Don Zakiyamani
Don Zakiyamani Tukang Tulis

Berpikir dan Dzikir sebelum bertindak demi hasil yg menenangkan hati http://www.donzakiyamani.ml Wa: 081360360345

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Bank Aceh Syariah

14 September 2017   10:01 Diperbarui: 14 September 2017   12:17 1151 1 1
Bank Aceh Syariah
Sumber Foto: Serambi Indonesia

19 September 2016 menjadi momentum penting bagi Bank Aceh sebagai satu-satunya bank milik rakyat Aceh. Secara resmi Bank Aceh menjadi Bank Syariah dan semakin mempertegas jati dirinya.

Perubahan Bank Aceh dari konvensional menjadi syariah adalah langkah maju. Perubahan yang telah lama dinantikan rakyat Aceh sebagai pemodal sekaligus nasabah.

Perubahan tersebut bukan hanya didasari hukum Islam akan tetapi secara ilmiah perbankan syariah mampu membendung kapitalisasi.

Perbankan syariah memperlakukan nasabah sebagai pemilik bank, itu bermakna bahwa bankir dan nasabah memiliki tanggung jawab bersama. Memiliki resiko dan keuntungan bersama pula.

Bagi rakyat Aceh yang mayoritas beragama Islam, perubahan ini semakin meyakinkan mereka bertransaksi melalui bank. Selama ini masih ada ketakutan bertransaksi dengan bank karena terindikasi riba.

Secara umum Bank Syariah memiliki keunggulan dalam memposisikan nasabah. Hal itu pula yang mengharuskan kita berinteraksi dengan perbankan syariah. Bank syariah memanusiakan manusia, kita sebagai nasabah terlibat penuh dalam perjanjian transaksi (akad). 

Klausul agreement bukan sesuai keinginan bank semata akan tetapi nasabah pun diajak berdiskusi. Setiap meminjam kepada bank kita diajak menanggung resiko bersama, perencanaan bersama dan selalu ada evaluasi dari pinjaman tadi.

Bila meminjam untuk memulai sebuah usaha, pihak perbankan akan memberi gambaran peluang dari usaha yang akan dirintis. Hal itu dikarenakan usaha tersebut merupakan usaha bersama antara kita dan perbankan.

Perbankan syariah tidak seperti perbankan konvensional yang hanya peduli pinjaman dibayar perbulan.pe perbankan syariah menjadi mitra sejati bagi usaha yang akan kita bangun. Kegagalan usaha kita adalah kegagalan pihak perbankan pula, demikian pula bila sukses.

Prinsip bermitra itulah yang menjadikan nasabah merupakan mitra bagi perbankan. Perbankan tidak menggunakan prinsip modal sekecilnya dan untung sebesarnya.

Bank Aceh Syariah sebagai bank daerah pertama yang berkonversi ke syariah saat ini terus berbenah. Sosialisasi yang mereka lakukan bukan hanya dalam bentuk spanduk dan baliho, akan tetapi program CSR kepada fakir dan miskin serta anak yatim piatu.

Bank Aceh Syariah terus melakukan upaya mengenalkan bagaimana perbedaan bank syariah dan konvensional. Hal itu menurut saya perlu dilakukan agar masyarakat tidak salah tafsir dan menganggap syariah hanya label semata.

Paradigma perbankan syariah yang salah tafsir akan sangat merugikan. Dunia perbankan sendiri mengakui bahwa perbankan syariah tangguh dalam mengahadapi krisis ekonomi. Hal itu disebabkan prinsip utama perbankan syariah adalah mensejahterakan nasabah bukan keuntungan semata.

Uang yang dititipkan nasabah merupakan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan dan bila ada keuntungan akan dishare. Sebagaimana yang saya ungkapkan sebelumnya, bank dan nasabah adalah mitra dalam membangun kesejahteraan bersama.

Kita berharap bank daerah lain dapat mengikuti jejak langkah Bank Aceh, dan perlu digaris bawahi bahwa non-muslim sama kedudukannya didalam perbankan syariah. Hal itu berarti tak perlu ada ketakutan bahwa bank syariah hanya milik umat Islam.

Bank Aceh Syariah memiliki nasabah yang non-muslim, fenomena Bank Islam di London pun membuktikan demikian. Fenomena itu sekaligus membuktikan bahwa trust terhadap perbankan syariah semakin tinggi. Saya juga pernah mengusulkan agar Bank Aceh Syariah untuk mendirikan perguruan tinggi ekonomi syariah guna menambah SDM bank tersebut.

Semoga bank-bank daerah dapat segera konversi ke perbankan syariah sehingga ekonomi kita semakin kuat