Mangatas SM Manalu
Mangatas SM Manalu Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan & Klinik AIC, Kuningan City Mall - Jakarta. Instagram: https://www.instagram.com/mangatasm/ Twitter: https://twitter.com/#!/Komangatas3. Facebook: https://www.facebook.com/mangatasm

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Cara Menyaring Informasi Hoaks Kesehatan agar Tidak Membahayakan Kita

7 November 2017   13:18 Diperbarui: 10 November 2017   02:36 2465 62 43
Cara Menyaring Informasi Hoaks Kesehatan agar Tidak Membahayakan Kita
(Sumber gambar 1: bangka.tribunnews.com)

Pendahuluan

Penulis, semakin lama semakin sering, meneriman keluhan pasien yang mendiagnosis dirinya sendiri (menetapkan sendiri apa penyakit yang dideritanya) berdasarkan informasi kesehatan yang tidak jelas sumbernya. Misalnya tentang rasa pusing atau jika berjalan seperti orang mau jatuh (sempoyongan), yang serta-merta disebut penyakit "pengentalan darah" oleh si penderita. Ternyata yang dimaksud dengan "penyakit pengentalan darah" oleh si pasien, yang berdasarkan video di youtube, ialah keadaan dehidrasi, yang otomatis menyebabkan peningkatan kadar hemoglobin (Hb) darah. 

Penyakit pengentalan darah yang sebenarnya (sindrom anti fosfolipid atau sindrom Hughes) ialah keadaan dimana sel-sel darah, khususnya trombosit, saling melekat dengan sangat cepat dan kuat, lalu segera mengendap, sehingga membentuk gumpalan darah yang menghambat aliran darah.    

Banyak juga pasien yang salah menentukan apa penyakitnya, karena si pasien percaya penuh pada tulisan-tulisan di internet, atau mendiagnosis dirinya berdasarkan hasil broadcastWhat's App (WA) dan berbagai sumber media sosial lainnya. Contohnya: Saat datang ke praktik saya, seorang penderita sudah mengatakan: "Dok, saya sakit pengentalan darah!" Kemudian saya bertanya:"Apa gejalanya?". Langsung dijawab:" Saya sering vertigo!. Saya terkesima: "Memangnya setiap vertigo disebabkan oleh pengentalan darah pak?!". Dijawab: "Saya baca di internet dok!". Saya tanya lagi: Nama situsnya apa pak? Yang menulis orang dari profesi kesehatan?!" Si bapak terdiam, dan akhirnya menjawab: "Saya tidak tahu dok!"    

Ada lagi: "Dok, asam lambung saya naik! Saya sudah minum ramuan jahe dan kunyit plus jeruk lemon, tetapi belum membaik". Lalu saya bertanya: "Gejalanya asam lambung naik seperti apa bu?!" Jawabnya: "Ini nyeri di uluhati!". Saya menukas:" Bu, nyeri di uluhati banyak penyebabnya, bisa karena gangguan lambung, jantung, kandung empedu, pankreas, bahkan gangguan jantung juga!. Lalu yang mengajarkan membuat ramuan itu siapa, bu?" Ibu itu menjawab:"Dari broadcast WA dok. Testimoni!"     

Kasus-kasus di atas, hanyalah contoh dari maraknya "info kesehatan" hoaks, yang banyak beredar di dunia maya. Media sosial yang berbasis video maupun foto juga sering berisi informasi hoaks tentang kesehatan. Info hoaks ini bisa sangat berbahaya!

Pertanyaan (retoris) bagi kita ialah:

1) Dapatkah suatu penyakit ditetapkan atau didiagnosis dan diobati, hanya berdasarkan membaca artikel dari internet atau bersumber dari video di internet saja?

2) Apakah mempercayakan pemeliharaan kesehatan pada berita di media sosial tidak terlalu riskan atau berisiko tinggi?

3) Apakah kita mau mempercayakan pemeliharaan kesehatan kita hanya berdasarkan "testimoni" (kesaksian / pengakuan) tentang suatu betapa mujarabnya suatu produk kesehatan / obat dari orang yang tidak jelas dikenal, seperti yang sering disampaikan di berbagai media sosial?

4) Apa kira-kira motivasi dari orang yang menulis artikel kesehatan? Mau berbagi informasi atau...?

5) Apakah secara legal-formal, situs kesehatan yang berisi "info kesehatan" itu bisa dipertanggungjawabkan?

6) Situs Kesehatan mana saja yang bisa dipercaya?

7) Bagaimana cara memilih info kesehatan yang dapat dipercaya?

Jawaban terhadap berbagai pertanyaan tersebut ialah:

1.Diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan testimoni atau artikel atau berbagai tulisan di media sosial! Informasi dari internet tidak mungkin menggantikan kunjungan ke dokter, yang akan melakukan prosedur baku kedokteran, yaitu: wawancara kedokteran (anamnesis), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (misalnya rekam listrik jantung (EKG), ultrasonografi (USG), pemeriksaan darah di laboratorium dan lain-lain kepada para pasiennya.

Selain itu, hal yang terpenting ialah interpretasi dan analisis dari semua data kesehatan yang didapatkan pada seorang pasien. Pada suatu penyakit yang sama, gejala dan tandanya dapat berbeda untuk setiap individu, sebaliknya berbagai gejala yang berbeda, dapat berasal dari suatu penyakit yang sama. Oleh sebab itu, tidak bisa dilakukan generalisasi secara sembarangan dalam menegakkan suatu diagnosis penyakit, jika hanya berdasarkan keluhan-keluhan yang sama pada seorang penderita. Harus dilakukan analisis dengan interpretasi dan penalaran medis.

Melakukan diagnosis penyakit  ialah seperti menyatukan kepingan-kepingan mosaik untuk dapat menjadi suatu gambar yang utuh, yang dapat dimengerti, bermakna, dan dapat dilihat oleh banyak orang. Harus ada dasar ilmu kedokteran, keterampilan klinis, penalaran logis, dan pengalaman dari dokter untuk dapat melakukan diagnosis.

2) Jelas bahwa mempercayakan kesehatan, menetapkan penyakit (diagnosis), dan melakukan terapi, jika hanya berdasarkan pada artikel di media sosial, sangat berisiko..

Untuk bisa menganggap suatu artikel kesehatan di media sosial sebagai tulisan yang layak dan aman bagi kesehatan anda, perlu diteliti dulu akan hal-hal berikut ini:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3