Mohon tunggu...
Nurfahmi Budi Prasetyo
Nurfahmi Budi Prasetyo Mohon Tunggu... Jurnalis - Menulis kalau lagi mood

Penguber kuliner, tertarik politik & penggila bola

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Beda Pilihan Politik dengan Ibu, Saya Tetap Ta'dzim

20 Agustus 2018   22:59 Diperbarui: 22 Agustus 2018   13:25 518
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jokowi Prabowo - Foto: Kompas TV

PANTANG bagi saya membenci orang tua, saudara maupun teman yang berseberangan pilihan politik. Apalagi sampai leave group WA.

Banyak yang bermusuhan dengan teman dekat, bahkan diam-diaman kepada saudara sendiri karena berbeda jagoan di Pilpres atau Pilkada.

Tak lama, ibu saya menunjukkan percakapan di WA emak-emak arisan RT. Gegara beliau meneruskan broadcast tentang blunder Jokowi yang memilih KH. Ma'ruf Amin karena tekanan NU, teman Ibu saya yang tetangga 4 rumah ke kanan memilih leave group.

Sebagai pendukung Jokowi, tetangga  tidak terima atas broadcast ibu saya. Alasannya grup WA tersebut untuk silaturahmi dan arisan ibu2 di RT. Saya hanya bisa bilang, "Mangkanya Mama jangan broadcast begituan".

Kata ibu saya singkat, "Biarin aja. Emang Ibu....orangnya nyinyir. Ibu2 di komplek juga pada gak suka."

Saya memang sering berdebat sama ibu. Tapi selalu saya mengalah. Sesekali saya pernah bilang, "Mama coba fair. Jokowi kan juga banyak prestasinya. Masa' yang jeleknya aja diangkat2 terus. Setelah puluhan tahun, baru jaman Jokowi rakyat Papua bisa merasakan harga BBM sama kayak di Jawa dan daerah lain. Karena Jokowi, harga semen di Papua gak sampai 2 Juta lagi per sak."

Belum sempat Ibu saya merespon, saya berondong lagi dengan prestasi lainnya Jokowi. "Coba Mama googling. Berapa jalan tol yang udah dibangun Presiden Jokowi. Cuma 2 tahun10 bulan berkuasa, Jokowi sudah membangun jalan tol sepanjang 650 kilo meter. Panjang jalan tol yang dibangun lebih panjang dari Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto yang hanya sekitar 420 kilo meter. SBY selama 10 tahun memerintah baru 221 kilometer."

Ibu saya tak mau kalah. "Tapi tetap aja banyak PKI di belakangnya. Cina juga dimana2. Itu om kamu kerja di proyek sawit, yang pribumi om doang. Yang lainnya dari pimpinan sampai pekerja Cina semua."

Saya menjawabnya santai. Kalau soal PKI udah dibantah Ma. Ayahnya Jokowi jelas. Bukan keturunan PKI. Di partainya PDI Perjuangan juga yang ada keturunan PKI. Bukan aktivis atau kader PKI. Karena di Indonesia semua harus Pancasila ideologinya. PKI sendiri udah dibubarin.

Toh Jokowi sudah memilih KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Mama kan NU. "Iya, Mama gak permasalahin Kiai Ma'rufnya. Tapi Jokowinya," ujar Ibu saya ketus.

Soal Cina. Dari jaman dulu, keturunan Cina memang menguasai ekonomi di berbagai sektor. Mereka jago dagang. Dan kita sebagai pribumi seharusnya termotivasi untuk lebih bekerja keras. Dan soal pribumi atau pun keturunan itu semua udah selesai sejak Sumpah Pemuda. Sejak kemerdekaan diproklamasikan. Semua sama2 NKRI. Meskipun kesenjangan sosial tetap ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun