Finansial

Sudah Kemarau Tertimpa Hama

9 Agustus 2018   14:10 Diperbarui: 9 Agustus 2018   14:23 357 0 0

Musim kemarau makin mengancam puluhan hingga ratusan ribu hektare sawah. Potensi gagal panen kian besar. Sementara, harga beras masih tinggi sebab pasokan yang seret. Bagaimana respon Kementerian Pertanian atas perkara-perkara ini? Entahlah. Mereka malah sibuk gembar-gembor surplus dan ekspor yang tidak jelas ujung pangkalnya. Tampak percaya diri, meski jurang krisis pangan sudah menganga di depan mata.

Hitung saja, sudah berapa daerah yang telah terlanda kekeringan akut? Setelah Pulau Jawa, rembetannya pun menyasar pulau lain. Diantaranya, Kalimantan. Bahkan disana, kekeringan dibarengi dengan serangan hama tikus yang dahsyat. Lengkapnya, mari kita baca di sini: https://www.antaranews.com/berita/73...h-gagal-panen.

Kondisi tersebut jelas bertentangan dengan pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, selasa lalu (7/8/2018). Dia bilang, "Justru kalau kondisi cuaca seperti ini dan airnya siap di daerah irigasi itu, produktivitas relatif bagus karena hama berkurang".

Sangat memprihatinkan. Harus menunggu berapa daerah lagi terancam kekurangan pangan hingga Kementan bergerak? Di media, institusi itu justru menyebar informasi bahwa produktivitas pertanian tetap baik. Bahkan beberapa waktu lalu, tercatat seluas 1700 hektare lahan padi di Kabupaten Penajam Paser Utara gagal panen karena masalah hama. Parah sekali.

Ini baru yang terekam jejak media lho, bagaimana soal daerah lain yang mungkin saja luput dari media? Mungkin lebih banyak lagi. Sungguh berbeda dengan kenyataan di lapangan. Sampai kapan penyangkalan ini berlangsung? Apa karena demi agenda popularitas jelang pemilu 2019, lalu pengelabuan informasi terus dilakukan?

Meski kita sudah tahu, sebagaimana pernah dikupas oleh Guru Besar IPB Profesor Dwi Andreas, bahwa validitas data pangan Kementerian Pertanian itu meragukan. Tapi apakah bakal terus dibiarkan? Rakyat di bibir kesulitan, jangan terus dihibur-hibur dengan informasi yang berbeda dengan kondisi sebenarnya.

Intinya, Kementan wajib waspada. Ancaman datang dari segala lini. Jika amunisi terbatas, bunuh diri. Produktivitas bisa mati.

Petani butuh realisasi, karena masyarakat tidak lagi bisa lagi dikibuli. Berhenti umbar janji. Sebab kelak Indonesia yang bakal merugi.