Indonesia Happy People
Indonesia Happy People

Orang Indonesi yang bahagia dan bergembira dalam proses menjadi bagian dari upaya membangun kembali Indonesia Raya

Selanjutnya

Tutup

Politik

#500HariNovelDiserang, Aparat Hanya Gercep untuk Keuntungan Mukidi

1 November 2018   16:11 Diperbarui: 1 November 2018   16:18 226 0 0
#500HariNovelDiserang, Aparat Hanya Gercep untuk Keuntungan Mukidi
https://orangindonesiabahagia.blogspot.com/2018/11/500harinoveldiserang-aparat-hanya.html


Ini adalah teror yang nyata direzim tipu daya ini. Ini adalah hari ke 500 teror itu dibiarkan. Siapa berani bantah ini adalah pembiaran. Siapa berani benarkan kicau meracau Mukidi yang sudah berulang tahun pertama? Bahwa kasus ini mengalami banyak kemajuan. Ada benarnya, ada ga yang tanya kemajuan buat siapa? Buat dalangnya kali?

Aparat loyo, pengusutan berjalan lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi. Bedanya kalau pertumbuhan masih bisa di karang-karang, kasus ini dibiarkan tergeletak di pojokan ruang nurani bangsa ini. Seperti yang Novel Baswedan pernah ungkapkan, ini sengaja tidak diungkap oleh kepolisian. Bagi orang waras kasus ini Lamban, lemah, dan norak.

Dua orang pelaku yang terekam cctv tidak mungkin bekerja tanpa disuruh siapa-siapa. Ada bosnya, pasti. Apalah urusan dua orang lelaki bermotor itu hingga nekat menyerang seorang dengan segitu kejinya. Orang yang sedang berada dijalan antara rumahnya dengan rumah Tuhan. Bosnya ini yang sedang dilindungi, atau yang melindungi adalah sekaligus otaknya, ah sudahlah, harapan kita kasus ini akan terselesaikan sama seperti tiba-tiba kita mau Mukidi minta maaf atas semua kebohongan yang dia dan pemujanya lakukan so far.

Apa untungnya untuk Mukidi kasus ini diselesaikan? Tidak ada! Kecuali nanti dekat-dekat april, buat pemujanya ini bisa jadi hiburan tersendiri. Walau dunia pasti tahu itu adalah kekonyolan hqq.

Setiap kasus yang akan mengancam popularitas semu atau yang bisa mendompleng nama samarnya itu, maka aparat apapun bentuk dan wujudnya akan Gercep a.k.a gerak cepat untuk menyelesaikan hingga akar-akarnya bahkan dalam tempo yang tiada disangka, hitungannya kecepatan cahaya.

Siapa bisa bilang tidak, kalau penegakan hukum di rezim letoi bin loyo ini sangat segmented. Kalau gerombolannya wiiii seribu orang lapor dengan bukti lengkap juga ga bakal dipanggil-panggil tu ama aparat, lah kalau dari oposisi, belum ada yg lapor aja bisa kali.. ibaratnya gitu. Kalau yang dilaporin adalah corong-corong geger expertnya kubu cebs, maka aparat akan mendadak friendly, kayak yang baru-baru, "tidak ada niat jahat" (its disgusted me). kemudian akan sagat gagah walau sebenarnya memble saat dapat orderan mentersangkakan orang yag masih memelihara nalar dan anugerah akal nya untuk tidak ikut-ikutan sekolam.

Selagi masih mukidi yang jadi agen berkedok petugas berkedok pemimpi dari pengutus penyerang Novel Baswedan, maka apa guna kita berharap. Tidak akan terang, malah hanya akan gelap dan tenggelam lah kasus ini. Tapi tidak mengapa, semesta sudah punya hukum yang bahkan sponsor modal kuat mukidi pun tidak akan bisa lawan, Kebenaran. Hanya kebenaran yang akan menang. Kita semua tahu dengan apa kebenaran dapat kita menangkan di Republik ini.

Bahkan orang yang menjadi korban saja sudah tidak yakin haknya akan dia dapat dalam keadilan. Alih-alih menyisihkan waktu untuk hal penting kayak gini, Raja Kodok hanya sibuk jualan gimmick, bersenda gurau, memble, cengar-cengir, dan semakin rajin mempertontonkan keahliannya sebagai makhluk langka yang tidak untuk dilsetarikan.

Guys, 500 hari, dan sang boneka masih tidak melihat bahwa ini harus ia ambil alih. Seperti katanya dulu selagi bisa para aparat itu dia akan biarkan, dan mulutnya berjanji akan segera menanyakan pada anak buahnya. Tidak berani bilang tegas kalau dia akan ambil alih seperti dia gercep ambil alih tuganya orang kelurahan. Bagi-bagi kertas.

Dalam gelapnya mata pejuang anti korupsi itu,

Harusnya mata kita semakin terbuka terang

Harusnya pengorbanan tak terbayar itu kita tebus walau tak sepadan,

Tebus dengan berhenti main-main dengan kekuatan dusta,

Berhenti tidak mau ikut bersuara,

Berhenti diam,

Berhenti sukarela tertipu,

Pandangannya sudah direbut,

Anugerah baginya sudah dirampas,

Untuk ditukarkan dengan sebuah kesadaran,

Aku tak tahu ini akan impas atau tidak,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2