Mohon tunggu...
Donald Sitompul
Donald Sitompul Mohon Tunggu...

I'm cool.........

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Buddha Bar... Belum Selesai Juga..???

28 Mei 2010   11:33 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:54 267 0 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_152329" align="alignright" width="300" caption="Aksi Menentang Buddha Bar/Admin (Kompas.com/Sandro Gatra)"][/caption] Libur ya hari ini? Telat bangun deh..... Aku menyalakan hape, waahh... ada beberapa sms masuk dari beberapa teman..... Benar kalender tanggal merah, 28 Mei 2010.. rupanya Hari Raya Waisak 2554..... Selamat Hari Raya Waisak dulu deh kepada teman-teman yang merayakannya...! Komputerku di pojok kamar sudah menggoda untuk dinyalakan, yaahh... Aku menyalakannya sambil menekan tombol "ON" pada modem untuk koneksi ke internet... Sambil menunggu proses penyalaan di komputerku, mending mandi dulu kan..? Selesai mandi yang buru-buru, naahh... Mulai deh kLik di net, asyiikk... :) Cari berita apa niyy di situs kompas online, rupanya topik hari ini terkait perayaan hari raya besar ummat Buddha ini menjadi salah satu topik yang ditonjolkan, yaitu aksi unjuk rasa di depan Buddha Bar, Jakarta... Membaca berita ini, aku berpikir apakah kasus ini masih belum dapat diselesaikan juga? Bukankah sejak setahun lalu sudah sempat ramai, terlebih lagi diiringi dengan aksi unjuk rasa dari para pemuda dan mahasiswa beragama Buddha yang menghiasi media massa nasional saat itu... Bila mengacu pada negosiasi antara Pemerintah Provinsi DKI dengan pihak perwakilan ummat Buddha diberitakan telah dicapai kata sepakat, tetapi mengapa masih ada saja yang berunjuk rasa di depan bar yang berlokasi di daerah Menteng, Jalan Teuku Umar No. 1 Jakarta Pusat ini? Apakah sesungguhnya masih menyimpan persoalan? Tentu banyak yang belum tahu atau menduga-duga apa siyy Buddha Bar itu? Buddha Bar pertama kali dibuka di Paris oleh Raymond Visan pada tahun 1996, dan kini 12 tahun berselang, tempat yang memiliki interior unik ini sudah ada di berbagai kota besar dunia seperti London, New York, Dubai, Sao Paolo, Kiev, Cairo dan Beirut. Langkahkan saja kakimu ke bar di jantung kota ini, suasana yang terbangkitkan akibat sajian musiknya terasa eksotis, mistis akan membuat dirimu merasa santai... Rasakan aura sebuah bangunan megah bersejarah peninggalan kolonial Belanda bekas kantor Imigrasi DKI Jakarta. Eksterior dengan gaya kolonial yang kuat tersebut berpadu dengan interior bergaya Asia menjadi ciri. Aksen-aksen Asia semakin terasa saat melihat elemen-elemen dekorasi furnitur, pajangan-pajangan antik, patung-patung kuno dan tentu saja, patung Buddha... Humm..... Ini memang jadi masalah yaa...?? Bagaimana bila simbol Nabi junjunganmu ada di sebuah bar tertentu di Jakarta? Buddha Bar Jakarta memang menawarkan gaya hidup kota besar yang memanjakan seluruh panca indera para crème de la crème kalangan atas Jakarta... Hikss..., dilengkapi Lounge untuk bersantai menikmati alunan musik dari seorang disc jockey. Mau menikmati cocktail?, jangan khawatir.. Tersedia di Patio-Terrace, tempat menikmati minuman dengan pemandangan taman di bagian luar bangunan utama; dan restoran yang menyajikan hidangan ala Pan Asia & Pacific Rim. Lengkap dengan patung Buddha berukuran besar yang pasti kita akan terpukau melihatnya... Terlepas keterpukauan kita terhadap bangunan tersebut, seperti ditulis di situs kompas hari ini rupanya hal ini menjadi kegelisahan dan keprihatinan bagi ummat Buddha di seluruh Indonesia, mereka menganggap kehadiran bar tersebut merupakan bentuk pelecehan agama, katakanlah dijualnya minuman keras, atau adanya pertunjukan vulgar dan properti di dalam bar seperti asbak yang didasarnya terpasang simbol Buddha, sebagai contoh.. Kita sebenarnya menyambut ide awal dan gagasan untuk melestarikan bangunan bersejarah ini sebagai bangunan cagar budaya dengan pertimbangan cukup menarik melakukan terobosan, sebagai tempat usaha yang saling menguntungkan berkaitan dengan pariwisata... Tetapi bila di negara lain bar yang sama tidak mengalami resistensi, menjadi lain halnya di negeri kita. Pilihan sulit di tengah beragamnya masyarakat kita yang plural, tetapi berkarakter melodramatik sementara zaman terus berubah, negeri kita selalu melahirkan kontroversi, sebagai contoh kasus Miyabi beberapa waktu lalu serta kasus lomba gambar Nabi di situs jejaring pertemanan facebook.. Perubahan terus terjadi, akan banyak konflik disana, semoga pilihan keputusan apa pun, menghasilkan pilihan win-win solution tanpa mendiskriminasi pihak mana pun... Selamat Hari Raya Waisak 2554...! Damai selalu..... Siang hari di Jakarta, 28 Mei 2010 --------------------------------------------------------------------- Artikel terkait, kLik disini..... http://storiesfromtheroad.wordpress.com (Dari berbagai sumber)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x