Mohon tunggu...
H.D. Silalahi
H.D. Silalahi Mohon Tunggu... orang Tigarihit

Military Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Maju Mundur Cantik PSBB Ala Anies Baswedan

12 September 2020   11:21 Diperbarui: 12 September 2020   16:46 199 21 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maju Mundur Cantik PSBB Ala Anies Baswedan
Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)

Saking tidak tahunya apa itu Covid19, seorang teman pernah berkata kepada saya, menebak apa itu Corona Virus Disease19 ibarat memegang gajah di dalam gelap. Ketika memegang belalainya, pasti kita beranggapan yang terpegang adalah ular, begitu juga ketika memegang kakinya, kita menganggap yang terpegang adalah pohon, lain lagi kalau memegang anunya, pasti kita menganggap yang terpegang anu juga..he.he.

Iya, saking asingnya dengan virus baru ini, membuat dunia dan juga Indonesia hanya dapat mereka-reka seperti apa virus ini. Penyebaran yang sangat cepat dan masif juga membuat para ahli virus tidak diberikan waktu yang cukup untuk mempelajari makhluk kecil tak kasat mata ini.

Tidak heran, cara yang ditempuh setiap negara menghadapi pandemi ini cukup beragam, menyesuaikan dengan kondisi di negara masing-masing. Demikian juga dengan Indonesia,  alih-alih menerapkan lockdown, Indonesia lebih memilih menerapkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Sampai saat ini, belum ada kebijakan penanganan covid19 yang dianggap sempurna 100%, semua hanya berdasarkan prediksi dan perkiraan, kenyataannya korban tetap saja berjatuhan. WHO saja, badan yang dianggap sebagai suhu kesehatan di planet ini, masih plin-plan sampai sekarang. Tahap awal pandemi, WHO menyimpulkan, transmisi covid19 berasal dari kelelawar. Nah, akhir-akhir ini, bang Tedros, Direktur WHO, menyebut transmisi awal berasal dari sesama manusia, bukan kelelawar. Untung saja, sang ketua kelelawar sedunia, BATMAN, tidak mengajukan somasi, atas tuduhan pencemaran nama baik.

Bingung kan, jangankan Anies Baswedan, Donal Trump saja yang ngaku-ngaku Presiden paling Great sedunia mencak-mencak dibuat virus kecil-kecil berkhasiat ini.

Nah, boleh-boleh saja Airlangga Hartarto menyerang kebijakan PSBB Jakarta, mengingat sebagai Menko Perekonomian, beliau adalah orang yang paling bertanggung jawab menyelamatkan perekonomian Indonesia. Tetapi, sewajarnya Airlangga harus menyadari dari awal, tidak ada yang tahu persis bagaimana kelakuan covid19, demikian juga Anies Baswedan.  Di era New Normal ini, Pak Airlangga harus mahfum kebijakan yang berubah-ubah adalah keniscayaan, menyesuaikan dengan tingkat keparahan situasi akibat pandemi ini.

Dari awal penerapan PSBB memang sudah menjadi polemik di masyarakat. Bagaimana tidak, kebijakan PSBB ini, seperti lazimnya kebijakan-kebijakan terdahulu yang diterbitkan di rezim Jokowi, tidak melibatkan pendapat para ahli dan pakar yang berkompeten di bidang tersebut. Pendapat ini bisa saja salah.  Yang terlihat, kebijakan PSBB didesain oleh politikus dan anehnya di Tim Gugus Tugas Covid19, tidak melibatkan ahli virus, ahli epidemiologi maupun ahli mikrobiologi.

Begitu juga di Jakarta, kita tidak tahu penerapan PSBB sekarang ini-yang merupakan lanjutan dari penerapan PSBB transisi (apanya mau ditransisi)-apakah melibatkan ahli per-virus-an. Di era digital saat ini, kebijakan yang bersifat satu arah alias monolog kurang disukai.  Warga butuh penjelasan terperinci apa dasar kebijakan ini, tujuannya apa, targetnya apa dan berapa lama penerapan PSBB di Jakarta, clean and clear.

Bagaimanapun juga setiap kebijakan berdampak langsung terhadap masyarakat. Sudah saatnya Pemerintah -Pemerintah Pusat dan Daerah- dalam mengeluarkan kebijakan penanganan covid19, melibatkan akademisi dan ilmuwan yang berkompeten menangani virus. Sebab, sudah terbukti, kebijakan yang diambil berdasarkan pertimbangan politik pasti selalu membuat gaduh, menjadi polemik di masyarakat.

Apapun itu, kebijakan PSBB sudah diterapkan, menjadi kewajiban setiap warga untuk melaksanakannya. Tetapi, Pemprov DKI Jakarta harus komit dong, jangan pilih kasih menerapkan law enforcement. Semoga pagebluk ini segera usai.

Salam

VIDEO PILIHAN