Mohon tunggu...
dr. Jessica Nivia
dr. Jessica Nivia Mohon Tunggu... Dokter

Currently being a general practitioner at Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Jas Putih yang Menjadi Kelabu

24 Agustus 2019   09:38 Diperbarui: 26 Agustus 2019   17:42 0 13 9 Mohon Tunggu...
Jas Putih yang Menjadi Kelabu
Tangkapan layar instagram/semuatentangbatam

Dahulu sekitar 90% anak kecil di Indonesia ketika ditanya mengenai cita-citanya, serempak mereka akan menjawab "Ingin menjadi dokter!". Tegas, lantang, dan yakin. 

Sama seperti yang saya ucapkan kira-kira delapan belas tahun yang lalu. Tapi apakah profesi ini masih berharga untuk kami perjuangkan di Indonesia?

Kejadiannya berawal dari beberapa pekan yang lalu, seorang ibu paruh baya meneriaki saya "Dasar dokter jutek!". Kala itu saya pasca didiagnosis typhoid fever atau yang biasa dikenal demam tifus. 

Hari ke 3 setelah dinyatakan sakit tersebut saya memaksakan masuk dan melayani pasien di poli pelayanan lansia (lanjut usia). Semua dokter atau pasien yang pernah mengalami demam tifus pasti akan paham bagaimana rasanya mengalami penyakit tersebut, badan terasa lemah, kepala berat dan beberapa gejala klinis lainnya.

Sejak sehari sebelumnya memang dokter penyakit dalam saya mengatakan untuk bedrest, tidak melayani pasien dan hanya berdiam saja dirumah selama beberapa hari tapi apakah saya tega meninggalkan teman-teman saya melayani pasien yang begitu banyak tanpa adanya dokter pengganti? Jelas tidak. 

Rasio dokter dan efektifitas melayani pasien di tahun 2019 ini, terutama di pusat pelayanan primer apalagi Jakarta sangat sulit, mungkin lain waktu akan saya bahas di tulisan berikutnya. 

Hal tersebut, membuat jika satu dokter saja tidak hadir akan membuat teman dokter lainnya kelimpungan melayani pasien baik yang didalam puskesmas maupun yang bertugas ke lapangan. Bukan berarti saya dipaksa masuk oleh kepala puskesmas atau pihak manapun tetapi murni karena saya memikirkan nasib teman sejawat kala itu di lapangan.

Saat itu saya memang tidak banyak bicara. Ibu tersebut menemani orang tuanya untuk meminta rujukan ke salah satu rumah sakit di Jakarta Utara. Saya tidak dapat memberikan rujukan karena ibu tersebut tidak membawa berkas rujukan terdahulu sebagai bukti bahwa dia memang pernah mendapat pelayanan tersebut. 

Ketika ibu tersebut mengomel, saya hanya berkata "Silahkan ibu ambil rujukan lama tersebut di rumah kemudian kembali lagi kesini karena pasien masih banyak yang mengantre untuk diperiksa." Keluarlah kalimat tersebut dari mulut si ibu. 

Tidak lupa ibu tersebut mencaci saya didepan pintu kemudian memasukkan ke kotak saran bahwa pelayanan saya payah. Bahkan ibu tersebut sempat ditegur oleh teman sejawat saya dan ia berkata ,"Apa peduli saya dia sakit?" Kalimat ketus ketika pasien lama dilayani oleh dokter di Jakarta memang sering saya dengar tetapi kala itu ketika kondisi kesehatan sendiri menurun, membuatnya menjadi cukup menyakitkan di telinga saya.

Saya yakin ibu tersebut juga lelah ketika menunggu antrian sedari pagi, saya juga tidak sepenuhnya menyalahkan ibu tersebut karena kembali lagi rasio dokter yang kurang menyebabkan dia harus bertindak tanduk seperti tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3