Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Berstatus Senior, Berperan sebagai Mentor dan Bukannya Penguasa

21 Mei 2020   10:49 Diperbarui: 22 Mei 2020   03:44 186 54 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berstatus Senior, Berperan sebagai Mentor dan Bukannya Penguasa
Ilustrasi mentor. Sumber foto: pexel.com

Pola relasi senior dan yunior adalah salah satu kenyataan sosial. Umumnya, kenyataan ini cukup berakar pada konteks hidup sosial kita. Hal ini bisa terlahir karena proses pendidikan dan konteks budaya yang kita anuti.

Dalam proses pendidikan, kita sudah diatur menurut klasifikasi tingkatan atau kelas tertentu. Yang berada pada tingkat atas, mereka acap kali dinilai dan diposisikan sebagai senior. Mereka diposisikan sebagai senior karena faktor masa waktu mereka berada di sekolah. Mereka lebih lama daripada orang lain.

Yang baru masuk ke sekolah, mereka dipandang sebagai yunior. Menyandang status yunior dilatari karena mereka belum mengenal situasi. Pengalaman mereka terbilang minim. Mereka juga tidak mengetahui lingkungan sekolah dengan baik.  

Tidak sedikit guru pun mengamini situasi ini. Kelas teratas ditempatkan pada posisi senior. Yang berposisi sebagai yunior seyogianya belajar dan bahkan patuh pada kata-kata senior yang berada pada tingkat atas.

Saya pernah berada pada dua jenjang senior dan yunior ini sewaktu berada di SMP dan SMA. Konteksnya, sekolah berasrama. Sewaktu berada di kelas satu dan dua, kami umumnya berperan sebagai yunior. Yang memainkan peran sebagai senior adalah kakak kelas, kelas 3.

Peran itu menyata lewat organisasi kepemimpinan di sekolah dan di asrama. Ketua OSIS dan ketua asrama serta perangkatnya berasal dari kelas 3. Pemilihan ini tidak lepas dari sisi senioritas.

Begitu pun kami saat masuk kelas 3. Secara otomatis kami menjadi senior. Apa yang dimainkan oleh angkatan-angkatan sebelumnya, juga dilanjutkan oleh angkatan kami.  

Sementara itu, pada konteks budaya, umumnya fenomena senioritas ini terjadi berdasar pada faktor usia. Yang lebih tua mendapat peran lebih. Mereka memosisikan diri sebagai pemimpin dan sosok yang memberi perintah dan ditaati.

Sebaliknya, yang berusia muda menempatkan diri untuk patuh pada perintah dari pihak tua-tua. Meski demikian, mereka yang berada pada posisi yunior kelak akan menggantikan tempat para tua-tua. Karenanya, sembari patuh pada perintah, mereka juga sekiranya belajar dan menimbah pengalaman.

Saya pernah tinggal di wilayah pegunungan utara Filipina. Salah satu budaya yang dinamakan Igorot sangat kuat menganuti senioritas. Orang-orang tua mempunyai pengaruh dan peran. Anak-anak muda mesti menuruti orang-orang tua.

Pada saat orangtua memberikan nasihat dan instruksi, umumnya orang akan mengiakannya. Tetapi, pada saat anak muda yang memberikan nasihat dan instruksi yang sama itu, apalagi kalau berasal dari budaya lain, belum tentu hal itu disepakati.

Mencermati Intensi Relasi Senior dan Yunior

Kalau intensi mendasar dari relasi senior dan yunior ini serupa relasi seorang mentor dan yang dimentori, hal itu bisa dipahami dan diterima. Bekal pengalaman seorang yang berposisi senior bisa membantu yunior.

Model bantuannya itu bisa berupa bimbingan yang dikemas dalam rupa pengetahuan dan skill tertentu. Jadinya, pengetahuan dan skill yang dimiliki oleh seorang senior sekiranya kelak menjadi kepunyaan yunior.  

Masalahnya, ketika status senior ini mengesahkan kekuasaan dan superioritas. Pada titik ini, klasifikasi senior dan yunior terjebak pada praktek yang salah. Ditambah lagi, jika praktik itu bermuara pada aksi merendahkan mereka yang berposisi yunior.

Persoalan bisa kian menjadi rumit tatkala kekerasan yang dilakukan oleh senior dinilai sebagai sesuatu yang diterima dan dipahami. Sebaliknya, kritik seorang yunior kepada senior sangat haram untuk dilakukan.

Pola relasi senior dan yunior mempunyai sisi untung dan ruginya. Keuntungannya, orang yang dinilai sebagai yunior mempunyai mentor yang bisa membantu dirinya untuk belajar dan beradaptasi. Kerugiannya, saat status senior dimanfaatkan untuk membenarkan aksi kekerasan dan penindasan kepada pihak yunior.

Ya, tidak sedikit persoalan kekerasan terjadi dalam relasi senior dan yunior. Contohnya, di lingkungan sekolah. Pihak yang sudah lama berada di sekolah itu membaptis diri mereka sebagai pihak senior yang mesti dihormati dan disegani. Yang baru tiba di sekolah, harus mengakui posisi mereka sebagai senior.

Sewaktu status senior itu tidak diakui dan dilecehkan, pada saat itu pula kekerasan bisa berpeluang terjadi. Yunior yang berani melawan senior bisa mendapat perlakuan tidak terpuji.

Kalau pola pikir ini sudah mengakar, siklus yang sama akan terus terjadi setiap tahun. Orang yang berstatus senior boleh tamat sekolah atau pergi, tetapi titel senior dan yunior tetap ada. Hanya ganti pelaku dengan pola dan cara hidup yang sama.

Senioritas yang menempatkan diri sebagai mentor seyogianya dipertahankan. Dalam mana, pihak yang dipandang sebagai senior mempunyai kewajiban untuk membantu orang-orang yang baru belajar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN