Mohon tunggu...
hendra donal silalahi
hendra donal silalahi Mohon Tunggu... suka menganalisa fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat

penyuka analisa politik, sepakbola,ekonomi,marketing dan militer

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Frigate Pengganti Van Speijk Class

19 Agustus 2019   14:34 Diperbarui: 19 Agustus 2019   14:39 0 2 0 Mohon Tunggu...

Sesuai dengan rilis berita TNI AL, pada tanggal 15 Agustus 2019 kemarin KRI Slamet Riyadi salah satu dari armada Van Speijk Class resmi dipensiunkan, Frigate TNI AL daro jenis Van Speijk Class adalah flagship Armada Perang TNI AL, tetapi melihat umur kapal dan biaya perawatan yang semakin meningkat mau tak mau TNI AL harus segera membebas tugaskan kapal ini.  Sebagaimana yang kita ketahui dari rilis berita TNI AL  6 unit armada frigate TNI Al dari jenis Van Speijk Class akan berangsur-angsur dipensiunkan.

 Melihat kondisi ini tentunya TNI AL harus segera memilih jenis kapal perang untuk mengisi kekosongan. Kita mengharapkan TNI AL memilih kapal dengan melihat tipikal geografis lautan Indonesia,tingkat ancaman yang ada dan keseimbangan kekuatan dengan armada " Flagship" di kawasan regional seperti Australia, China, Jepang dan negara-negara kawasan Asia Tenggara. 

Untuk sementara ini melihat kondisi "existing" armada kapal perang TNI AL, yang dapat disebut menjadi armada flagship TNI AL  adalah dari kelas RE. Martadinata Class Ship. Kapal Perang ini adalah sejenis Multirole frigate yang diproduksi Damen Schelde bekerjasama dengan PT. PAL, melihat teknologi dan senjata yang dipasang di kapal ini sangat wajar apabila jenis kapal ini menyandang gelar sebagai "flagship" di jajaran armada kapal perang TNI AL karena kelengkapan yang ada di kapal ini memakai tekhnologi teranyar dan paling unggul diantara armada kapal perang TNI AL yang sudah ada saat ini. 

RE. Martadinata Class Ship memakai radar Thales SMART-S  lebih jauh dari jarak jangkau radar Thales MW 08 yang dipunyai armada korvet DIPONEGORO Class Ship,  AShM memakai Exocet MM 40 Blok 3 yang jarak jangkaunya meningkat pesat dari rudal exocet block 2, untuk pertama kalinya kapal perang TNI Al memakai rudal anti serangan udara dengan peluncur vertikal yaitu VL MICA, kapal ini juga memasang jenis senjata CIWS yaitu Oerlikon Millenium Gun yang juga merupakan jenis senjata yang termasuk baru di jajaran kapal perang TNI AL serta seabrek teknologi baru yang disematkan di kapal ini.

TNI AL harus segera mencari solusi untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh armada Van Speijk Class, kalau TNI AL memilih                        RE MARTADINATA Class Ship sebagai pengganti maka TNI AL harus menambah 4 unit lagi, krn yang eksisting saat ini baru 2 unit, sampai dengan tahun 2019 belum ada rilis dari TNI AL mengenai  kontrak baru penambahan kapal perang dari jenis MARTADINATA Class Ship, padahal sebagaimana kita ketahui pembuatan kapal perang membutuhkan waktu yang cukup lama, minimal membutuhkan 2 tahun untuk membuat satu kapal perang ini, padahal untuk jenis ini PT.PAL hanya mempunyai 1 line produksi.

Kalau menimbang dari segi perkembangan organisasi TNI AL yang menambah satu lagi KOARMABAR, kalau TNI AL selama ini menganut  prinsip 1 kapal bertugas, 1 kapal menjalani perawatan, dan 1 kapal lagi sebagai cadangan sebenarnya kebutuhan armada flagship TNI AL tidak 6 unit lagi, harus ditambah menjadi 9 unit.

Belum lagi kalau kita melihat ancaman yang ada saat ini, yang paling dekat adalah eskalasi di Laut China Selatan yang memanas, Indonesia punya kepentingan di sana yakni untuk mengamankan jalur tranportasi perdagangan dan menguatkan status quo Laut Natuna Utara yang diklaim oleh China, untuk melakukan patroli di wilayah ZEE kita di Laut China selatan TNI AL  membutuhkan armada kapal yang "Ocean Going", yang mampu bekerja maksimal di Level Sea State 6 agar mampu mengantisipasi Angin Muson Barat dan Angin Muson Timur.

Melihat postur kekuatan armada di kawasan TNI AL perlu bekerja keras untuk mengimbanginya,  sebagai contoh dengan negara tetangga seperti Singapura dan Thailand,  armada flagship kita masih inferior dibanding mereka.

Singapura mempunyai Formidable class ship sebanyak  6 unit kapal  sebagai armada flagship, kalau dibandingkan dengan RE Martadinata class ship,  kita kalah di jangkauan radar dan rudal anti serangan udara, formidable class sudah dilengkapi dengan rudal ASTER15/30 yang lebih jauh jangkauannya dibanding Rudal MICA yang ada di KRI RE MARTADINATA, sedang Thailand mempunyai kapal Frigate DW3000F yang juga lebih unggul di jangkauan radar dan Rudal anti serangan udara, frigate ini sudah dipasang rudal  RIM-162 ESSM yang lebih jauh jangkauannya dibanding Rudal MICA, frigate ini juga dapat membawa 32 rudal  RIM-162 ESSM dibanding KRI RE Martadinata yang cuma dapat membawa 12 buah rudal MICA. Di kawasan Asia Tenggara saja kita sudah kalah apalagi dibandingkan dengan Australia, China, Korea Selatan yang masing-masing sudah mempunyai armada berjenis destroyer.

Melihat kondisi ini, sudah wajar TNI AL menginginkan kelas kapal yang lebih gahar seperti berita yang beredar sekarang ini yaitu TNI AL menginginkan Frigate kelas Iver Huitfeldt class ship, secara spesifikasi frigate ini sangat mumpuni, di sektor radar frigate ini dipasang jenis long range radar yakni Thales Smart-L, Frigate ini juga sudah dapat memuat 32 rudal SM-2 IIIA s dan 24 rudal RIM 162 ESSM untuk anti serangan udara, dari segi tonase kapal ini dapat beroperasi dengan baik di Sea State 6, sangat cocok berpatroli di Laut Natuna Utara, Laut Banda dan Samudera Hindia. 

Damen Schelde juga menawarkan Frigate jenis baru untuk TNI AL yang dinamakan Omega class frigate, sampai saat ini jenis kapal ini baru sebatas desain, melihat tradisi TNI AL lebih menyukai kapal perang dari Belanda, Damen Schelde sebenarnya mempunyai frigate yang sudah eksis yakni frigate De Zeven Provincien class ship. Semua jenis Frigate yang ditawarkan untuk TNI AL bertonase 6000 ton.

Terlepas dari berbagai tawaran kapal frigate  untuk TNI AL, kita mengharapkan pemerintah melalui TNI AL dan DPR mendukung pengadaan "Real Frigate"untuk TNI AL, sebagai pengisi kekosongan yang ditinggalkan Van Speijk class ship dan penyeimbang kekuatan dengan negara di kawasan, sebagai negara kepulauan dan negara besar Indonesia dan mewujudkan cita-cita menjadi poros maritim dunia.

Indonesia harus mampu menghadirkan kekuatan laut yang sejajar dengan negara-negara besar di kawasan seperti Australia, China, India, Korea Selatan.  Sebagai negara G20 dan pemimpin "de facto" ASEAN level kekuatan laut Indonesia sudah harus lebih tinggi  dibanding negara tetangga Asia tenggara dan sejajar dengan negara-negara besar di Asia. Saatnya TNI AL mengambil keputusan, mumpung belum seluruhnya armada Van Speijk dipensiunkan.

Salam....