Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Kabinet Jokowi Jilid II, Yang Dinantikan dan Diharapkan

22 Oktober 2019   06:48 Diperbarui: 22 Oktober 2019   07:09 0 5 3 Mohon Tunggu...
Kabinet Jokowi Jilid II, Yang Dinantikan dan Diharapkan
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto turut hadir di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2019). Ia datang bersama Waki Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo. Keduanya kompak mengenakan kemeja putih lengan panjang. (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Penentuan dan pengumuman siapa-siapa saja yang akan duduk di kabinet Jokowi jilid II menarik banyak kalangan. Hemat saya, ada beberapa alasan yang menjadikan pengumunan anggota kabinet Jokowi jilid II itu menarik untuk ditelusuri dan dinantikan.

Pertama, rakyat menanti tokoh kejutan.

Kita mungkin masih ingat saat Jokowi menentukan para anggota kabinetnya di tahun 2014. 

Beberapa figur berada di luar jangkauan spekulasi publik tanah air. Salah satu contohnya, kehadiran ibu Susi Pudjiastuti yang ditentukan sebagai menteri perikanan.

Keterkejutan publik waktu itu umumnya didasari oleh latar belakang pendidikan ibu Susi. Tidak sampai di situ, kebijakan berani Ibu Susi membuat melek mata banyak orang. Cara kerjanya menyadarkan banyak orang kalau menilai seseorang tidak cukup pada satu aspek dari latar belakangnya. Ada banyak aspek yang bisa mengukur kualitas seseorang.

Pertanyaan, adakah tokoh kejutan di kabinet jilid II dan seberapa besar efek keterkejutannya itu dalam kerja dan pelayanannya?

Kedua, Akankah oposisi mendapat jatah di kabinet dan jatah apa yang akan diduduki oleh pihak oposisi?  

Spekulasi beredar di pelbagai media kalau beberapa pos di kabinet akan diisi oleh pihak oposisi dari pilpres lalu.

Merekrut oposisi sebagai bagian dari sistem kerja bukanlah hal terlarang. Sah-sah saja kalau oposisi direkrut apalagi ideologi dan gagasan pihak oposisi sejalan dengan program pemerintah. Toh, tugas oposisi dalam sistem demokrasi juga untuk kepentingan bangsa dan negara.

Persoalannya, kalau pihak oposisi melihat posisinya sebagai momentum untuk membangun profil diri demi meraih kepentingan jangka panjang. Mungkin inilah yang menjadi perhatian publik apabila Jokowi betul-betul merekrut kubu oposisi dan menempatkan mereka sebagai bagian dari pemerintahan.

Publik tidak ingin stabilitas pemerintahan terganggu bukan dari luar tetapi dari dalam dirinya sendiri, yakni lewat kehadiran pihak oposisi. Semoga saja kekuatiran tidak menjadi nyata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3