Mohon tunggu...
Doni Febriando
Doni Febriando Mohon Tunggu... Kompasianer Newbie

Hanya seseorang yang biasa-biasa saja tapi telah menemukan kebahagiaan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Wejangan Ibas ke Kementerian BUMN Ini Patut Didengar

20 April 2020   17:43 Diperbarui: 20 April 2020   17:39 29 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wejangan Ibas ke Kementerian BUMN Ini Patut Didengar
www.grid.id

Putra kebanggaan mantan Presiden SBY, Edhie Baskoro  atau kerap disapa Ibas, mengapresiasi langkah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bergerak di bidang pangan dalam menjaga ketersediaan pangan di Indonesia di tengah pandemi global virus corona. Namun tak lupa Ibas memberikan empat wejangan untuk BUMN agar tidak impor pangan secara sembarangan.

Wejangan Ibas untuk BUMN pangan yang pertama adalah mau bekerjasama dengan berbagai kementerian yang lain. Tidak jalan sendiri-sendiri. Kementerian BUMN harus bersinergi dengan Kemensos, Kementan, Kementerian Koperasi dan UKM, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menjamin lancarnya distribusi pasokan pangan yang merata di tengah pandemi global virus corona seperti saat ini.

Seperti dilansir dari Detik.com, Ibas SBY yang kini menjabat Anggota DPR RI memberi wejangan kedua pada Kementerian BUMN utamakan membeli pasokan dari petani, peternak dan nelayan lokal dulu. "Kami mendengar tidak hanya Pulau Jawa, di Kalimantan, Sulawesi dan seterusnya ketika petani terbengkalai tidak ada yang membeli," kata Ibas dalam rapat virtual dengan Komisi VI pada hari Senin (20/4/2020) ini.

Ibas SBY yang kini duduk di Komisi VI DPR RI memberikan wejangan yang ketiga, yakni meminta Kementerian BUMN yang mengurusi logistik pangan turut membantu UMKM-UMKM yang bergerak di bidang makanan atau pengolahan makanan.

Wejangan yang keempat, Ibas SBY yang berasal dari Fraksi Partai Demokrat mengingatkan Kementerian BUMN yang mengurusi pangan agar tidak sembarangan dalam impor pangan. "Kami ingatkan agar policy respons BUMN klaster pangan apakah terkait cashflow dan impor jangan sampai serampangan. Jangan sampai atas nama situasi pandemi COVID kita melakukan impor sebesar-besarnya, tidak merencanakan perusahaan sebaik-baiknya cashflow terganggu, sehingga secara keseluruhan cashflow negatif atau lampu merah," pungkasnya.

Referensi

VIDEO PILIHAN