret 2020 dilanjutkan dengan terbitnya Maklumat Kapolri No. Mak/2/III/2020 pada tanggal 19 Maret 2020. Hingga kini sudah masuk di bulan April, tanda tanda peningkatan kasus masih dilaporkan dari berbagai penjuru negeri.

Menurut update Satgas Covid-19, ada dua provinsi di Indonesia yang masih belum ditemukan ada kasus positif corona, namun dari berbagai informasi yang diterima, ratusan orang sudah ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan Covid-19 (ODP) khususnya di provinsi NTT. Melihat dari tren nasional yang terus meningkat, sepertinya hanya soal waktu saja kedua provinsi ini juga akan mencatat kasus positif corona di wilayahnya, mengingat aspek pergerakan orang dari dan keluar provinsi, maupun adanya bentuk kerumunan yang tidak bisa dicegah aparat keamanan masih saja terjadi.

Dua peristiwa kerumunan massa yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dan kabupaten Alor, di Nusa Tenggara Timur contohnya, dimana dikedua wilayah ini pada tanggal 05 April 2020 lalu, telah terjadi kerumunan massa, jumlahnya mencapai ribuan. Mereka berkumpul untuk menyambut kepulangan artis lokal yang berkompetisi di LIDA Indonesia (Liga Dangdut), sementara aparat keamanan tidak mampu membendung kerumunan tersebut.

Kasus kerumunan massa menyambut peserta LIDA yang terjadi di wilayah Lombok Timur patut menjadi kekhawatiran, karena wilayah tersebut merupakan zona merah Covid di Provinsi NTB. Bisa kita bayangkan betapa ngrinya berada dalam kerumunan massa di daerah zona merah semacam itu, hanya demi melihat dari jauh, idola mereka.

Membayangkan betapa rumitnya situasi ini bagi pimpinan negeri ini, mengingat banyak hal tentu menjadi pertimbangan beliau, pada akhirnya toh presiden Jokowi menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sesuai dengan UU Karantina Kesehatan No. 6 Th. 2018 pada selasa, 31 Maret 2020. Bukan hal yang mudah membuat keputusan tersebut ditengah desakan berbagai kalangan untuk memberlakukan total lockdown.

Dengan menyebut pembelajaran di negara lain yang menerapkan lockdown namun menghasilkan kekacauan massal, pilihan PSBB lah yang diterapkan Presiden Jokowi dengan ancangan berikutnya penerapan darurat sipil, jika memang situasi memerlukan tindakan lebih tegas dan keras untuk mendisiplinkan masyarakat mengurangi aktifitas diluar rumah untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Membayangkan sebentar lagi sudah masuk ke bulan puasa kira-kira tanggal 23 April 2020 dan sebulan kemudian adalah perayaan lebaran, tentusaja menjadi hari yang sangat istimewa bagi umat Islam untuk bisa merayakan hari raya Eidul Fitri bersama keluarga besar di kampung halaman.

Namun kali ini berbeda, Covid-19 menjadi hantu yang menghalangi rencana pulang kampung besar-besaran ini. Tentusaja dikhawatirkan tradisi pulang kampung ini akan semakin meningkatkan penyebaran virus corona dari satu daerah ke daerah lain secara masif.

Berbagai himbauan para kepala daerah telah disuarakan, namun toh gelombang arus mudik sudah mulai terjadi sejak dini pada awal April ini. Tidak gampang memang, mungkin saat ini para kepala daerah sedang pusing memikirkan cara apalagi yang harus diterapkan untuk melakukan pembatasan sosial terkait tradisi mudik ini.

Lalu sampai kapan krisis Covid ini akan berakhir, tentusaja ini pertanyaan normal dari saya, dan anda semua. Mengingat krisis ini sudah berjalan lebih dari dua bulan sebenarnya di Indonesia, meski awalnya krisis mulai menyeruak dari Wuhan, China sejak Desember 2019. Menarik untuk dicermati bahwa diantara hiruk pikuk penanganan krisis Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah masyarakat mulai tergugah untuk turut campur, mengelola bantuan secara individual maupun berkelompok, diarahkan kepada tim medis yang bekerja keras menangani krisis ini di lini-depan.

Tidak sampai disitu saja, mengingat bahwa kebijakan PSBB tentusaja berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi, khususnya pada sektor informal yang secara langsung merasakan dampaknya. Pasar yang mulai sepi pengunjung, demikian juga pertokoan dan mall yang diantaranya sudah menghentikan operasional. Tempat hiburan tanpa pengunjung, serta warung makan yang saat ini hanya melayani pembelian secara online melalui jasa hantaran daring.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun