Mohon tunggu...
Don Zakiyamani
Don Zakiyamani Mohon Tunggu... Penikmat Kopi Senja

personal web https://www.donzakiyamani.co.id Wa: 081360360345

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Amerika Serikat, Belajarlah dari Indonesia

3 Juni 2020   12:39 Diperbarui: 3 Juni 2020   12:28 505 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Amerika Serikat, Belajarlah dari Indonesia
Dok.fajar.id

Demonstrasi di Amerika Serikat sudah menyentuh level tidak normal. Pasalnya, sudah terjadi penjarahan toko, aksi lempar benda, dan meluas. Barangkali mereka selama ini merasa sebagai barometer negara demokrasi. Ternyata mereka tidak lebih baik dari Indonesia ketika berhadapan dengan masalah yang sama; SARA.

Saat ini mereka merasakan langsung suasana kebatinan yang pernah dirasakan Indonesia. Negara ini (Indonesia) merupakan negara yang paling sering diterpa isu SARA. Awal Februari 2011 konflik antara suku Dayak dan Madura terjadi di Kalimantan. Mei 98 kerusuhan terjadi di Jakarta sebagai implikasi dari krisis politik. Etnis Tionghoa menjadi sasaran kemarahan massa.

Di Aceh, sikap arogan oknum TNI/Polri ketika menjalankan tugas berujung pada pengusiran suku Jawa pendatang. Sejauh ini konflik SARA karena warna kulit belum pernah terjadi di Indonesia. Kebanyakan konflik terjadi antar suku dan etnis, meski demikian pada dasarnya sama. Apa yang terjadi di Amerika Serikat sejatinya tak perlu terjadi, andai mereka mau belajar dari Indonesia.

Sejauh ini, konflik di Sampit, Aceh, Ambon, dan Jakarta maupun di daerah lain tidak menyebar. Konflik hanya terjadi di daerah tersebut. Namun yang terjadi di Amerika Serikat malah meluas. Apakah itu pertanda rakyat Amerika Serikat lebih mudah terprovokasi dibandingkan rakyat Indonesia. Bisa jadi ya, namun bisa jadi tidak. Bisa jadi kejadian ini hanya akumulasi dari ketidakpuasan mereka atas Donald Trumph selama ini.

Lalu apa yang dapat Amerika Serikat pelajari dari Indonesia. Pemerintah Amerika Serikat dapat mencontoh pendekatan kultural yang dilakukan pemerintah Indonesia ketika konflik SARA terjadi. Setiap etnis di Amerika Serikat pastilah memiliki pemimpin, mereka harus lebih dilibatkan sehingga kerumunan massa tidak perlu terjadi. Pendekatan dialog dengan para pemimpin perlu dilakukan Donald. Tentu saja Amerika Serikat tidak selihai elit Indonesia.

Budaya kekeluargaan di Indonesia memang tidak sama dengan Amerika Serikat. Di situlah kita (Indonesia) patut bersyukur, ketika pemimpin adat berkata "Jangan bergerak", akan diikuti. Di Amerika Serikat kesukuan tak sebanyak di Indonesia, mereka lebih banyak etnis yang berasal dari berbagai negara di dunia. Namun tetap saja pemerintah Amerika Serikat dapat belajar dari Indonesia, melalui dialog dengan para pemimpin etnis. 

Pemerintah Amerika Serikat juga harus memberi edukasi kepada para aparaturnya tentang kemajemukan negerinya. Jangan sampai para aparat yang menjadi duta rasisme di negaranya sendiri. Sejauh ini, aparat (TNI/Polri) di Indonesia  memiliki nasionalisme yang lebih baik jika dibandingkan dengan aparat di Indonesia. Buktinya, sejauh ini aparat penegak hukum di Indonesia dapat membuktikan profesionalitas mereka ketika terjadi konflik SARA.

Karenanya, pemerintah Amerika Serikat tak perlu sungkan dan malu untuk belajar pada Indonesia. Entah cara penanganan konflik maupun cara mendidik aparatur negaranya. Saya kira Indonesia terbuka untuk hal itu, Presiden Jokowi silakan tawarkan Amerika Serikat bantuan kepada Amerika Serikat. Namun demikian, Indonesia juga tak boleh jumawa. Pasalnya, konflik atas nama agama masih mengancam persatuan bangsa ini.

Para pemuka agama sebaiknya berhati-hati ketika mengeluarkan pernyataan. Jangan memprovokasi umat yang memiliki daya nalar beda-beda, bahkan terkadang belum mampu mencerna dengan benar. Semoga Indonesia terhindar dari konflik SARA yang hanya akan memperburuk situasi. Dan akan menjadikan peradaban kita semakin mundur.

VIDEO PILIHAN