Don Zakiyamani
Don Zakiyamani Tukang Tulis

Berpikir dan Dzikir sebelum bertindak demi hasil yg menenangkan hati http://www.donzakiyamani.ml Wa: 081360360345

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Kemacetan dan Selera Ngopiku

3 November 2017   02:02 Diperbarui: 3 November 2017   02:16 228 3 1


Sebulan di Jakarta rasa rindu pada kopi Aceh seolah tak tertahan lagi. Pagi itu, dua mahasiswa Aceh yang mengunjungi penulis mengajak minum kopi Aceh. Karena baru dua hari di Jakarta keduanya mengajak penulis menemukan tempat yang pas. Sepertinya kami memiliki kesamaan rasa rindu, tanpa pikir panjang kamipun segera memesan mobil sewa. Melalui aplikasi, kami pesan mobil, oya, kami berangkat dari Jalan Swasembada, Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan.

Warung kopi yang hendak kami kunjungi dimiliki anak muda asal Aceh. Menurut pengakuannya, warung kopi yang di Jakarta merupakan tempat usahanya yang kedua setelah sebelumnya telah dibangun tempat sejenis di Medan, Sumatera Utara. Walaupun masih muda, pemuda asal Aceh Selatan tersebut lumayan sukses dengan usaha kopi khas Acehnya. Selain kopi, warung kopinya menyediakan beberapa makanan khas Aceh. Kerinduan akan Aceh bisa terobati dengan mengunjungi Fakultas Kopi di Jalan Hang Tuah, Jakarta Selatan.

Mobil itu telah tiba, bertiga menaiki mobil sewa tersebut, seperti para bos. Seolah punya supir pribadi, ya keunggulan transportasi online kita dapat tiba ke tujuan sesuai dengan alamat yang kita tuju. Kita dapat tidur, atau tenang didalam mobil tanpa harus memikirkan apakah tujuan benar atau salah. Bila tak sesuai alamat, kita tak perlu membayar. Itulah sebabnya kami bisa beristirahat dimobil, tapi sudah siang kok belum tiba juga ketujuan.

Wah, ternyata kami terjebak macet yang sangat panjang. Saya membayangkan, kalau terjadi gempa bagaimana paniknya orang-orang yang terjebak macet. Betapa mengerikan, begitu bayangan saya sebagai salah satu warga Aceh yang sering panik ketika gempa bumi. Sejak 2004, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh, phobia gempa memang terjadi dalam diri penulis.

Gempa-gempa susulan sangat sering terjadi saat itu, tahun-tahun berikutnya Aceh seolah langganan gempa bumi. Ya, siapa tidak trauma dengan gempa bumi yang meluluhlantakan bangunan-bangunan di Aceh, belum lagi korban jiwa. Setelah gempa dan berita air laut menuju darat, kemacetan terjadi sama persis seperti di Jakarta. Sama seperti kemacetan sore itu, bedanya pengendara tidak dalam keadaan panik karena tidak terjadi gempa.

Sudah pukul 5 sore, belum juga kemacetan menunjukkan tanda-tanda kemacetan akan lenyap. Rasanya rindu pada kopi Aceh tak berjiwa lagi, hasrat menikmati kopi seolah dihapus kemacetan ibukota. Belum lagi para pengendara yang senang menyalip satu dan lain, supir kami sudah mulai memaki. Supir yang dari logatnya berasal dari Medan, logat Bataknya yang kental.

Setengah jam kemudian kami keluar dari kemacetan, rasa ingin ngopi benar-benar telah hilang. Kesal bercampur trauma dengan kemacetan ibukota, berjanji tak akan lagi mencari warung kopi yang jauh, namun perjalanan harus tetap dilanjutkan. Pukul 6 sore saat beberapa menit kemudian adzan, barulah kami tiba di Fakultas Kopi, Jakarta Selatan.

Mungkin inilah yang disebut dengan cinta, sempat hilang selera karena macet, kopi mampu mengembalikan mood. Penulis bersama dua aktivis kampus akhirnya dapat menikmati kopi khas Aceh. Kerinduan akan Aceh dan rasa kapok pada kemacetan sedikit berkurang, namun demikian,  saya berharap gubernur baru mampu menemukan solusi.