Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Ada Anggota Grup WhatsApp Tersinggung dan Marah, Siapa yang Salah?

13 Februari 2020   10:41 Diperbarui: 13 Februari 2020   11:03 388 7 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Ada Anggota Grup WhatsApp Tersinggung dan Marah, Siapa yang Salah?
Sumber foto: Kompas.com

Barangkali sebagian besar dari kita yang mempunyai dan menggunakan aplikasi media sosial, WhatApp (WA) juga bergabung grup tertentu. Grup itu bisa tercipta karena kepentingan, hobi, dan latar belakang tertentu.

Kita juga dimasukan ke grup tertentu karena mempunyai koneksi dengan intensi di balik pembentukan grup tersebut.

Sejauh ini, saya bergabung dengan lima grup WA. Pada umumnya, grup yang ikuti merupakan grup yang terbentuk karena latar belakang atas dasar se-asal, se-angkatan waktu sekolah dan se-budaya.

Berada di sebuah grup WA, hemat saya mempunyai banyak keuntungan. Salah satu keuntungannya adalah lewat sharing jaringan dan informasi yang begitu cepat.

Lewat grup yang kita ikuti, kita bisa menyampaikan apa yang kita inginkan dan kita bisa mendapatkan gagasan yang bisa membantu kita.

Selain itu, grup WA juga menjadi tempat diskusi. Informasi dan pikiran yang dibagikan ke grup, tidak hanya dikonsumsi, tetapi informasi dan pandangan itu ikut bisa dikritisi dan dinilai.

Kadang kali ada anggota grup yang mengirimkan berita hoaks lewat WA. Mungkin karena ketidaktahuan, mereka sekadar mengirimkan informasi-informasi seperti itu tanpa mencari pembenaran.

Menariknya, anggota grup yang sudah tahu tentang informasi yang sebenarnya bisa mengingatkan tentang informasi hoaks yang sedang dibagikan. Secara tidak langsung, grup WA juga tidak lepas dari kontrol sosial di antara anggota grup.

Namun, grup di WA juga tidak selamanya menjadi tempat yang bisa mempersatukan banyak orang.

Tidak sedikit orang yang meninggalkan grup WA. Pelbagai alasan yang mengitari keputusan seseorang meninggalkan grup WA tertentu.

Ada yang meninggalkan grup WA karena pesan-pesan yang kerap terlalu banyak dan kadang mempengaruhi memori phone.

Ada yang meninggalkan group WA karena motif dari grup itu berbeda dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh pemilik. Apalagi kalau pesan-pesan yang dikirim tidak memberikan keuntungan dan manfaat.

Ada pula yang meninggalkan grup WA karena ketidakcocokan pendapat dengan anggota yang lain. Diskusi dan perdebatan yang buntu sehingga menghasilkan keputusan untuk pergi dari grup WA.

Ada pula yang meninggalkan WA karena merasa tersinggung dengan obrolan yang terjadi di antara anggota grup WA.

Ya, soal rasa tersinggung kadang kali menjadi penyebab hengkangnya sesorang dari grup WA. Ketersinggungan itu terjadi karena bahan yang dibicarakan dan didiskusikan dalam sebuah grup.

Hal ini menunjukkan kalau grup WA bukan sekadar grup yang terdiri berapa kontak phone number. Di balik kontak phone number itu, ada pribadi-pribadi yang siap membagi pikiran dan perasaan.

Pembagian pikiran dan perasaan itu dibarengi dengan keterbukaan untuk menerima ide dan perasaan dari orang lain.

Tidak heran, saat kita membagi pikiran dan perasaan kita dalam sebuah grup, ada yang menanggapinya entah itu lewat kritik, simpati, dan tambahan gagasan dan pandangan.

Sebaliknya, kita juga bereaksi saat ada orang yang membagi pikiran dan perasaan mereka lewat WA. Reaksi kita pun bergantung pada perasaan dan pengetahuan kita tentang hal yang dibagikan.

Reaksi kita bisa beragam dan bergantung pada sejauh mana gagasan dan pandangan itu bersentuhan dengan diri kita. Kalau apa yang dibagi dalam grup tidak bersentuhan diri kita, tidak jarang kita tidak mau peduli dengan hal itu.

Tetapi kalau hal itu bersentuhan dengan diri kita, kita pun peduli. Kepedulian itu hadir lewat tanggapan kita .

Tanggapan kita juga beraneka macam. Kita bisa setuju, kontra dan bahkan bereaksi marah pada postingan orang lain.

Di sebuah grup yang saya ikuti, seorang teman bereaksi keras pada pernyataan salah seorang teman grup.

Dalam pernyataan itu, dia menyebut tentang nama kampung dan dikaitkan dengan postingan yang begitu lucu. Alih-alih ingin membuat orang se-grup merasa terhibur, malah ada yang merasa tersinggung.

Dia tersinggung karena orang itu menyebut nama kampungnya sebagai tali penghubung dengan sebuah postingan yang bernuansa lucu. Dia tersinggung karena dia merasa nama kampungnya dilecehkan.

Rasa tersinggung itu dilontarkan dengan pernyataan yang cukup pedes. Jadinya, situasi di grup menjadi kaku.

Pengalaman ini mengajarkan kalau grup WA itu merupakan sebuah tempat di mana hadir pribadi-pribadi. Pribadi-pribadi itu membagi postingan seturut perasaan dan pikiran mereka. Mereka juga membaca dan melihat postingan di grup seturut pikiran dan perasaan mereka.

Karenanya, setiap postingan yang disharingkan lewat kolom grup WA, seharusnya itu mempertimbangkan setiap pribadi yang ada dalam grup tersebut.  

Kadang kala satu postingan disukai oleh beberapa orang, tetapi beberapa orang tidak menyukainya atau merasa tersinggung atas postingan itu sendiri.

Pendeknya, kita mesti selalu menyadari kalau satu postingan di sebuah grup tidak akan berjalan seturut pandangan dan perasaan kita masing-masing.

Jadi bersikap sensitif dalam relasi di sebuah grup merupakan salah satu langkah agar anggota grup tidak merasa tersinggung dan marah yang berujung pada meninggalkan grup atau tidak menimbulkan perpecahan di dalam grup itu sendiri.

Grup WA mempunyai banyak manfaatnya. Sekiranya kita yang tergabung dalam sebuah grup melihat, mencari dan membagikan hal-hal yang memberikan manfaat untuk anggota grup.

Gobin Dd

VIDEO PILIHAN